Rabu, 31 Juli 2013

Berhati-hatilah Menggunakan Krim Pemutih Wajah

Sudah menjadi kodrat, kalau wanita itu ingin terlihat cantik. Dan salah satu bagian dari cantik itu adalah mempunyai kulit yang putih. Maka, jangan heran kalau kemudian para wanita berupaya dengan segala cara agar mempunyai kulit yang putih sempurna. Dipakailah semua jenis kosmetik yang juga berfungsi memutihkan kulitnya. Selain pencuci muka, bedak, alas bedak, sabun bahkan hand and body lotion segala.

Tetapi yang lebih menjadi perhatian utama adalah kulit muka. Asumsinya adalah kalau kulit muka terlihat putih, maka akan memberi kesan cerah terhadap tubuh secara keseluruhan. Walau kalau diperhatikan secara seksama, maka akan terlihat perbedaan cukup mencolok antara wajah yang menggunakan krim dengan tangan atau kaki yang merupakan warna kulit aslinya.

Anehnya lagi, wanita yang sudah mempunyai kulit putih juga ikut-ikutan memakai krim pemutih. Jadinya, kulit putihnya tidak terlihat alami lagi. Justru terkesan dipaksakan. Akibatnya, orang malah menilainya sebagai berlebihan.

Adapun maksud wanita memakai krim pemutih itu bermacam-macam. Ada yang memang ingin kelihatan putih. Ada juga yang ingin menutupi noda hitam pada wajahnya. Caranya pun aneka rupa. Ada yang pergi ke salon kecantikan dan melakukan “pengelupasan” kulit. Cara ini cukup cepat. Dalam waktu 2-4 minggu saja akan terlihat perubahan pada kulit muka. Walau sebelumnya dalam waktu satu minggu, kulit berubah kemerahan dan terasa panas. Tetapi hasilnya kemudian cukup memuaskan. Kulit menjadi lebih putih, bersih, kenyal, segar dan mengkilat. Tetapi biasanya hal itu memakan biaya yang cukup mahal dan perlu pengulangan setelah beberapa waktu.

Akhirnya, banyak wanita mengambil jalan pintas dengan cara mengkonsumsi krim pemutih yang dijual bebas di pasaran. Biasanya berbentuk krim siang dan krim malam beserta pelengkapnya. Krim jenis itu banyak dijual di toko kosmetik, pasar, bahkan di internet. Peminatnya sangat banyak walau produknya itu tidak mencantumkan komposisi, izin depkes apalagi sertifikat halal. Akibatnya, wanitalah yang menjadi korban karena ketidaktahuannya.

Padahal, di dalam krim pemutih itu terkandung zat kimia merkuri atau air raksa yang sebenarnya dilarang. Merkuri atau nama lainnya krim mutiara itu adalah bahan yang cukup berbahaya bagi kesehatan. Pemakaian merkuri dalam waktu lama akan membuat zat itu mengendap di bawah kulit. Apalagi jika krim itu juga mengandung zat pewarna dan zat pewangi, Zat-zat tersebut bisa menyerap sinar ultra violet. Sinar yang terserap tersebut kemudian bereaksi dengan pigmen melanin kulit. Akibatnya bisa terbentuk noda berwarna hitam atau coklat. Walau dalam reaksi kecil kulit hanya menjadi kemerahan, tetapi bila berlebihan bisa saja terjadi kanker kulit.

Bahan lain dari krim pemutih adalah hidrokuinon yang berfungsi sebagai obat. Baik merkuri maupun hidrokuinon sebenarnya harus dalam pengawasan dokter. Kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 2 persen. Tetapi kenyataannya, banyak krim pemutih yang beredar, hidrokuinonnya jauh lebih besar dari itu. Pengaruhnya memang hebat. Kulit cepat sekali menjadi putih.

Dan tentu saja hal itu berbahaya. Jika pemakaiannya dilakukan terus menerus atau dalam jangka waktu yang lama, maka kulit bisa mengalami iritasi. Sebaliknya, jika pemakaian dihentikan, maka kulit yang terlanjur rusak akan susah dikembalikan lagi. Kulit malah akan kelihatan lebih buruk dari keadaan semula.

Tentu saja hal itu sangat tidak kita inginkan, bukan? Untuk itulah berhati-hatilah memilih krim pemutih wajah. Pilihlah yang ada label kemasannya sehingga ada cara pakai, kandungan, efek samping dan kontra indikasinya. Lebih bagus lagi yang terdaftar di depkes dan ada sertifikat halalnya. Satu hal lagi, jangan cepat tergiur pada keberhasilan orang lain. Kosmetika yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk kulit kita.

Oleh : Dewi Iriani


Related Posts :