Selasa, 25 Februari 2014

Jangan Pilih Menganggur Gara-Gara Dibayar Murah

Kenapa banyak lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran? Pertanyaan ini kerap kali didengungkan ketika menyaksikan betapa banyaknya mahasiswa yang bergembira di saat-saat wisuda, namun beberapa bulan kemudian murung karena belum memiliki pekerjaan. Berbanding terbalik dengan yang lulusan SMA. Meski tamatan SMA namun mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

Bila pertanyaan tersebut diajukan, jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Yang lulusan SMA tidak begitu memikirkan ihwal gaji yang mereka terima. Meski kecil, mereka tetap mau dan semangat bekerja. Berbeda dengan lulusan perguruan tinggi. Mereka banyak yang menjadi pengangguran lantaran mereka terlalu memilih-milih pekerjaan dan menghubung-hubungkan dengan ‘ongkos’ kuliah yang sudah dikeluarkannya. Mereka merasa, dengan status lulusan perguruan tinggi mesti dibayar dengan gaji yang besar. Padahal, bila berbicara kompetensi belum tentu dapat teruji bahwa yang lulusan perguruan tinggi lebih baik dari yang lulusan SMA.

Mestinya siapa pun dia, baik yang lulusan SMA maupun lulusan Perguruan Tinggi, paham bahwa setiap orang hebat dimulai dari bayaran terkecil. Ini adalah kata-kata inspirasi yang layak diingat. Tak ada orang bekerja langsung mendapatkan income yang besar. Semuanya berawal dari bawah, setapak demi setapak.

Dalam mencari dan menekuni pekerjaan, kita mesti belajar kepada orang-orang hebat. Belajar bagaimana mereka bisa menjadi sukses, meski awalnya mengalami beragam hambatan dan rintangan. Apa yang mereka lakukan untuk menjadi orang hebat.

Cukup banyak cerita-cerita orang hebat yang berawal dari bayaran kecil dan bahkan ada yang tidak dibayar sama sekali. Contohnya saja boys band 2PM asal korea. Mereka tidak langsung mendadak nge-hits. Selama 4 tahun berlatih nge-dance dan sering pula ‘manggung’ tanpa bayaran. Mesti tak dibayar, mereka tetap melakoninya dengan total. Kini, mereka menjadi salah satu boys band terlaris di Korea Selatan.

Demikian juga dengan cerita Leonardo da Vinci yang memiliki nama lengkap Leonardo di ser Piero da Vinci. Ia adalah pelukis dunia yang terkenal. Di antara lukisannya yang terkenal adalah lukisan Monalisa dan lukisan The Vitruvian Man, sketsa helikopter kuno.

Meski kini Leonardo da Vinci adalah pelukis terkenal, namun awalnya dia mengawali karirnya dari bawah. Di dalam buku “Gitu Aja Kok Ngeluh: 50 Kisah Inspirasi yang Meneguhkan Hidup” diceritakan, suatu hari seorang petani meminta Leonardo da Vinci melukis sebuah tameng. Leonardo pun menyanggupinya dengan melukiskan sosok naga yang sedang menyemburkan api.

Ajaibnya, lukisan tersebut sangat hidup dan bagus. Kawannya, seorang pengamat lukisan yang bernama Ser Piero menjual tameng tersebut kolektor seni yang kemudian pada akhirnya terjual ke tangan kesatria dari Milan. Setelah dibeli oleh kesatria tersebut, Ser Piero membeli tameng bergambar buah hati retak yang tertusuk oleh anak panah dari pasar setempat dan memberikannya kepada petani tersebut sebagai gantinya.

Tahukah Anda berapa upah yang diterima Leonardo da Vinci untuk melukis tameng tersebut? Ia hanya menerima bayaran 100 dukat. Padahal, tameng tersebut dijual Ser Piero kepada kesatria dari Milan sebesar 300 dukat. Selisih nilai jual tersebut, sejatinya, menunjukkan bahwa Leonardo layak mendapatkan bayaran lebih mahal disebabkan talentanya yang langka tersebut. Namun karena ia baru saja memulai karirnya maka ia tak bisa menuntut bayaran yang lebih tinggi.

Mestinya, cerita ini dibaca oleh kebanyakan lulusan perguruan tinggi. Sehingga, ketika mereka mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang murah tidak menjadi hal yang dipersoalkan. Karena bayaran murah di awal karir menjadi kesempatan bagi orang lain untuk menunggu performa terbaik yang bisa ditunjukkan. Di saat itulah, baru bisa mengembangkan diri dan memberikan totalitas yang tinggi sehingga layak mendapatkan bayaran-bayaran berikutnya yang lebih tinggi.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :