Rabu, 15 Mei 2013

Mengenal Karakter Dahlan Iskan



Buku : [Seandainya] Dahlan Iskan [Jadi] Presiden
Penulis : Agung Pamujo
Penerbit : Kawan Pustaka
Tahun Terbit : 2012
Halaman : Xvii + 190 halaman

Siapa yang tak mengenal Dahlan Iskan. Tokoh nasional negeri ini yang terkenal dengan gayanya yang benar-benar berbeda dari tokoh atau pejabat di negeri ini. Mulai dari tampilan berpakaiannya hingga gebrakan demi gebrakan yang dilakukannya. Di antara aksinya yang membuat publik berdecak kagum adalah, ketika Ia tidak segan naik kendaraan rakyat seperti KRL atau ojek, mau tidur di rumah rakyat, dan dikenal sebagai pejabat yang tidak “kaku” dan protokoler.

Karena begitu memesonanya Dahlan Iskan di hati khalayak hingga akhirnya terbentuk komunitas pengagum Dahlan Iskan. Malah, tak syak lagi para fansnya tersebut mengusungnya untuk menjadi presiden. Buktinya telah terbentuk grup-grup di media sosial. seperti facebook, sebagai dukungan terhadapnya. Di antara nama-nama grup tersebut, ada Dahlan Iskan for RI, Gerakan Rakyat dan Facebooker Mendukung Dahlan Iskan Menjadi Presiden.

Pertanyaan yang kerap muncul, apakah manuver atau gebrakan yang dilakukan Dahlan Iskan sebagai pencitraan atau yang dilakukannya semata-mata menunjukkan kepribadiannya? Bagaimana pula sekiranya Dahlan Iskan menjadi presiden, apakah bakal selalu melakukan tindakan ekspresif dan di luar dari kebiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan para Kepala Negara? Adalah buku bersampul merah darah yang berjudul “Seandainya Dahlan Iskan Jadi Presiden” ini menjelaskan seperti apa karakter Dahlan Iskan saat menjabat sebagai pemimpin Jawa Pos hingga menjadi tokoh Nasional dengan menjabat sebagai Menteri BUMN. Mempelajari karakter Dahlan Iskan dari orang yang pernah menjadi anak buahnya di Jawa Pos akan menjadi paham, bahwa karakter Dahlan Iskan yang tidak suka protokoler dan kaku memang sejak dulu adanya. Bukan saat menjadi tokoh nasional, namun saat menjadi pemimpin media yang terbit di Surabaya pun Dahlan Iskan memang terkenal demikian.

Agung Pamujo, penulis buku ini adalah orang yang pernah merasakan kebijakan demi kebijakan yang dilakukannya. Buku yang ditulisnya ini, boleh dikata, ulasan pengalamannya sebagai orang bawahan Dahlan Iskan. Ia pernah merasakan bagaimana ekspresi positif dan negatif yang dilakukan Dahlan Iskan.

Satu hal yang membuat kita kagum, ternyata karakter Dahlan yang suka menyupirkan orang lain tidak hanya terjadi pada Wakil Menteri BUMN, Mahmuddin Yasin. Agung Pamujo juga pernah mengalami hal yang sama. Ia disupiri Dahlan Iskan dan diajak menemaninya menemui Gubernur Jawa Timur saat itu, tepatnya tahun 1993. (hal.19)

Cerita ekspresi negatif Dahlan Iskan yang terjadi pada tanggal 20 Maret 2012 dengan membuka loket tol Semanggi yang masih tertutup dikarenakan belum datangnya petugas sedangkan antrian sudah terlalu panjang. Aksi ‘pelampiasan kesal’ yang dilakukannya dengan membuang kursi dan membuka dua loket tol tersebut bukanlah hal yang baru. Saat ia masih memimpin Jawa Pos juga pernah melakukan aksi ‘pelampiasan kesal’ yang membuat wartawan kaget, yaitu dengan memecahkan layak komputer dan membanting keyboard di ruang redaksi Jawa Pos. Peristiwa tersebut terjadi ketika ada redaktur yang terlambat dalam mengerjakaan tugasnya, padahal deadline terbitnya sudah saatnya. (hal. 87-88)

Cukup banyak kisah-kisah yang dialami, disaksikan dan didengar penulis tentang Dahlan Iskan saat masih bersama dengannya di Media Group Jawa Pos diceritakan di dalam buku ini. Kisah-Kisah tersebut dibagi ke dalam 13 judul. Yaitu, Kendaraan Dahlan, Masih Soal Kendaraan, Satpam Rapat dan Tebar Kuis, Safari ke Daerah, Penularan Virus DIS, Aksi Ekspresif, Makanan, Ruang Kerja, Seni Penunjukan, Gaya Pakaian Ala Dahlan Iskan, Belajar dari Tiongkok, Larangan Merokok dan Set..Set.. Wet.

Buku ini sangat layak dibaca oleh siapa saja. Apalagi, penulis buku ini menguraikan buku ini persis seperti cara penulisan berita. Yaitu, menggunakan kalimat-kalimat yang pendek. Hingga pembaca dengan mudah memahami informasi yang ditulis. Plus, penerbit pun menawarkan jika ada kecacatan atau kesalahan cetak pada buku untuk dikirimkan kembali dan akan diganti. Selamat membaca!

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :