Jumat, 24 Mei 2013

Peran Seorang Sarjana Pertanian

Dewasa ini, pertanian seakan semakin tidak menjanjikan. Sangat berbeda dengan tahun-tahun terdahulu di mana pertanian selalu mencapai kejayaannya. Semua orang berlomba-lomba bertani dan mengubah lahan-lahan kosong menjadi rimbunan daun dan aneka buah. Namun sekarang pertanian seakan mendekati ajalnya. Berapa banyak produk pertanian yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, berapa banyak produk pertanian yang diekspor untuk menambah devisa negara. Kuota antara ekspor dan impor seringkali tidak seimbang dan kuota impor hampir selalu melebihi batas. Apa sebenarnya yang tengah terjadi dengan Sistem Pertanian Indonesia? Di manakah para Sarjana Pertanian yang seharusnya membangkitkan semangat pertanian Negeri ini?

Di era 1970-an, sebutan Insinyur Pertanian terasa enak terdengar di telinga kita, terasa bergengsi. Pandangan publik saat itu, seorang Insinyur Pertanian adalah seorang yang cerdas, intelek, dan mampu membantu masyarakat tani memecahkan masalah atas tanaman-tanaman mereka. Memang benar, di kala itu banyak Insinyur Pertanian yang turun ke lapangan dan melakukan penyuluhan, mengajar dan mempraktekkan pola bertani yang tepat. Masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari keberadaan para Insinyur Pertanian yang bertindak sebagai Penyuluh Pertanian. Betapa Sarjana Pertanian sangat diagungkan di zaman itu.

Di era 1990-an pamor Sarjana Pertanian mulai menurun. Banyaknya jurusan-jurusan bergengsi lainnya yang dibuka oleh Universitas menyebabkan Jurusan Pertanian sepi peminat. Pada zaman Orde Baru, banyak Sarjana Pertanian yang direkrut menjadi pegawai. Hal ini menandakan bahwa seorang Sarjana Pertanian akan mendapatkan peningkatan level jika menjadi pegawai negeri.

Selain menjadi pegawai, sisi lain Sarjana Pertanian adalah menjadi peneliti dan melakukan berbagai uji coba terhadap berbagai varietas tanaman dengan menciptakan varietas-varietas baru dan juga metode penanaman yang lebih baik. Sayangnya hasil uji coba ini hanya sekedar pembuktian bahwa mereka berhasil mengembangkan ilmu dan semakin pintar. Sementara itu, para petani tetap menjadi pihak terbelakang.

Berhasilnya suatu penelitian belum tentu membuat pertanian sama berhasilnya. Ketekunan petani untuk terus giat dalam bertani sangat tergantung dari hasil panen yang memuaskan dan kesejahteraan hanya akan mereka dapatkan dari keberhasilan panen tersebut.

Coba kita bayangkan, bagaimana jadinya jika petani tak bekerja, mungkin kita tak akan makan. Mungkin memang kita bisa mengimpor beras dari Thailand, Vietnam, ataupun India. Namun apakah kita akan terus-menerus mengimpor, sementara ada begitu banyak sawah terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Beberapa kali saya mengunjungi beberapa desa di mana mayoritas masyarakatnya bertani. Beragam masalah saya dapatkan di kalangan petani tersebut. Harga pupuk yang semakin mahal, lahan yang kurang subur, hama-hama yang semakin marak, pemasaran hasil panen, ditambah lagi masih banyak petani yang menumpang di lahan milik orang lain.

Terlihat jelas bahwa upaya-upaya dari para Sarjana Pertanian belum ada. Permasalahan harga pupuk, kesuburan lahan, hama, dan sistem pemasaran adalah permasalahan yang sudah ada sejak lama ada dan seharusnya sudah dapat teratasi di zaman sekarang ini. Saya yakin para Sarjana Pertanian lebih mengerti mengenai hal itu dibanding para petani. Hal ini sudah mengindikasikan belum berartinya ilmu pertanian yang didapatkan dari pendidikan formal.

Tulisan ini tidak sekedar ungkapan atas apa yang ada di benak saya, melainkan lebih mengingatkan mengenai peran dan fungsi dari seorang Sarjana Pertanian. Mempelajari ilmu pertanian selama 4 tahun untuk sebuah gelar sajakah, lalu bekerja di perusahaan yang bonafid ataupun sebagai pegawai negeri? Sudah tergambar jelas bagaimana kondisi pertanian Negeri kita saat ini. Mari hayati peran anda sebagai seorang Sarjana Pertanian yang cerdas, intelek, dan menjadi harapan bagi para petani Indonesia untuk mengembalikan kejayaan Negeri ini seperti di masa silam dengan menjadi penyuluh pertanian yang setia dan penuh pengabdian.

Oleh : Rahel Simbolon


Related Posts :