Kamis, 27 Februari 2014

Jose Rizal Manua: Menerjemahkan Kearifan Hidup Lewat Seni dan Sastra - 2

Seniman komplit. Mungkin ini adalah istilah yang tepat untuk disandingkan dengan sosok dengan aneka talenta seperti Jose. Pengalamannya di bidang teater, seni, dan sastra tidak perlu dipertanyakan lagi. Beberapa komunitas besar yang pernah ia ikuti seperti Teater Mandiri milik Putu Wijaya, serta Bengkel Teater asuhan almarhum W.S. Rendra, adalah bukti dedikasinya yang tidak main-main, dibarengi dengan kemampuan yang tidak main-main pula. Latar belakangnya sebagai sarjana lulusan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jurusan Teater tak urung semakin menumbuhkan kecintaannya pada dunia teater. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 dengan konsentrasi perfilman di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jose mengaku meraup lebih banyak lagi ilmu yang bisa ia terapkan bagi dunia seni budaya Indonesia. Ragam sumbangsihnya di dunia seni pertunjukan, terutama teater, membuktikan penerapan ilmunya yang menyeluruh.

Saat ini, selain berkonsentrasi dengan teater asuhannya, yaitu Teater Tanah Air, Jose pun turut membantu berbagai pementasan teater, baik lokal maupun internasional. Perannya bermacam-macam, mulai dari sebagai pemain, penata artistik panggung dan tata cahaya, sampai kepada peran yang sangat krusial dalam sebuah teater, sutradara.

“Saat ini saya sedang mempersiapkan pementasan Teater Tanah Air berikutnya, yang akan digelar pada 7 dan 8 Juli 2012. Pada pementasan ini, saya kembali menjadi sutradara, yang dipercaya untuk memproduksi karya Remy Sylado, berjudul Roro Jonggrang,” ungkap Jose.

Roro Jonggrang sendiri, bukan merupakan karya kolaborasi pertamanya bersama Remy Sylado. Sebelumnya, Februari kemarin, Teater Tanah Air mementaskan Sandiwara Nyanyi Timun Mas karya Remy Sylado, dengan Jose Rizal Manua sebagai sutradaranya. Pementasan ini juga melibatkan nama-nama besar di dunia teater seperti Renny Djajoesman dan Gandung Bondowoso dari Teater Koma.

Sepak terjang Jose di dunia teater memang mengagumkan. Ia bahkan memperoleh piagam tanda kehormatan dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, atas dedikasinya sebagai budayawan tanah air. Selain itu, teater-teater asuhannya juga sering memperoleh penghargaan internasional. Sebut saja penghargaan atas partisipasi Teater Tanah Air di Jenewa, Swiss, dalam rangka memperingati United Nations Universal Children’s Day. Performa mereka sebagai partisipan 9th World Festival of Children’s Theatre di Jerman pada 2006, juga membuahkan penghargaan dan menuai puja-puji dari berbagai kalangan.

Seniman yang Peduli Pendidikan

Tidak hanya menunjukkan dedikasi dalam bidang seni sastra dan teater, Jose yang juga merupakan pengajar Jurusan Teater, serta Fakultas Film dan Televisi IKJ ini pun turut menunjukkan kepeduliannya terhadap situasi pendidikan tanah air, lewat upayanya mendirikan secondhand bookstore di dalam kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM).

Ide pendirian toko buku berawal dari ketika ia bermain teater bersama almarhum Rendra di Amerika, tepatnya dalam pementasan berjudul The Ritual of Solomon’s Children, yang digelar pada 1988, dalam rangkaian kegiatan The 1st New York Festival. Mengenal broadway, ternyata juga membawanya untuk mengenal Amerika lebih jauh, terutama dari aspek seni, budaya, dan pendidikannya. Pada masa itu, ia menemukan secondhand bookstore yang berjajar rapi, hampir di setiap sudut jalanan. Kepeduliannya timbul ketika ia menyadari bahwa Indonesia belum memiliki konsep toko buku semacam ini.

“Padahal, secondhand bookstore itu berguna sekali untuk mahasiswa, pelajar, dan masyarakat secara umum, untuk mencari buku-buku yang sulit ditemukan di mana pun,” pungkasnya.

Bersambung ke Bagian 3

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :