Senin, 17 Februari 2014

MEMATAHKAN PEWARISAN INGATAN
MENUJU SULAWESI TENGAH BEBAS KONFLIK - 2

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat bahwa dari 32 (tiga puluh dua) jumlah konflik sosial yang terjadi di Indonesia selama tahun 2012, 15 (lima belas) diantaranya terjadi di Sulawesi Tengah. Pada awal tahun 2013 (Januari-April), tercatat telah terjadi setidaknya 6 (enam) konflik sosial di berbagai titik di Sulawesi Tengah. Konflik yang terjadi sebagian besar berada di Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Beberapa daerah yang bertikai antara lain; Nunu-Tavanjuka, Baiya-Lambara, Pengawu-Duyu, Binangga-Beka, Binangga-Padende, dan Beka-Padende. Pemicu terjadinya konflik sosial dari data yang didapatkan oleh KontraS antara lain seperti sengketa lahan (tapal batas), ketidakpuasan terhadap penegakan hukum oleh negara, beredarnya pesan-pesan provokatif dan dendam konflik lama. Dari 15 konflik sosial yang terjadi, alat kekerasan yang sering dipakai merupakan senjata tradisional. Alat yang banyak dipakai dalam konflik sosial seperti panah, dum-dum, busur, samurai, tombak dan parang. Ada juga yang menggunakan seperti bom dan senjata api rakitan.

Jumlah konflik yang terjadi di Sulawesi Tengah tersebut bukanlah hal yang patut dibanggakan tetapi merupakan suatu masalah sosial yang memprihatinkan. Apalagi kebanyakan pemicu dan elemen masyarakat yang terlibat konflik justru berasal dari kalangan generasi muda. Bahkan ada konflik yang melibatkan anak usia sekolah (SMP dan SMU) di dalamnya. Mereka beranggapan, bahwa ada nilai plus dari lingkungan sekitar mereka apabila mereka terlibat dalam konflik tersebut. Nilai plus tersebut adalah rasa percaya diri karena dianggap sebagai anak/orang yang berani dan membela daerahnya. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan di tengah upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya generasi muda sedang marak-maraknya dicanangkan. Hal ini menjadi bukti bahwa telah terjadi degradasi nilai-nilai kepemimpinan dan norma sosial yang menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan nilai seperti yang telah dikemukakan di atas.

Penyebab latennya konflik yang terjadi di beberapa wilayah di Sulawesi Tengah adalah politisasi memori kolektif tentang konflik. Memori warga di masing-masing kampung merekam kembali atau mengingat kembali terhadap pengalaman masa lalu mereka dalam peristiwa yang menjadi awal penyebab konflik. Di samping pengingatan (remembering) juga terjadi pelupaan (forgetting), bahwa antara warga kampung tersebut masih terikat dalam satu hubungan kekerabatan, yakni berasal dari nenek moyang yang sama. Memori ini terus diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, sehingga setiap terjadi persoalan (walaupun persoalan kecil/sepele) di antara kampung tersebut, peristiwa lama kembali diingat-ingat yang menyebabkan konflik ini semakin berlarut-larut dan mudah disulut kembali.

Konflik antar kampung terjadi berulang-ulang karena adanya pelanggengan konflik melalui pewarisan memori dari generasi tua ke generasi muda. Pola pewarisan memori di salah satunya melalui gardu. Melalui gardu, warga bertemu dan melakukan berbagai aktivitas yang biasanya menyimpang dari kebiasaan masyarakat Kaili. Menurut Abidin Kusno, salah satu fungsi gardu yakni sebagai tempat berkumpul (kebanyakan untuk laki-laki) untuk jaga malam atau sekedar mengisi waktu luang (Kusno, 2007: 2). Fungsi gardu yang dikemukakan oleh Abidin Kusno tersebut juga dijumpai di beberapa wilayah di Sulawesi Tengah, tetapi tidak hanya berfungsi pada malam hari. Gardu hampir tidak pernah kosong, mulai dari pagi hari hingga malam, bahkan beberapa orang pemuda biasanya bermalam di gardu tersebut. Pertemuan antara generasi tua dan generasi muda terjadi mulai pada sore hari. Biasanya pada pukul 16.00 (selesai bekerja), orang tua paruh baya datang ke gardu. Ada juga yang hanya sekedar mampir sejenak di gardu ketika berangkat ke masjid untuk menunaikan Shalat Maghrib.

Puncak pertemuan antara generasi tua dan generasi muda terjadi antara pukul 20.00 hingga 23.00, pada saat ini generasi tua datang ke gardu untuk bermain dumana (domino/gaplek). Pemuda juga nimbrung menyaksikan permainan tersebut. Tidak semua dari generasi tua yang ikut bermain dumana. Mereka yang tidak ikut bermain inilah yang sering bercerita dengan para pemuda. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari pengalaman masa muda, sejarah kampung, hingga cerita-cerita di balik konflik yang terjadi di antara mereka. Memori lama dimunculkan kembali. Apalagi jika sang penutur merupakan pelaku ataupun saksi dari konflik-konflik sebelumnya. Dari sinilah memori tersebut diwariskan dari generasi tua ke generasi muda. Pola ini tampak sederhana sekali, tetapi memiliki peran yang cukup berarti. Kenyataan ini belumlah disadari oleh para penguasa di daerah ini, gardu memberikan masalah serius jika tidak difungsikan dengan baik.

Pewarisan memori juga dilakukan melalui cerita rakyat. Cerita ini menjadi inspirasi, khususnya bagi pemuda di kampung-kampung yang berkonflik untuk membela dan mempertahankan kampungnya ketika terjadi konflik dengan kampung lainnya. Cerita kepahlawanan yang tersimpan dalam cerita rakyat mengandung pesan bahwa pemuda merupakan tumpuan dalam perjuangan membela kampungnya. Memori ini terus diwariskan, sehingga tidak mengherankan bila perkelahian pemuda menjadi pemicu utama konflik antar kampung di beberapa wilayah di Sulawesi Tengah. Pewarisan memori melalui cerita rakyat umumnya dilakukan dalam sebuah keluarga, yakni dari orang tua kepada anak-anaknya.

Orang tua menceritakan memori dan pengalaman masa lalu mereka kepada anak-anaknya, termasuk cerita tentang konflik antar kampung. Apalagi jika mereka ikut terlibat atau menyaksikan peristiwa itu. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya pada saat libur (tidak bekerja) atau sebelum mereka berangkat bekerja, antara pukul 06.30 hingga pukul 08.00 atau pada saat istirahat siang antara pukul 12.00-14.00. Umumnya mereka bercerita dengan menggunakan Bahasa Kaili dan jarang dilakukan pada malam hari, penyebabnya aktivitas keluarga di malam hari pada umumnya menonton TV (Yunus, 2007:32-78).

Ketika terjadi konflik di wilayah Kota Palu biasanya sang anak bertanya, bagaimana cerita tentang peristiwa serupa yang pernah terjadi di kampungnya? Orang tua kemudian menceritakan apa yang mereka ketahui tentang konflik yang terjadi antara kampungnya dengan kampung lain.

Bersambung ke Bagian 3

Oleh: Jefrianto*
*(Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Angkatan 2008, Duta Sulawesi Tengah pada Indonesian Youth Conference 2012, Delegasi Sulawesi Tengah pada Indonesian Movement Conference 2013,)


Related Posts :