Senin, 10 Februari 2014

Abadi dalam Tulisan

Adanya tulisan tentu ada yang menulis. Bagi mereka yang sudah mahir, menulis bukanlah suatu hal yang rumit karena mereka telah membiasakan diri untuk senantiasa menulis, tak ayal, hati pun menjadi terpaut pada tulisan-tulisan, sehingga imajinasi atau ide-ide untuk menulis bukan lagi dijemput melainkan akan datang sendiri.

Lain halnya dengan para penulis awam. Terkadang ada saja keraguan pada diri sendiri, hati kian bergejolak dan bertanya-tanya, “Apa yang harus saya tulis?”, “Apa saya bisa menjadi penulis?”, “Bagaimana jika tulisan saya tidak diterima?”, karena kurang percaya diri inilah sehingga pertanyaan-pertanyaan yang semakin menciutkan jiwa untuk bangkit yang keluar, alhasil imajinasi pun kian bersembunyi dan tak didapati.

Bagi mereka butuh waktu untuk melahirkan tulisan. Namun, percayalah setiap orang terlahir dalam keadaan yang sebaik-baiknya, sama-sama Allah SWT karuniakan akal dan pikiran selanjutnya kita yang memilih akan diarahkan ke mana akal dan pikiran tersebut, bukankah Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum melainkan mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri? (QS. Ar-Ra’d: 11).

Seseorang yang mahir menulis bukan tanpa perjalanan panjang yang banyak terdapat kerikil bebatuan, melainkan mereka yakin akan janji Allah SWT yang pasti benar adanya, kerja keras dan kesabaran pasti akan menghasilkan buah yang manis.

“Menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian”. Demikian sepenggal kata-kata “ajaib” yang ditulis oleh Awy Ameer Qolawun dalam bukunya yang berjudul “Catatan Cinta dari Mekkah”. Kita semua tahu dan meyakini bahwa ajal akan menjemput kelak namun, setidaknya tulisan akan mengabadikan nama kita dan akan terus terngiang dalam hati dan pikiran setiap pembacanya sampai akhir zaman. Wallahu a’lam.

Orang yang memang ingin mengenal dunia tulis-menulis seyogyanya mulai mengubah sikap dan kebiasaan agar tetap konsisten pada menulis. Banyak orang yang mengajarkan teknik-teknik jitu menjadi penulis. Seperti Rahmat Hidayat Nasution, seorang dosen yang juga aktif menulis di berbagai surat kabar maupun dunia maya dalam kuliahnya memaparkan tiga cara menjadi penulis, pertama menulis dulu, kedua menulis lagi dan ketiga menulis terus. Intinya, ya menulis!

Lain halnya dengan Helvy Tiana Rosa pendiri FLP yang kata-katanya juga terpapar dalam buku “Kang Awy”, ada tujuh teknik menjadi penulis, yaitu:

  1. Suka membaca
  2. Mencintai bahasa
  3. Menulis catatan harian
  4. Terbiasa surat-menyurat
  5. Latihan deskripsi dan imajinasi
  6. Hobi meneliti, menelaah dan berdiskusi
  7. Berani mempublikasikan dan memposting tulisan kita.

Itulah kiat-kiat menjadi penulis dari mereka yang telah mengabadikan namanya pada helaian-helaian kertas maupun dunia maya. Semoga gairah untuk menulis dalam diri kita kian mengangkasa.
Selamat menulis!

Oleh: Mursyidah Lathifah
Referensi :
-Qolawun, Awy Ameer. 2012. Catatan Cinta dari Mekkah. Jakarta: Jendela.


Related Posts :