Kamis, 02 Mei 2013

Terapi Dengan Menulis - 1

Dua peneliti dari Universitas Texas, Pennebaker dan Kiecolt-Glaser melakukan penelitian dengan objek penelitian 50 mahasiswa/i pada tahun 1988. Objek penelitian digolongkan dalam 2 kelompok yang sama-sama dapatkan tugas menulis. Kelompok pertama diminta menulis kejadian yang bersifat traumatic. Kelompok kedua ditugaskan menulis topik-topik kuliah umum. Kegiatan menulis tersebut dilakukan sehari sekali selama 6 minggu. Dan pada waktu yang telah ditetapkan dan disepakati, didapatilah hasil yang berbeda, kelompok pertama memperlihatkan tingkat emosi yang lebih baik, jarang mengalami gangguan fisik dan lebih sedikit mengunjungi klinik kesehatan Universitas apabila dibandingkan dengan kelompok 2.

Lalu pada tahun berbeda (1999), Joshua Smith dan Arthur Stone melakukan penelitian pada pasien asma dan rematik. Serupa dengan kegiatan Pennebaker dan Kiecolt-Glaser, Joshua dan Arthur juga menggolongkan pasien dalam 2 klasifikasi yang mendapatkan tugas menulis. Kelompok pertama ditugaskan menulis kejadian menekan (stress) yang mereka alami. Sedang kelompok kedua menulis topik netral (pemerintahan, makanan). Kegiatan menulis tersebut dilakukan sehari sekali selama 4 bulan. Dan pada waktu setelah 4 bulan diperoleh hasil bahwa hampir sebagian besar kelompok pertama memperlihatkan perbaikan pada fungsi parunya dan yang menderita rematik mengalami penurunan rasa sakit.

Menulis dan Kesehatan

Menulis pada hakikatnya merupakan aktivitas yang menggerakkan energi imajinatif nan mencerahkan. Aktivitas menulis tak hanya membuat sehat fisik dan mengukuhkan kekuatan jasmaniah, tetapi juga mencemerlangkan kehidupan. Menulis juga menjadi kekuatan untuk bertahan dari gempuran penyakit yang telah berakar dalam tubuh.

Dengan menulis, manusia mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat individu tersebut melatih otak kiri, otak kanan akan bebas untuk mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Singkatnya, menulis bisa menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan manusia menggunakan semua daya otak untuk memahami diri sendiri, orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.

Ada yang disebut dengan nama terapi menulis, yaitu sebuah kegiatan yang digolongkan sebagai upaya menumpahkan pikiran secara terbuka, tak berstruktur serta langsung di mana kegiatan ini sangat efektif untuk menjadi penghubung antara individu dengan pikiran dan perasaan terdalam yang dimilikinya terkait dengan peristiwa, kejadian maupun keseluruhan proses hidup individu.

Karen Baikie, seorang clinical psychologist dari University of New South Wales, menyebutkan bahwa menuliskan peristiwa-peristiwa traumatik, penuh tekanan serta peristiwa yang penuh emosi bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.

Dalam studinya, Baikie mendapatkan hasil bahwa terapi menulis bisa mengurangi kadar stres, meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, mengurangi tekanan darah, memperbaiki fungsi paru-paru, fungsi liver, mempersingkat waktu perawatan di rumah sakit, meningkatkan mood, membuat penulis merasa jauh lebih baik, serta mengurangi gejala-gejala trauma.

Menulis, sebut peneliti James Pennebaker dari Universitas Texas, bisa memperkuat sel-sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan T-lymphocytes. Pennebaker meyakini, menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan akan membantu individu yang bersangkutan untuk memahaminya. Dengan begitu akan mengurangi dampak penyebab stres ini terhadap kesehatan fisik individu tersebut.

Oleh : Alimuddin Mansu


Related Posts :