Jumat, 03 Mei 2013

Terapi Dengan Menulis - Habis

Sementara jauh-jauh hari presiden AS, John F. Kennedy sekali waktu pernah berucap, "Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya." Suatu ucapan yang tentu saja seharusnya menjadi pembelajaran kita semua-- terlebih para elit politik yang tak henti riuh menonjolkan diri. Tidak salah sedikit memiringkan pikiran, memberikan sedikit ruang bagi pikiran kita untuk sastra. Ketika telinga dan pikiran kita sedikit tersita dengan politik-politikan itu, mungkin ada sedikit waktu bagi kita untuk menemui sastra, sebagai sebuah klinik terapi mental.

Dengan sastra, yang cenderung berbicara secara individual, dari hati ke hati, dapat menjadi jembatan dialog untuk saling memahami pikiran, bahkan sedikit demi sedikit dapat memperbaiki mental-mental yang sepertinya sudah terkena virus yang paling berbahaya. Sungguh sebuah relaksasi yang mujarab jika dipikir-pikir.

Psikologis Menulis

Pada mulanya Prof. Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) menggunakan terapi hipnotis untuk mengatasi trauma psikologis. Trauma psikologis dapat kita maklumi lahir dengan ragam latar belakang, perang berkepanjangan, kehilangan orang dicintai, mimpi buruk dan lain sebagainya. Kegiatan menulis tidak pernah terpikirkan merupakan salah satu solusi untuk mengatasi trauma psikologis.

Pada satu waktu terobosan baru coba dilaksanakan. Dengan dasar meditasi pada mula pertemuan, peserta lalu digolongkan dalam kelompok yang berisi 3 orang yang tidak saling mengenal untuk satu kelompok. Melalui pendekatan biopsikospirit-sosiobudaya ternyata kelompok yang terbentuk merupakan kumpulan jawaban dari permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing anggota kelompok. Setelah kegiatan usai, Perasaan plong, lega dan penuh harapan muncul pada masing-masing peserta.

G. Wallas, seorang psikolog menyebutkan beberapa pegangan psikologis untuk menulis. Pertama, apa yang ditulis sebaiknya merefleksikan keadaan mental maupun emosi yang sedang terjadi. Kedua, deskripsikan emosi, perasaan, keinginan, kecemasan sejak terbangun di pagi hari hingga saat individu itu menulis. Apa yang tubuh rasakan? Ringan? Lelah? Berat atau berenergi?

Ketiga, tidak ada penyerang. Tidak ada hakim. Catat saja apa yang dirasakan. Tuliskan apa yang dipikirkan. Sebab ketika individu mulai menuliskan bebas tanpa takut kritik maupun serangan balik, lambat laun individu tersebut akan dapat melihat pola hidup dirinya sehari-hari. Dan lambat-laun pula ia mulai mendapatkan pemahaman beragam hal.

Pada akhirnya menulis merupakan proses introspeksi menyeluruh. Menulis adalah perjalanan menembus ruang sadar panjang dan gelap. Saya menuliskan perjalanan saya dalam diam dan dalam proses tersebut saya menemukan partikel-partikel kebenaran, kristal kecil kecil yang terasa tepat sekali untuk ukuran tangan dan pada titik kesudahan membantu saya menemukan tidak hanya bentuk atas kekalutan saya namun juga tempat di dunia ini.

Tegasnya Friedrich Schiller mengatakan menulis (sastra) adalah semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubung dengan adanya kelebihan energi yang harus disalurkan. Dengan menulis, seorang diasah kreativitas, perasaan, kepekaan dan sensitivitas kemanusiaannya, sehingga terhindar dari tindakan-tindakan yang destruktif, sempit kerdil dan picik (Darmaningtyas, 2004;81).

Oleh : Alimuddin Mansu


Related Posts :