Rabu, 11 Desember 2013

Momok Penerbitan Self Publishing

Dewasa ini semakin banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi penulis membuat energi positif yang ditransformasikan menjadi terkontaminasi dan juga memberikan dampak buruk bagi pencitraan para penulis. Apalagi kini di berbagai toko buku sudah tidak aneh jika seorang penulis pemula melahirkan buah karya yang nangkring menjadi deretan buku dengan minat konsumen paling banyak lantaran kemahirannya untuk berjualan (baca: mempromosikan buku).

Sebenarnya sah-sah saja jika dunia perbukuan kita semakin berkembang karena banyaknya ide-ide segar yang muncul dari para penulis muda tersebut. Karena tentu saja hal itu akan menambah khasanah intelektual masyarakat Indonesia. Apalagi kita sepakat pada bunyi pepatah yang menyebutkan bahwa, “Buku adalah jendela dunia” bukanlah sebuah isapan jempol semata.

Hanya saja ada beberapa penerbitan self publishing yang nekat membuat sebuah usaha penerbitan karena berorientasi pada omset yang menggiurkan un sich. Bahkan ada yang tidak mempunyai kapasitas yang memadai untuk melakukan pengeditan, sementara penerbit tersebut membuka jasa pengeditan naskah buku. Ada yang hanya menguasai standardisasi yang dibutuhkan untuk mencetak buku, yakni desain cover saja tapi berani mempromosikan diri untuk memberikan pelatihan secara kilat bagi penulis yang ingin bukunya nangkring di toko buku besar dan berani merogoh kocek yang tidak sedikit jumlahnya.

Bahkan tidak ada lagi kualifikasi yang jelas apakah penerbitan self publishing tersebut mampu membuat karya penulis pemula yang biasa saja dalam pengertian standar, kemudian disulap menjadi karya yang mempunyai waw faktor di tangan editornya. Ironisnya, para editor di self publishing itu, meskipun tidak seluruhnya, hanya belajar menulis secara otodidak saja. Mereka hanya mengetahui teknik kepenulisan secara teoritis dari buku atau sebuah postingan di website. Sehingga bukannya memperkaya khasanah intelektual masyarakat Indonesia, terkadang justru hanya semacam menjadikan dunia perbukuan sebagai ajang untuk jual beli karya yang membuat kualitas isi tidak terlalu dianggap penting dan substansi lagi.

Parahnya, ada pula self publishing yang tidak segan menawarkan diri untuk menuliskan buku untuk orang yang memesannya, lalu mencetak buku tersebut dengan nama si pemesan. Laiknya jual beli skripsi yang menjadi momok lembaga pendidikan kita saat ini. Tentunya hal tersebut sudah melanggar kaidah dan kode etik jurnalistik. Namun tidak ada control yang berarti dari pemerintah atau sebuah lembaga yang menaungi dunia perbukuan kita agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi yang merugikan orang banyak. Meskipun untuk beberapa alasan, sepatutnya kita tetap memberikan apresiasi pada para penulis muda yang ingin menunjukkan karyanya dalam pengertian yang positif. Karena dengan begitu dunia baca tulis kita semakin berwarna dengan kehadiran mereka. Tapi menelisik banyaknya Self Publishing yang kian menjamur namun tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai lembaga penerbitan yang kompeten tentu melahirkan kekecewaan bagi beberapa pihak, khususnya bagi pecinta dunia literasi. Karena orientasi dari menerbitkan sebuah buku tidak hanya terletak pada laku tidaknya buku tersebut diluncurkan sehingga sanggup mencetak seorang penulis terkenal, melainkan seberapa besar buku-buku tersebut memberikan dampak positif bagi berkembangnya ilmu pengetahuan masyarakat.

Oleh : Mayshiza Widya


Related Posts :