Selasa, 25 Februari 2014

Jose Rizal Manua: Menerjemahkan Kearifan Hidup Lewat Seni dan Sastra - 1

Sengseng tengtes sresep brebet!
Maka para tukang sulap mengeluarkan kertas warna-warni dari mulut dowernya
yang kebanyakan mengunyah popcorn pizza kentucky hamburger di rumah-rumah makan eropa-amerika, dan membuat jamur dari air liurnya pada kertas panjang yang menjulur bagai lidah sungai menuju jalan layang bebas hambatan,
kemudian melilit bangunan-bangunan mewah di sekitar pondok indah cinere, bumi serpong damai, pantai indah kapuk, pluit, pulo mas, sunter hijau, kelapa gading permai, dan tugu monas. Sisanya menyelinap ke mesin-mesin computer mengutak-atik bursa saham dan kredit macet,
tapi di hutan-hutan Kalimantan gergaji-gergaji raksasa, buldoser-buldoser raksasa senantiasa menggeram menumbangkan pohon-pohon dengan suara berdebam,
membangunkan satwa-satwa langka yang terus menerus tergusur tak bisa protes,
kecuali melengkingkan jeritan pilu ke udara hampa.


***

“Jakarta itu seperti sulapan.”

Sebaris kalimat terucap dari bibir sang penyair, pencipta sajak, sekaligus penerjemah hidup yang tengah mencoba bersuara lewat deretan kata dan rasa, dalam sajak humanis berjudul Sengseng Tengtes Sresep Brebet.

Namanya Jose Rizal Manua. Perawakannya nyentrik, khas seniman penyuka kebebasan dan kesederhanaan. Tubuhnya kecil, rambut gondrongnya terlihat mulai memutih di beberapa bagian, pakaiannya pun sederhana. Namun, ada satu hal yang tidak bisa diabaikan dari sosok kelahiran Padang, 14 September 1954 ini, yaitu aura intelektual yang menguar halus dari setiap bahasa verbal maupun non verbalnya. Tampak ada perpaduan yang menggugah keingintahuan di sini, keletihan berpadu dengan semangat berkarya yang luar biasa. Masyarakat sastra mengenalnya sebagai pecinta kesenian yang banyak memberikan kontribusi ide dan kreativitas, terutama dalam bidang teater. Jose sendiri mengaku telah jatuh cinta pada seni sastra dan teater, sejak pertama kali diberi kesempatan berteater di acara perayaan kemerdekaan semasa ia muda.

“Saya pribadi tertarik pada teater karena kemerdekaan dan kebebasannya. Di sana kita bisa menggali sisi-sisi manusiawi dari seorang manusia. Kita belajar kearifan, kita mengenal toleransi, kita mencoba untuk menghargai sesama. Banyak hal-hal positif yang bisa digali dari teater, banyak pembelajaran hidup yang disampaikan,” tandas lelaki yang juga merupakan pendiri teater anak-anak ternama di Indonesia, Teater Tanah Air.

Mengenai salah satu sajaknya yang berjudul Sengseng Tengtes Sresep Brebet, Jose mengaku sajak ini paling sering ia bawakan ketika diminta membaca puisi keliling di berbagai event seni dan budaya. Sengseng Tengtes Sresep Brebet sendiri, diartikan Jose sebagai lafalan mantra, layaknya Simsalabim maupun Abrakadabra. Sepenggal lafalan yang ketika diucapkan dapat secara instan mengubah suatu situasi, tak ubahnya seperti sulap.

“Ya begitulah Jakarta yang ingin saya gambarkan lewat sajak ini. Beberapa waktu kita nggak pergi ke Blok M, tahu-tahu sudah berubah. Perubahannya itu cepat sekali, seperti sulapan. Sayangnya, semua perubahan itu tidak dilakukan dengan penataan yang arif, akibatnya lingkungan rusak.” Jose memaparkan pandangannya, usai membacakan sajak Sengseng Tengtes Sresep Brebet dengan begitu apik di depan redaksi Sembilan.

Bersambung ke Bagian 2

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :