Jumat, 28 Februari 2014

Cantik fisik atau pikiran?

Siapa wanita yang tak ingin tampil cantik dan dipuji oleh semua orang, terlebih oleh laki-laki yang kita cintai? Dan tentunya untuk menjaga agar kecantikan yang tak langgeng itu tetap melekat dan bertahan lama, dibutuhkan trik-trik jitu yang bisa menangkal berbagai problem kecantikan. Seperti; jerawat, komedo, keriput, tone wajah yang tidak rata, penuaan dini, warna kulit yang gelap, lipatan di daerah rawan (lengan, perut, leher, dan paha), bekas luka, dan sebagainya. Dan cara-cara untuk menjaga kecantikannya itu, para wanita tentu mempunyai kiblat masing-masing. Dan di sini, kita bisa klasifikasikan tipe wanita ini dalam dua kategori.

Pertama, wanita yang memandang kecantikan fisik merupakan hal utama dan krusial. Sehingga tak jarang banyak wanita tipe ini yang rela mengeluarkan banyak uang untuk tampil sempurna di hadapan pasangan dan khalayak, terlebih jika ia merupakan publik figur yang ingin dicitrakan sebagai wanita cantik. Dan tuntutan untuk tampil dengan sempurna itulah akhirnya membuat para wanita ini melakukan cara-cara instan untuk bisa terlihat cantik. Apalagi jika orang-orang yang mereka kenal pernah mencoba usaha tersebut dan berhasil dengan sukses. Misalnya dengan operasi plastik pada bagian tubuh yang ingin dirubah, suntik pemutih, sedot lemak, dan seterusnya.

Belum lagi persoalan selera fashion dan gaya hidup akan menjadikan citra cantik melekat semakin ketat dalam diri wanita tipe ini. Misalnya, gaya berbusana, tatanan rambut, pemilihan make up, pemakaian aksesoris yang menunjang kecantikannya, tas, sepatu, bahkan mobil dan handphone pun bisa akan meruntuhkan anggapan publik bahwa cantik itu sederhana. Karena tentunya tipe wanita ini akan selalu tampil glamor dan konsumtif, mereka menunjukkan gaya hidup hedonis dan seolah-olah terlihat liberal dan cerdas. Bahkan bagi beberapa wanita tipe ini, keliarannya dalam bereksplorasi terhadap gaya hidup dan penampilannya dipercaya mampu menjadi magnet yang bisa menarik perhatian lawan jenis dan publik. Sebut saja, dandanan ala selebriti yang tampil dengan pakaian minimalis agar terkesan seksi dan sensual.

Parahnya, terkadang menjadikan wanita tipe ini berpikiran ekstrim. Mereka mengira dengan berganti-ganti pasangan (kekasih atau suami) pun bisa menunjukkan kesejatian kecantikan mereka dalam memikat lawan jenis. Ada pula yang senang menonjolkan sikap genit dan menggoda agar label sebagai “penakluk” para pria disematkan dalam diri mereka. Sehingga muncul perasaan bangga dan sikap percaya diri.

Padahal segala sesuatu yang ditempatkan tidak pada porsi yang semestinya tentu akan membawa dampak yang kurang baik. Begitupun sikap wanita yang ingin disebut sebagai primadona. Tindakan ekstrimnya dalam mengeksplorasi dan berfantasi sebagai wanita cantik dengan merombak bagian tubuh dengan cara-cara yang tidak aman, tentu bisa saja justru berakibat fatal dan membahayakan diri sendiri. Namun sayangnya, banyak wanita tipe ini yang kurang kesadarannya dan kerap mengabaikan efek samping dari tindakan berbahaya yang mereka lakukan demi tampil cantik tersebut.

Kedua, kategori ini bertolak belakang dengan wanita cantik tipe pertama. Pasalnya bagi wanita ini, mereka beranggapan bahwa cantik itu sehat. Sehingga mereka berusaha untuk tetap menjaga kecantikan tubuhnya dengan tindakan alamiah, seperti; mengatur pola makan, diet, olah raga, melakukan perawatan secara intens dan membangun paradigma pikir yang positif.

Bagi mereka cantik berarti sehat fisik dan pikiran. Bahkan wanita ini cenderung mengutamakan kecerdasan intelektualnya ketimbang daya tarik fisik yang notabene tidak bisa bertahan terus menerus. Mereka berfikir bahwa cantik itu cerdas dan berprestasi, sehingga pikiran-pikiran yang brilian dalam berbagai bidang yang mereka geluti tentunya lebih menggairahkannya ketimbang kesibukan untuk berjam-jam berada di salon kecantikan untuk memermak tubuhnya agar tampil sempurna bak ratu pesta.

Meski demikian, wanita ini tentu tetap memperhatikan penampilannya. Namun dalam kadar dan porsi yang sepatutnya. Karena wanita tipe ini pun sebenarnya juga sadar betul bahwa kecantikan pikirannya tentu harus tetap dibungkus dengan apik dengan kecantikan fisik yang akan menarik lawan bicaranya untuk mendengarkan ide-idenya yang luar biasa. Dan karena mereka tidak memandang bahwa kecantikan fisik merupakan hal utama, tentunya mereka lebih siap menghadapi masa tua, tidak akan mengalami stres karena perubahan fisik akibat usia, ataupun depresi yang berlebihan ketika problem kewanitaan tersebut muncul. Terlebih bagi pria yang menyukai golongan wanita semacam ini, inner beauty tentu saja menjadi prioritas.

Tentunya menjadi tipe wanita pertama atau yang terakhir adalah sebuah pilihan. Hanya saj a sebaiknya kita bisa lebih arif dan rasional. Sehingga kecantikan yang seharusnya menjadi cermin keindahan bukan justru menghancurkan wanita dengan pola pikir yang salah kaprah dan membawa bumerang bagi dirinya sendiri.

Oleh : Mayshiza Widya


Related Posts :