Jumat, 14 Februari 2014

MEMATAHKAN PEWARISAN INGATAN
MENUJU SULAWESI TENGAH BEBAS KONFLIK - 1

Konflik antar kampung sering kali terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Konflik antar kampung merupakan aksi kolektif yang bersifat destruktif dari satu desa terhadap desa lain; desa yang dianggap musuhnya. Ada upaya atau sederhananya, pola menciptakan memori mengenai kawan dan lawan. Tindakan destruktif itu merupakan kerusuhan yang dilakukan dengan cara kekerasan (Suhartono, 2001:211). Konflik antar kampung yang terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Tengah melibatkan dua kelompok masyarakat yang masih bertetangga, seperti konflik Nunu dan Tavanjuka, Kayumalue dan Tawaeli, Kayumalue dan Taipa, dan masih banyak lagi.

Konflik merupakan indikator lemahnya pembinaan, pengawasan, dan penanaman nilai-nilai persaudaraan kepada masyarakat terutama generasi muda. Generasi muda yang diharapkan menjadi tulang punggung pembangunan daerah justru menjadi aktor sentral pemicu terjadinya konflik di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Konflik yang terjadi dipicu oleh tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial seperti mabuk-mabukan, geng motor, dan lain sebagainya. Perselisihan-perselisihan kecil yang timbul akibat tindakan-tindakan menyimpang tersebut menjadi sasaran empuk provokator untuk memprovokasi masyarakat khususnya generasi muda untuk saling serang satu sama lain.

Hal tersebut diperparah dengan kondisi psikologis generasi muda yang masih labil dan masih dalam proses mencari jati diri sehingga terkadang sangat mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Masing-masing kelompok masyarakat ini berusaha saling mensubversi pandangan lawannya. Benturan warga antara dua kampung ini, sebenarnya menarik dikaji karena konflik masa lalu menjadi sumber utama untuk melanggengkan, mewariskan dan mempertahankan konflik. Melalui penelusuran memori dan sejarah dapat ditemukan cara dan pola pewarisan konflik.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat bahwa dari 32 (tiga puluh dua) jumlah konflik sosial yang terjadi di Indonesia selama tahun 2012, 15 (lima belas) diantaranya terjadi di Sulawesi Tengah. Pada awal tahun 2013 (Januari-April), tercatat telah terjadi setidaknya 6 (enam) konflik sosial di berbagai titik di Sulawesi Tengah. Konflik yang terjadi sebagian besar berada di Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Beberapa daerah yang bertikai antara lain; Nunu-Tavanjuka, Baiya-Lambara, Pengawu-Duyu, Binangga-Beka, Binangga-Padende, dan Beka-Padende. Pemicu terjadinya konflik sosial dari data yang didapatkan oleh KontraS antara lain seperti sengketa lahan (tapal batas), ketidakpuasan terhadap penegakan hukum oleh negara, beredarnya pesan-pesan provokatif dan dendam konflik lama. Dari 15 konflik sosial yang terjadi, alat kekerasan yang sering dipakai merupakan senjata tradisional. Alat yang banyak dipakai dalam konflik sosial seperti panah, dum-dum, busur, samurai, tombak dan parang. Ada juga yang menggunakan seperti bom dan senjata api rakitan.

Jumlah konflik yang terjadi di Sulawesi Tengah tersebut bukanlah hal yang patut dibanggakan tetapi merupakan suatu masalah sosial yang memprihatinkan. Apalagi kebanyakan pemicu dan elemen masyarakat yang terlibat konflik justru berasal dari kalangan generasi muda. Bahkan ada konflik yang melibatkan anak usia sekolah (SMP dan SMU) di dalamnya. Mereka beranggapan, bahwa ada nilai plus dari lingkungan sekitar mereka apabila mereka terlibat dalam konflik tersebut. Nilai plus tersebut adalah rasa percaya diri karena dianggap sebagai anak/orang yang berani dan membela daerahnya. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan di tengah upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya generasi muda sedang marak-maraknya dicanangkan. Hal ini menjadi bukti bahwa telah terjadi degradasi nilai-nilai kepemimpinan dan norma sosial yang menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan nilai seperti yang telah dikemukakan di atas.

Konflik antar kampung sering kali terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Konflik antar kampung merupakan aksi kolektif yang bersifat destruktif dari satu desa terhadap desa lain; desa yang dianggap musuhnya. Ada upaya atau sederhananya, pola menciptakan memori mengenai kawan dan lawan. Tindakan destruktif itu merupakan kerusuhan yang dilakukan dengan cara kekerasan (Suhartono, 2001:211). Konflik antar kampung yang terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Tengah melibatkan dua kelompok masyarakat yang masih bertetangga, seperti konflik Nunu dan Tavanjuka, Kayumalue dan Tawaeli, Kayumalue dan Taipa, dan masih banyak lagi.

Konflik merupakan indikator lemahnya pembinaan, pengawasan, dan penanaman nilai-nilai persaudaraan kepada masyarakat terutama generasi muda. Generasi muda yang diharapkan menjadi tulang punggung pembangunan daerah justru menjadi aktor sentral pemicu terjadinya konflik di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Konflik yang terjadi dipicu oleh tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial seperti mabuk-mabukan, geng motor, dan lain sebagainya. Perselisihan-perselisihan kecil yang timbul akibat tindakan-tindakan menyimpang tersebut menjadi sasaran empuk provokator untuk memprovokasi masyarakat khususnya generasi muda untuk saling serang satu sama lain.

Hal tersebut diperparah dengan kondisi psikologis generasi muda yang masih labil dan masih dalam proses mencari jati diri sehingga terkadang sangat mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Masing-masing kelompok masyarakat ini berusaha saling mensubversi pandangan lawannya. Benturan warga antara dua kampung ini, sebenarnya menarik dikaji karena konflik masa lalu menjadi sumber utama untuk melanggengkan, mewariskan dan mempertahankan konflik. Melalui penelusuran memori dan sejarah dapat ditemukan cara dan pola pewarisan konflik.


Bersambung ke Bagian 2

Oleh: Jefrianto*
*(Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Angkatan 2008, Duta Sulawesi Tengah pada Indonesian Youth Conference 2012, Delegasi Sulawesi Tengah pada Indonesian Movement Conference 2013,)


Related Posts :