Senin, 20 Mei 2013

CAPUNG

Capung adalah hewan yang tidak berbahaya bagi manusia dan bukan pula seekor hama. Capung dapat kita jumpai dimana-mana, baik di lingkungan perumahan, pekarangan rumah, sawah, sungai, danau apalagi di hutan belantara.

Capung merupakan hewan predator atau pemangsa hewan lainnya seperti nyamuk, ikan-ikan kecil, dan lalat. Capung ini termasuk predator udara yang sangat rakus karena ia tidak akan berhenti makan selama persediaan makanannya masih banyak. Seorang peneliti biomekanik di Universitas Harvard yang bernama Stay Combes suatu ketika mempelajari tentang cara terbang pada capung. Saat itu ia menyaksikan di sebuah laboratorium terdapat seekor capung percobaan yang memakan lalat sekitar 30 ekor secara berkelanjutan. Benar-benar menakjubkan! Dalam waktu setengah jam, capung mampu memakan mangsanya setara dengan berat tubuhnya sendiri.

Capung meskipun dalam keadaan terbang, ia mampu menangkap mangsanya dengan tepat. Capung akan terbang dengan membentangkan kedua sayapnya yang kecil ke samping. Sayapnya itu tidak dapat dilipat ke tubuhnya. Sayap capung berbeda dengan sayap hewan lainnya. Pada saat terbang, sepasang sayap bagian depan akan berlawanan arah dengan sepasang sayap bagian belakang. Apabila sepasang sayap bagian depan mengarah ke atas maka sayap bagian belakang mengarah ke bawah. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan cara terbang yang paling baik. Capung merupakan penerbang yang kuat dengan wilayah jelajahnya yang luas. capung dapat terbang dengan sangat cepat yaitu sekitar 50km/jam. Oleh karena itu, capung mendapat julukan serangga tercepat di muka bumi. Meskipun pada saat mengudara dia terbang dengan kecepatan yang tinggi, namun dia mampu untuk berhenti terbang secara tiba-tiba tanpa terjatuh ataupun menabrak. Hal ini merupakan kemampuan terbang yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh hewan bersayap lainnya. Kemampuan manuver yang luar biasa tersebut membuat para ahli terilhami untuk menciptakan pesawat helikopter yang merupakan salah satu produk bidang teknologi di era modern saat ini. Meskipun begitu, manusia belum mampu untuk meniru cara terbang yang dimiliki oleh capung yang begitu kompleks.

Capung memiliki mata yang besar dengan ribuan lensa yang bersegi sehingga membuat ia leluasa melihat ke segala arah. Oleh karena itu, capung susah ditangkap. Para ilmuwan menyatakan bahwa mata capung merupakan mata serangga terbaik di dunia.

Capung berkembang biak dengan cara bertelur. Capung mengalami metamorfosis tidak sempurna. Proses perubahan bentuknya yaitu ketika belum lahir, capung berupa telur, setelah itu akan menetas dan berupa larva. Setelah menjadi larva, akan menjadi seekor capung yang dapat terbang dengan indah. Capung bisa bertahan hidup mulai dari telur hingga dewasa yaitu sekitar enam bulan atau paling lama sekitar enam tahun hingga tujuh tahun. Capung dan kupu-kupu merupakan jenis serangga yang disukai manusia.

Oleh : Wahyu Inayah
Referensi:
http://www.tempo.co/read/news/2013/04/02/061470781/Capung-Predator-Paling-Hebat-di-Kerajaan-Hewan
Yahya, Harun. Pesona Keajaiban Alam Semesta. Jakarta. Global Media Cipta: 2003


Related Posts :