Senin, 09 Desember 2013

Barongan; produk budaya yang mulai ditinggalkan

Masyarakat Jawa, khususnya jawa tengah, barangkali tidak asing dengan istilah “Barongan”. Sebuah pertunjukan kesenian daerah yang menyerupai barongsai. Hanya saja bentuk dari barongan laiknya setan yang mengerikan. Ia pun cukup dimainkan oleh satu orang saja. Sedangkan beberapa orang yang lain menggunakan topeng khas yang juga tidak kalah menyeramkan. Kemudian mereka menari dengan kostum yang menakutkan itu keliling kampung menyusuri jalanan sambil diiringi gamelan.

Biasanya pertunjukan ini ditanggap pada momentum tertentu saja, seperti; peringatan agustusan (baca: proklamasi), dan beberapa event adat lain. Akan tetapi dengan berkembangnya teknologi informasi, sepertinya hanya sedikit kalangan masyarakat jawa tengah yang masih punya keinginan untuk melestarikan kesenian barongan ini. Terlebih masyarakat kini berasumsi bahwa kesenian barongan dianggap sebagai tradisi yang sudah kuno, kampungan, ndeso, dan tidak sesuai dengan kemajuan teknologi. Bahkan mayoritas masyarakat (terutama remaja) menggagas berbagai acara peringatan kemerdekaan dengan berbagai event yang justru mengusung tradisi dari luar negeri. Seperti; lomba boysband / girlsband, lomba dance, lomba fashion show, atau perlombaan yang dianggap trendi dan sejalan dengan kemajuan zaman.

Padahal Barongan merupakan produk budaya yang harus dilestarikan, sebagaimana produk budaya lain yang juga mempunyai nilai seni. Apalagi Indonesia sudah pernah merasakan bagaimana pahitnya ketika produk kebudayaan yang dimiliki bangsa diklaim oleh bangsa lain. Sehingga proses untuk mengembalikan citra dan harga diri bangsa yang seolah diinjak-injak itu membutuhkan perjuangan ekstra.

Dan merujuk pada peristiwa itu, seharusnya kita belajar tentang sesuatu yang penting, yakni bagaimana generasi muda mempunyai tekad dan jiwa nasionalisme dengan berperan aktif dalam melestarikan kebudayaan bangsa agar tidak punah dan diambil alih oleh bangsa lain. Terlebih dalam perkembangan teknologi dewasa ini, kaum mudalah yang justru gencar untuk mengampanyekan produk budaya bangsa lain dengan berbagai aksinya di dunia maya, seperti; merekam videonya bergangnam style lewat youtube dan bagaimana mereka sibuk mengampanyekan harlem shake di sosial media. Meskipun harus diakui pula berkat kecanggihan teknologi, kita pun harus berbangga dengan kaum muda yang juga semakin kreatif seperti goyang keep smile milik caecar yang tiba-tiba menjadi hits dan difavoritkan masyarakat Indonesia bahkan dunia belakangan ini.

Nasionalisme tidak selalu identik dengan Perang

Jika dulu bangsa Indonesia menuntut seluruh rakyatnya menunjukkan sikap bela negara dengan ikut mengangkat senjata dan berperang melawan kolonialisme, namun sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Pasalnya peperangan fisik di Indonesia telah berakhir seiring dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Ir. Soekarno. Namun peperangan yang justru kini harus disiasati adalah penjajahan gaya asing (baca: neo-kolonialisme). Yang membuat paradigma pikir masyarakat berubah seiring dengan disuntikkannya berbagai kebudayaan barat di Indonesia sebagai sebuah tren atau gaya hidup.

Tengok saja, produk budaya yang kini banyak dikenal oleh generasi penerus bangsa bukan lagi produk budaya indonesia yang serat dengan nilai-nilai moralitas. Melainkan produk budaya yang justru merusak generasi muda dengan tren yang berkembang dan dianggap sebagai bagian dari berkembangnya masyarakat berbudaya. Sebut saja, free seks, dugem, narkoba, aborsi, dan beberapa paradigma yang merusak, seperti; konsumerisme, hedonisme, hipokrit, dan seterusnya. Tentu hal ini menimbulkan keprihatinan bagi kita bersama. Dan sudah seyogyanya kita memiliki pemahaman baru tentang konsep negara-bangsa. Karena kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi?

Oleh : Mayshiza widya


Related Posts :