Kamis, 04 Juli 2013

Kopi Luwak , Halalkah?

“Jika ada hewan yang memakan biji-bijian, kemudian keluar dari perutnya dalam kondisi utuh, sekiranya jika ditanam dapat tumbuh, maka biji tersebut tetap suci, tapi harus dicuci bagian luarnya karena terkena najis.” (Imam An Nawawi dalam kitab “Al Majmu’ Syarh Al-Muhadzab”)

Ya, kopi luwak halalkah? Mengingat proses produksi harus melalui sistem pencernaan dalam tubuh binatang luwak dan akhirnya keluar bersama feses. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses produksi kopi luwak, Anda bisa membaca artikel berjudul ‘Kopi Luwak, Pengertian dan Proses Produksinya’ dalam blog ini. Karena dalam proses produksinya, biji kopi luwak keluar bersama kotoran binatang luwak, maka banyak orang yang merasa jijik dan enggan mengkonsumsi kopi luwak. Mereka menganggap biji kopi luwak yang keluar bersama kotoran binatang luwak telah tercampur dengan najis, yaitu feses binatang luwak. Benarkah demikian?

Lalu, mengapa ada kopi luwak yang dijual di pasaran mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI)? Nah, untuk mengetahui status kehalalan kopi luwak ini, Drs. H. Sholahuddin Al-Aiyubi, M.Si, Sekretaris Komisi Fatwa MUI dalam majalah UMMI no.05/XXV/Mei 2013/1434 H menjelaskan sebagai berikut:

Segala sesuatu yang keluar dari dubur hewan/binatang dan bercampur dengan kotorannya tidak selamanya dihukum najis pada zatnya, yang menyebabkan hal tersebut haram. Akan tetapi, sesuatu yang keluar dari dubur hewan/binatang tersebut bisa digolongkan menjadi satu dari dua hukum berikut, yaitu:

Mutanajis

Yaitu hukumnya sama dengan sesuatu yang terkena najis, akan tetapi hukumnya menjadi suci kembali setelah najis (kotoran hewan tersebut) dicuci.
Najis ‘aini

Yaitu kotoran hewan yang merupakan sisa makanan yang telah melewati proses pencernaan di lambung. Yang najis adalah zatnya, sehingga sekalipun telah dicuci hukumnya tetaplah najis.
Sesuatu yang keras seperti biji-bijian di dalam lambung tidak berhasil dicerna, sehingga keluar dalam bentuk yang utuh bersama kotoran (feses) hewan, maka hukumnya adalah mutanajis, yaitu akan menjadi suci kembali setelah dicuci hingga bersih. Demikian juga halnya yang berlaku pada biji kopi yang keluar bersama feses binatang luwak dalam kondisi utuh. Maka setelah dicuci hingga bersih, maka biji kopi tersebut menjadi suci dan halal dikonsumsi. Namun, jika biji kopi yang keluar bersama feses binatang luwak tersebut sudah rusak/pecah maka hukumnya menjadi najis ‘aini, tidak menjadi suci sekalipun telah disucikan karena zatnya najis.

Nah, atas dasar logika inilah kemudian MUI menetapkan status kehalalan kopi luwak, yaitu kehalalan yang tidak mutlak. Kopi luwak dikategorikan halal apabila memenuhi dua syarat berikut, yaitu:

Pertama: biji kopi yang keluar bersama feses binatang luwak masih utuh dan terbungkus dengan baik oleh kulit tanduknya. Biji kopi tidak retak dan tidak juga rusak.

Kedua: Ada kemungkinan biji itu akan tumbuh jika ditanam kembali.

Dua syarat di atas menjadi tolok ukur bahwa biji kopi luwak yang dihasilkan tidak ikut terfermentasi (tercerna) dalam sistem pencernaan binatang luwak. Jika biji kopi sudah retak atau belah, maka biji kopi tersebut sudah terkontaminasi dalam proses fermentasi. Sehingga hukumnya menjadi sama dengan kotoran yang najis dan haram dikonsumsi. Jika biji kopi utuh dan retak tercampur, sebaiknya segera dipisahkan dan dibuang biji yang retak. Karena yang sedikit tersebut bisa menyebabkan rusaknya status kehalalan biji kopi utuh yang lainnya.

Nah, untuk amannya, jika Anda membeli kopi luwak di pasaran pilihlah kopi luwak yang sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI.

Oleh: Neti Suriana
Sumber: majalah UMMI no.05/XXV/Mei 2013/1434 H.


Related Posts :