Jumat, 10 Mei 2013

Koperasi Saat Ini

Pada masa kemerdekaan dahulu koperasi disebut-sebut oleh wakil presiden pertama RI Drs. Moehammad Hatta sebagai sebuah tempat untuk kebangkitan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Koperasi yang pada umumnya diperuntukkan untuk para petani, karena memang pada masa-masa dahulu rakyat Indonesia kebanyakan berprofesi sebagai petani. Perkembangan koperasi dapat kita lihat melalui perkembangan perundang-undangan koperasi itu sendiri.

Koperasi yang berbasiskan kepada ekonomi kerakyatan karena bertujuan untuk menyejahterakan anggota secara khusus dan masyarakat secara umum. Tentunya keberadaan koperasi diharapkan menjadi solusi bahkan menjadi wadah terpenting bagi masyarakat di pedesaan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Koperasi bukanlah suatu hal asing bagi rakyat Indonesia. Walaupun sebenarnya istilah koperasi awal dikenal di daerah barat. Namun, nilai kebersamaan yang menjadi latar belakang koperasi telah tertanam kuat dari gotong-royong yang merupakan ciri khas rakyat Indonesia.

Jika ditelusuri masyarakat barat dari dahulu telah tinggal di negara kapitalis yang mengedepankan kepemilikan modal oleh para orang kaya. Sehingga ketika terjadi revolusi industri di eropa peran kaum kapitalis semakin dominan. Karena hanya pihak-pihak inilah yang mampu menyediakan faktor produksi dan menyediakan lapangan kerja. Walaupun begitu banyak sekali moral hazard yang terjadi kepada para buruh oleh para pemilik modal. Eksploitasi pekerja yang berlebihan menyebabkan para pekerja tersebut berpikir dan bersatu untuk melawan ketidakadilan oleh para kapitalis ini. Oleh karena itu Robert Owen (1771–1858), seorang industriawan yang menganut sosialisme inggris yang menerapkannya pertama kali prinsip koperasi pada usaha pemintalan kapas di New Lanark, Skotlandia.

Gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King (1786–1865), dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris. Pada 1 Mei 1828, King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi.

Indonesia sendiri baru mengenal koperasi lebih luas pada masa awal kemerdekaan. Ciri rakyat yang gemar akan gotong-royong menjadi hal utama yang seharusnya menjadikan koperasi sebagai wadah yang paling baik untuk masyarakat Indonesia. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Awal diterapkannya koperasi dengan berbagai macam nilai dan prinsip yang mengutamakan anggota sebagai objek dan subjek dari koperasi tersebut tidak berjalan semestinya. Cacat yang terjadi pada perkoperasian di Indonesia mulai terlihat pada masa orde baru.

Pemerintah menciptakan KUD (Koperasi Unit Desa) sebagai satu-satunya koperasi yang berhak ada di pedesaan di berbagai wilayah Indonesia. KUD yang ada bertujuan sebagai media yang membantu pemerintah dalam menyalurkan bantuan pertanian kepada para petani di berbagai pelosok. Namun, dibalik itu semua terdapat kepentingan politik oleh salah satu partai sehingga mereka memiliki suara terbanyak dan memiliki posisi yang kuat di pemerintahan. Sehingga hal ini memaksa para masyarakat di pedesaan untuk mendukung partai tersebut. Jika suatu desa melakukan hal sebaliknya, maka bantuan dari pemerintah tidak akan datang lagi ke desa tersebut.

Karena adanya propaganda-propaganda yang dilakukan oleh beberapa pihak pada masa lalu mengakibatkan tercorengnya nilai baik koperasi. Sehingga masyarakat tidak percaya dan selalu berpikiran negatif akan istilah koperasi. Oleh karena itu menjadi kewajiban kita bersama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, agar masyarakat kembali yakin akan koperasi sebagai tempat bersama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bersama.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :