Senin, 24 Februari 2014

Mengenal Kepribadian Soekarno

Buku : Soekarno Bapak Bangsa
Penulis : Andi Setiadi
Penerbit : Palapa, Yogyakarta
Tahun Terbit : Mei, 2013
Halaman : X + 180 halaman

Sosok Bung Karno sampai saat ini masih tetap menjadi bahan pembicaraan, dari perjuangan yang telah dilakukannya hingga kontroversi filmnya yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Terlepas dari itu, pribadi bapak bangsa tersebut memang layak untuk dikaji, karena ia memiliki jiwa nasionalisme yang luar biasa.

Buku Soekarno Bapak Bangsa yang ditulis oleh Andi Setiadi ini memaparkan tentang kisah Soekarno dari masa kecilnya hingga ia wafat. Yang diceritakan bukan saja hal-hal yang berbau politik dan kenegaraan saja. Cerita kehidupan rumah tangga dan cara bermasyarakat Soekarno pun dikupas tuntas di dalam buku ini.

Misalnya saja, di masa mudanya Soekarno memang terkenal sebagai orang cerdas, gemar belajar, berdiskusi, memimpin dan menulis. Namun yang paling dikagumi H.O. S. Tjokroaminoto dari diri Soekarno adalah kegemarannya menulis. Tulisannya yang berjudul “Nasibia SI” yang dimuat pada tanggal 21 Januari 1921 di majalah Utusan Hindia membuat Tjokro dan pengurus SI lainnya terkagum-kagum. Sejak itu, Tjokro selalu mengajak Soekarno mengikuti rapat yang diadakan SI. Bahkan, ia diperbolehkan untuk menyuarakan aspirasinya dan menuangkan gagasan-gagasan cerdasnya. (hal. 39)

Tampaknya kecerdasan Soekarno tak luput dari pribadi kesehariannya memiliki beberapa hal unik. Di antaranya, kalau makan selalu cepat. Artinya, ia tak suka menghabiskan waktunya untuk makan dalam durasi yang lama. Kebiasaannya tersebut disebabkan saat masuk penjara Belanda, Soekarno dipaksa menghabiskan makanan selama 2 menit dan 1 menit minum. Kebiasaan ini ternyata terus terjadi hingga ia keluar dari tahanan. (hal. 100)

Meski banyak orang mengatakan bahwa Soekarno ‘gemar’ dengan perempuan, namun kenyataannya Soekarno tidak suka dengan hal-hal yang porno, bahkan ia sangat emosional melihat yang negatif tersebut. Peristiwa ini terjadi ketika Beliau mengunjungi Amerika. Ketika selesai makan malam, ada hiburan tarian. Amerika menyuguhkan penari bugil. Begitu menyaksikan penari berambut pirang yang erotis tersebut muncul, Bung Karno langsung pergi meninggalkan acara tersebut. Sejak itu Bung Karno tak lagi menaruh hormat kepada Amerika, karena ia merasa Amerika begitu melecehkan dirinya dan Indonesia. Di mata Bung Karno, Amerika Serikat tak memiliki harga diri. Suguhan erotis itu dianggapnya sebagai representasi kerendahan Amerika Serikat di mata dunia. (hal. 112-113)

Buku ini yang dibagi penulis menjadi enam bab ini memang menggambarkan ihwal Bung Karno dari A sampai Z. Ketika membacanya akan terasa betapa cintanya Bung Karno kepada Indonesia. Buku ini benar-benar melengkapi buku-buku yang sudah membahas tentang Bung Karno. Singkatnya, yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca melalui buku ini adalah sebagai sesama anak bangsa, kita wajib menghargai jasa-jasa pahlawan kita, salah satunya dengan mengenangnya lewat bacaan.

Saya merekomendasikan siapa saja untuk membaca buku ini, karena buku ini layak dibaca oleh segala usia. Bagi anak-anak dan remaja akan menumbuhkan semangat belajar dan mencintai negeri ini. Bagi orang yang dewasa bisa mengajarkan sosok romantis seorang suami terhadap istri, meski termasuk orang yang begitu dihormati masyarakat. Selamat membaca!

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution
Peresensi adalah Owner Bimbel Ummi Private Benhil I, Medan Tembung


Related Posts :