Rabu, 17 April 2013

Selamatkan Pahlawan Devisa - Habis

Berbicara kompetensi para TKI memang jauh berbeda dengan tenaga kerja negara lain. Dengan tenaga kerja Filipina saja sudah cukup berbeda. Mereka terdidik, bisa berbahasa asing dan pintar bernegosiasi. Apa yang menyebabkan mereka bisa demikian? Jawabannya, karena seleksi dan pelatihan yang serius dilakukan oleh pemerintah Filipina. Berbeda dengan para TKI kita. Mereka memiliki kompetensi yang lemah. Ini akibat banyaknya perusahaan pengerah tenaga kerja melakukan perekrutan secara asal-asalan. Sedangkan pemerintah sendiri belum menunjukkan langkah pasti untuk mencegahnya.

Cukup arif rasanya, jika pemerintah melakukan pengelolaan TKI yang menyeluruh seperti haji. Dengan manajemen pengelolaan TKI yang baik diprediksikan para TKI lebih bermartabat dan minim mendapatkan penyiksaan. Karena memiliki kompetensi dan mampu menguasai bahasa yang digunakan oleh majikannya. Hemat penulis, kekerasan yang dirasakan bisa jadi karena kurangnya kemampuan yang dikuasai atau seringnya salah memahami pesan yang disampaikan majikan akibat kurangnya kemampuan berbahasa.

Meniru Filipina

Sungguh, tak salah rasanya bila pemerintah Indonesia meniru pemerintah Filipina. Saat ada warga negaranya divonis bersalah di negeri tempat ia mendulang ‘emas’, pemerintah Filipina secara serius melakukan pembelaan. Pemerintah Filipina tak mengenal lelah, apalagi menyerah dan mengalah. Bahkan, jika vonis yang dijatuhkan sangat buruk sekali, pemerintah Filipina tak segan-segan untuk meminta pengampunan untuk warganya.

Seharusnya Kepala Pemerintahan negeri ini belajar dari Fidel Ramos, Presiden Fillipina. Ia tak ragu untuk datang ke Uni Emirat Arab (UEA) saat Sarah, warga Fillipina divonis hukuman mati oleh aparat hukum UEA karena dituduh membunuh majikannya yang kesetanan ingin memperkosanya. Di sini terlihat sekali pemerintah Fillipina ekstra keras untuk melepasnya. Dalam ranah legal, pemerintah Fillipina pasang badan dengan menyewa pengacara berkelas untuk membantu proses hukum Sarah. Di Fillipina sendiri, jutaan Fillipino berdiri membela Sarah. Aksi demo dan penggalangan opini masyarakat secara gemilang menjadikan Sarah sebagai ikon antarbangsa ke tingkat yang tidak mungkin diabaikan oleh pemerintah UEA. Hubungan kedua negara pun menjadi taruhan. Hasilnya, Sarah pun selamat dari vonis hukuman mati yang ditetapkan sebelumnya.

Keselamatan Sarah tak lepas dari keseriusan Fidel Ramos yang siap turun untuk menyelamatkan pahlawan devisanya. Lalu bagaimana dengan kepala pemerintah negeri ini? Akankah berani membela pahlawan devisanya jika mengalami vonis yang dapat menjatuhkan martabat bangsa? Ataukah hanya cukup seperti perkataan Menteri Tenaga Kerja, Muhaimin Iskandar cukup dengan memperketat pengiriman? Bukan melakukan pengawasan sejak dini yang dimulai dengan meninjau kompetensi para TKI sebelum berangkat ke negara tempat mereka bekerja.

Karena itu, peran pemerintah terhadap devisa negara tersebut harus sangat besar dan serius. Bukanlah tanggapan yang baik, bila hanya dengan menganjurkan setiap TKI memiliki handphone seperti yang disarankan Presiden SBY. Jika mereka memang berkompetensi dan memiliki kemampuan bahasa dasar negeri tempat mereka bekerja, hemat penulis, penyiksaan yang dirasakan oleh para TKI nyaris tak dirasakan lagi. Inti semuanya adalah adanya keseriusan pemerintah membantu dan menyelamatkan para pahlawan devisa, bukan sekedar menunggu hasil.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :