Senin, 15 Juli 2013

TRENGGILING YANG BISA MENGGULUNG

Trenggiling memiliki nama ilmiah Manis Javanica syn. Paramanis javanica merupakan binatang mamalia yang suka makan serangga seperti semut dan rayap. Binatang ini suka mencari makan di malam hari sehingga termasuk dalam binatang nocturnal (binatang yang aktif di malam hari). Di Indonesia sendiri, trenggiling dapat ditemukan di daerah hutan tropis dataran rendah di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Selain itu, penyebaran trenggiling juga dapat ditemukan di Malaysia dan Thailand.

Trenggiling biasa hidup sendiri, berpasangan maupun berkelompok di liang bawah tanah. Dia akan menggali tanah dengan cakar-cakar kakinya. Ketika liang itu muat dengan tubuhnya maka ia akan sembunyi di liang bawah tanah tersebut. Karena merasa nyaman maka ia akan tidur di sana dengan lelap. Bentuk tubuh trenggiling memanjang, dan lidahnya dapat dijulurkan hingga sepertiga panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya. Meskipun trenggiling ini berat karena pelindung tubuhnya yang berlapis-lapis seperti baju tempur, dia bisa berenang yaitu dengan cara menelan udara agar dapat mengapung di atas air. Berat trenggiling dewasa bisa mencapai sekitar 8 hingga 12 kilogram.

Trenggiling memiliki rambut seperti sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Ya, bisa dikatakan seperti baju tempur yang digunakan tentara untuk berperang. Trenggiling tidak mempunyai gigi.

Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Pada saat ia menggulung bagian yang terlihat adalah pelat keras yang berupa sisiknya dan ekornya saja. Dan, Jangan pernah coba-coba menendang trenggiling. Karena ia dapat mengebatkan ekornya, sehingga "sisik"nya dapat melukai kulit siapa saja yang mengganggunya. Kalau kulit kita terkena kibasan ekornya bisa berdarah.

Trenggiling kecil berukuran 16 cm, tapi ada juga yang besar yaitu berukuran 1,5 meter.


sumber gambar: google.com

Sekarang ini, Trenggiling terancam punah keberadaannya akibat habitatnya terganggu serta menjadi obyek perdagangan hewan liar. Oleh karena itu, Penetapan trenggiling sebagai satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar. Biasanya, para pemburu liar ini akan mengambil sisiknya untuk dijual. Selain itu, daging trenggiling pun dapat dimakan. Diperkirakan harga per kilogram sisik trenggiling dijual dengan jutaan rupiah atau bahkan puluhan juta rupiah.

Di dalam tubuh trenggiling mengandung unsur yang dapat menjaga kekebalan tubuh yang sangat baik. Berdasarkan Pakar lingkungan hidup dan kesehatan Universitas Riau (Unri) yang menyatakan bahwa sisik trenggiling mengandung zat aktif Tramadol Hcl. Zat ini merupakan partikel pengikat zat yang terdapat pada bahan psikotropika jenis sabu-sabu. Tramadol Hcl ini juga merupakan zat aktif salah satu obat analgesik yang dapat mengatasi nyeri akut maupun nyeri pasca operasi.

Oleh : Wahyu Inayah
Referensi:
www.afallafal.blogspot.com


Related Posts :