Rabu, 26 Februari 2014

Euforia Boleh, Tapi Jangan Berlebih-lebihan

Apakah semua orang yang sudah berhasil mampu mempertahankan keberhasilannya? Jawabannya, belum tentu. Cukup banyak orang yang terlena dengan keberhasilannya. Padahal, apa yang dicapainya tersebut mestinya harus dipertahankan atau bahkan dikembangkan.

Karena itu, sebelum melakukan aktivitas atau kegiatan yang menggiring kesuksesan hendaklah mempersiapkan diri sejak dini bahwa bila sukses tidak perlu terlalu bergembira, karena itu adalah ‘hadiah’ dari Tuhan. Yang penting dilakukan adalah terus menjaga kesuksesan dan meningkatkannya.

Jika boleh disingkatkan, ia menjadi sebuah kata inspirasi yang berbunyi, “Untuk menjadi diri yang terbaik, harus menyiapkan diri sebaik mungkin.” Artinya, mulai sejak dini tempa diri untuk menjadi orang yang sudah siap bila meraih kesuksesan dan sudah siap juga bila mendapatkan kegagalan. Tak ada yang kekal abadi di dunia ini. Karena itu persiapan diri sejak awal menjadi tonggak awal menemukan kebahagiaan diri selama-lamanya.

Salah satu bentuk euforia yang kerap ditunjukkan oleh orang-orang sukses yang lupa diri adalah, kerap kali memuji diri sendiri ketika berhasil melakukan terobosan-terobosan spektakuler. Hingga ketika dipuji oleh orang lain menimbulkan sikap kesombongan dan merasa sok jago. Kadang-kadang, ketika kita berhasil suka sekali terlena oleh predikat-predikat yang diberikan oleh orang lain. Hingga akhirnya, kita lupa untuk mempersiapkan keberhasilan-keberhasilan yang lain, yang bisa menunjukkan bahwa kita pribadi sukses yang senantiasa menyiapkan diri.

Adalah Stephen Peer contoh yang awalnya tergolong pribadi sukses karena lupa diri akhirnya tenggelam dalam kegagalan selama-lamanya. Di dalam buku “Gitu Aja Kok Ngeluh: 50 Kisah Inspirasi yang Meneguhkan Hati” dicantumkan kisah euforia Stephen Peer yang terkenal sebagai orang yang berhasil melintasi air terjun Niagara dengan menggunakan seutas tali yang menempuh rute dari Jembatan Whirlpool menuju ke Penn Central Bridge dan kembali lagi.

Ketika itu, usia Stephen Peer sudah 47 tahun. Kalau dihitung-hitung dari masa cita-cita ingin melintasi air terjun Niagara saat usia 19 tahun, maka ia berusaha melakukan latihan selama 25 tahun. Namun kehebatannya tersebut tak berlangsung lama. Semuanya berakhir di tanggal 25 Juni 1887. Tiga hari setelah ia berhasil menunjukkan keterampilannya dengan menyeberangi air terjun Niagara, ia diberitakan di media massa terjatuh dari tali yang menopangnya dan mengirim tubuhnya ke atas batu kali berukuran besar yang menunggunya di bawah. Ia tewas seketika. Meski diberitakan ia terjatuh karena terpeleset, namun semua itu terbantahkan ketika teman-temannya ikut bersuara.

Stephen Peer sebenarnya bukan terjatuh karena terpeleset, tapi ia terjatuh karena masih terpengaruh oleh minuman keras yang diteguknya sebelum melakukan atraksi. Ia merayakan keberhasilannya mampu melintasi air terjun Niagara dengan seutas tali. Lalu ketika ia mabuk, entah kenapa ia juga ingin melintasi air terjun tersebut kembali. Akhirnya, ia lunglai karena pengaruh minuman keras hingga membuatnya terjatuh dan mati di atas batu besar.

Intinya, bila sudah berhasil, syukuri keberhasilan yang sudah diraih namun jangan sampai membuat kita lupa diri. Bahagiakanlah diri dengan yang baik, tapi jangan berlebih-lebihan. Apalagi Tuhan juga melarang hal-hal yang berlebihan. Ingatlah keberhasilan yang dicapai hanyalah ‘hadiah’ dari Tuhan. Peliharalah dengan baik keberhasilan tersebut.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :