Kamis, 25 Juli 2013

Menyimak Modal Dasar Dalam Menulis – 2

4. Wawasan dan Pengetahuan

Untuk dapat menulis di surat kabar tidaklah membutuhkan pangkat sarjana terlebih dahulu baru menulis di surat kabar. Hal tersebut tidaklah dibutuhkan dan membuang waktu untuk dapat menjadi penulis. Menulis di surat kabar terbuka bagi siapa saja tanpa melihat latar belakang pendidikan, pangkat, jabatan dan lainnya. Karena dalam tulisan tersebut yang dilihat itu ialah nilai yang terkandung atau bobot dalam tulisan tersebut ditambahkan wawasan luas yang dipunyai si penulis dalam menuliskan suatu masalah. Hal ini tidak bisa dipatok bahwa dari tingginya pendidikan yang dimiliki seorang guru besar atau profesor ataupun doktor mempunyai bobot tulisan lebih tinggi ketimbang hanya seorang sarjana S1 atau S2. Banyak yang hanya mempunyai latar pendidikan tidak mencapai jenjang S3 mampu memetakan masalah dalam tulisannya dengan bobot yang diharapkan oleh redaktur dan menjadi titik poin bahwa wawasannya mempunyai penentu kelayakan dari luasnya pengetahuan siapa saja tanpa melihat jenjang pendidikan yang ditempuh. Sehingga ini menjadi modal yang sangat penting untuk diketahui oleh siapa saja.

5. Rajin Bertanya

Mengutip satu pepatah tua yang berbunyi “malu bertanya sesat di jalan” yang menjadi rujukan bagi kita semua akan pentingnya arti bertanya. Bertanya yang rajin kepada narasumber tentang sesuatu yang tidak dimengerti maka akan memperluas pengetahuan kita dan akan memantapkan tulisan tersebut sehingga mempunyai data yang jelas.

Seringnya malu bertanya karena beranggapan bahwa kita bodoh terhadap persoalan tertentu tapi sebaliknya dengan bertanya maka akan menampakkan bahwa kita akan banyak belajar dan mengetahui sesuatu yang belum dimengerti dan akan menambah ilmu kita dalam menulis. Sehingga buanglah anggapan di dalam diri bahwa bertanya itu menunjukkan kebodohan kita.

6. Siap Menerima Kritikan

Salah satu syarat seseorang yang ingin berhasil ialah siap menerima kritikan terhadap tulisan yang ditulis. Dengan adanya kritikan menunjukkan kita dapat melahirkan karya selanjutnya dengan mutu yang diharapkan. Kritikan sejatinya membangun sikap untuk tidak menyerah ketika karya kita mendapatkan kritikan dan jika kita tidak pernah mendapatkan kritikan terhadap karya kita maka itu menjadi sesuatu yang patut untuk dicurigai terhadap kualitas tulisan kita untuk dibaca masyarakat apakah mempunyai kualitas atau tidak.

Banyak penulis yang terkenal sekarang ini tak lepas mereka dulunya mendapatkan kritikan terhadap karya mereka. Mulai dari tata bahasa, gaya bahasanya bahkan data yang dimunculkan di dalam tulisan. Dengan belajar dari para penulis yang sudah mendapatkan kritikan dan menerimanya akan memantapkan kita untuk menjadi penulis dan menulis karya dengan kualitas yang tinggi.

7. Banyak Membaca

Tak lepas dari luasnya pengetahuan kita itu dibarengi dengan banyak membaca. Membaca bisa dengan membaca apa yang dimau baik dari buku, internet, majalah, jurnal, Koran dan juga bijak untuk membaca apa yang terjadi di lingkungan sekitar dan kondisi yang terjadi.

Membaca yang banyak merupakan modal yang perlu untuk menulis dan menjadi penulis karena tanpa membaca mustahil rasanya untuk dapat melahirkan tulisan-tulisan yang bermutu dan berkualitas.

Dengan mengetahui modal dasar yang dituliskan sejatinya itu tidaklah mutlak menjadi dasar dalam menulis dan menjadi penulis namun poin pentingnya ialah mau menulis maka akan menjadi penulis. Sehingga dari paparan modal dasar dalam menulis dapat memberikan gambaran jelas pada kita untuk tidak mudah menyerah dan terus belajar untuk menjadi penulis dengan segudang karya yang dilahirkan nantinya.

Oleh : Satria Dwi Saputro
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi:
Ali Murthado, M. Hum dan Rahmat Hidayat Nasution, Lc. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi Teori dan Praktik Menulis Karya Ilmiah. Medan: Wal Ashri Publishing. 2012.


Related Posts :