Kamis, 27 Februari 2014

Jose Rizal Manua: Menerjemahkan Kearifan Hidup Lewat Seni dan Sastra - 3 (Habis)

Pada akhirnya, 28 April 1996, ia meresmikan secondhand bookstore-nya sendiri di komplek TIM. Koleksi buku-bukunya, pada awalnya hanya berkutat pada genre seni dan budaya. Namun sekarang, setelah hampir 16 tahun berdiri, ia mulai memasukkan ragam genre lainnya untuk dijual. Saat ini, toko buku tanpa nama ini tidak lagi hanya menjual buku-buku koleksinya semata, melainkan juga telah bekerja sama dengan beberapa penerbit sebagai supplier rutin setiap bulannya. Namun, Jose mengaku, beberapa koleksi buku masih mengandalkan kesukaannya berburu buku-buku unik di setiap daerah yang ia kunjungi.

“Di sini buku-bukunya memang banyak yang tidak akan ditemukan di tempat lain. Salah satunya adalah buku berjudul History of Java yang ditulis oleh Raffles pada abad 11. Buku langka semacam itu, kalau sudah kejual ya sudah, tidak akan bisa lagi didapat di mana-mana,” ucapnya sembari tertawa kecil.

Lewat secondhand bookstore-nya, Jose mengungkapkan keinginannya memperkenalkan sastra kepada masyarakat luas sebagai sesuatu yang tidak njelimet. Baginya, sastra itu pada hakikatnya adalah bagian dari hidup masing-masing pribadi.

“Setiap hari sebetulnya, dari anak-anak sampe dewasa, kita bergaul dengan sastra. Ketika seseorang berbicara santun kepada orang lain, ia sudah masuk wilayah sastra. Ketika seseorang mengagumi keindahan alam, itu sudah masuk wilayah puisi. Jadi sastra itu sebetulnya deket sekali dengan hidup kita, ia bukan sesuatu yang aneh apalagi asing.”

Saat redaksi Sembilan menyinggung mengenai fenomena pembajakan buku yang semakin marak terjadi di tanah air dewasa ini, Jose pun turut mengungkapkan pandangannya.

“Pembajakan itu terjadi karena faktor ekonomi, terutama terjadi di negara berkembang, ya. Karena memang kemampuan masyarakat untuk mendapatkan buku dengan harga terjangkau, sulit. Alhasil mereka memfotokopi, dan seterusnya.”

“Saya pribadi senang dengan India. Mereka mencetak buku dengan jumlah yang sangat besar, dengan harga yang sangat murah, dengan kertas yang sangat sederhana. Kita nggak pernah melakukan itu. Mereka menekankan pada esensi, bukan sekedar untung dagang atau apa, tapi lebih kepada bagaimana agar ilmu-ilmu tersebut bisa terbaca oleh semua rakyatnya. Nah, kapan Indonesia cara berpikirnya bisa seperti itu?” Jose mengakhiri pendapatnya dengan sikap bijak.

Baginya, pendidikan di zaman pendudukan Belanda masih jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan situasi saat ini. Menurutnya, kewajiban membaca karya sastra sangat tinggi pada zaman Belanda. Sebaliknya, pada masa sekarang, anak-anak bangsa dibiasakan sekedar membaca sinopsis dan melupakan esensi. Jose pun mengaku miris melihat kurikulum pendidikan sekarang, yang sudah mulai kehilangan nilai-nilai luhur kearifannya. Contoh nyatanya adalah penghilangan kurikulum budi pekerti, yang justru ia nilai akan melemahkan budaya bangsa, apalagi ketika dihadapkan dengan gempuran budaya luar yang belum tentu cocok dengan identitas bangsa Indonesia.

“Lewat pengadaan toko buku ini, saya ingin kembali menghidupkan budaya membaca karya-karya yang berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau. Salah kalau ada pemikiran bahwa buku akan mati digantikan oleh e-Book dan sejenisnya. Buku itu punya daya tariknya tersendiri. Membaca dari internet, dan membaca langsung dari buku itu daya pikatnya beda. Mari kita sebagai masyarakat terdidik, mencoba untuk kembali memahami kenikmatan membaca tersebut.”

Terima kasih atas dedikasi dan karya-karya yang luar biasa, Bung Jose Rizal Manua!

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :