Rabu, 12 Juni 2013

Ekowisata Berkelanjutan (2)

Masalah Pariwisata Indonesia

Keistimewaan Indonesia sebagai negara dengan berbagai macam budaya mendukung terbukanya daerah wisata baru dan belum pernah ada di daerah lainnya. Banyak wisata di Indonesia menjadi ciri khas dari daerah tersebut. Seperti lompat batu di Pulau Nias, acara ngaben di Bali, dan lainnya yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Selain wisata adat, terdapat juga wisata alam baik itu di daratan ataupun perairan. Salah satu daerah wisata yang terkenal sampai ke mancanegara adalah Bunaken yang masih terjaga keasrian batu karang dan habitat aslinya.

Keberadaan tempat wisata memberikan keuntungan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar dan juga negara melalui devisa. Namun, keuntungan yang diperoleh membawa masalah juga terhadap lingkungan. Baik itu langsung secara fisik atau melalui pergeseran norma-norma masyarakat timur. Hal ini seharusnya menjadi perhatian kita bersama.

Mungkin sudah banyak dari kita mendengar atau bahkan melihat langsung keadaan Pantai Kuta Bali. Pantai ini setiap tahunnya menjadi tempat favorit turis asing berjemur untuk mempercantik kulit mereka. Bagi mereka memiliki kulit eksotis merupakan kebanggaan tersendiri. Sekitar daerah pantai dapat kita jumpai sampah dalam jumlah yang sangat banyak. Sampah ini bisa dibuang dengan sembarangan baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Volume sampah di lima objek wisata pantai di Kabupaten Badung termasuk di Pantai Kuta, Bali, telah mencapai 14 juta kilogram yang ditangani oleh program "Bali Beach Clean Up" (BBCU) pada bulan Mei 2013 lalu.

Masalah kerusakan lingkungan di daerah wisata bukan hanya terjadi di Pantai Kuta melainkan tempat wisata lainnya seperti Danau Toba di Sumatera Utara. Jika dilihat dengan seksama sekitar Danau Toba telah banyak ditumbuhi eceng gondok di permukaan airnya. Eceng gondok sendiri muncul sebagai hama yang menyerap oksigen di dalam air sehingga hewan-hewan yang hidup di dalam air tersebut akan kekurangan oksigen dan akhirnya mati.

Selain masalah lingkungan terdapat masalah moral dan norma yang terjadi di daerah wisata. Bagi orang timur memakai pakaian ‘swim suit” layaknya orang barat sangatlah tabu. Tetapi, dengan adanya wisata mancanegara menjadikan hal ini semakin lama semakin dapat dimaklumi. Contohnya saja wisatawan asing khususnya wanita di daerah pantai memakai bikini ketika berjemur atau berenang di laut. Namun, lambat laun hal ini ditiru oleh masyarakat lokal. Oleh karena itu, di kota besar maupun di kota-kota kecil sering kita lihat wanita berpakaian mini bahkan baju yang tembus pandang yang seakan-akan memang sengaja memakai pakaian tersebut.

Dua masalah ini merupakan masalah utama akan adanya wisata. Walaupun wisata memberikan pemasukan melalui devisa yang cukup besar tetapi terdapat masalah besar di dalamnya yang jika tidak diberi perhatian dapat menjadi masalah yang sangat besar di kemudian hari. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya untuk mengatur masalah tersebut, agar wisata yang ada tetap lestari dan dapa dinikmati di kemudian hari.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :