Senin, 10 Maret 2014

Ada Apa dengan Perfilman Indonesia? - 1

Malam itu Komplek Pemakaman Jeruk Purut tampak lengang. Tidak terlalu banyak suara yang timbul selain gesekan ranting pohon dengan batangnya akibat dicium angin. Sesosok makhluk dalam bebatan kain berwarna putih kusam, tampak sedang duduk termenung di atas sebuah makam. Ah, pocong nampaknya. Sebagai juru kunci yang sudah belasan tahun menjaga makam, saya cukup heran melihat pocong sendirian seperti itu. Tidak biasa-biasanya komplek makam sehening ini. Ke mana makhluk-makhluk berjenis lain yang biasanya tidak pernah absen menampakkan sosoknya pada jam-jam ini?

Karena penasaran, saya menghampiri pocong yang masih tergugu tanpa suara. Wajahnya ditekuk dua belas seperti orang yang rumahnya baru saja dirampok. Terganggu akan penampakan ‘tidak segar’ seperti itu, saya pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Woy cong, kemana temen-temen lu yang laen? Tumben-tumbenan ini makam sepi?” Pocong mendongak. Wajahnya nampak semakin lesu saat kemudian ia bersuara, “Sibuk maen film, Bang, sama cewek-cewek seksi depan komplek.”

***

Kelakar mengenai juru kunci dan pocong tersebut sesaat akan membuat kita mengernyitkan dahi, sebelum akhirnya tergelak miris menyadari sekelumit fakta yang ingin digambarkan di baliknya. Inikah wajah perfilman kita saat ini?

Film sebagai Media Pencerdasan Bangsa

Indonesia dikenal sebagai negara yang sarat akan produk budaya, salah satunya adalah film. Selain sebagai pengejawantahan budaya, film seharusnya berada dalam ranah refleksi masyarakat. Jika digambarkan dengan sedikit lebih kompleks, film ada sebagai konstruksi sosial kehidupan masyarakat, yang kemudian diterjemahkan secara visual lewat permainan gambar, ideologi, peran, dan dialog. Maka dari itu, bukan hal yang berlebihan jika kita, sebagai masyarakat, sebagai pengamat, berharap dapat memperoleh ‘sesuatu’ setelah menonton sebuah film. ‘Sesuatu’ di sini dapat berarti banyak: hiburan, rasa nyaman, rasa puas, terlebih lagi rasa penuh saat film yang ditonton mampu memberikan pelajaran tersendiri bagi hidup.

Perjalanan film sebagai industri memiliki sejarah tersendiri yang menarik untuk disimak. Pada era tahun 1980-an, layar lebar dipenuhi dengan film-film lokal yang kuat dari segi karakter. Kita ambil contoh, Catatan Si Boy yang pernah begitu melegenda dan melejitkan nama Onky Alexander sebagai Si Boy. Ranah film horor juga dinilai mengambil porsi cukup besar lewat karakter almarhumah Suzanna yang sangat memorable di setiap filmnya. Bahkan beberapa dialog dalam berbagai film Suzanna ternyata memiliki kemampuan untuk diingat lintas generasi.

Perfilman Indonesia sempat mengalami kemerosotan pada era tahun 1990-an, di mana layar lebar diwarnai dengan beragam film khusus dewasa yang menampilkan adegan-adegan berani dan cenderung vulgar. Saat ini lah industri Hollywood masuk dan mulai mengambil sedikit demi sedikit penonton lokal. Hingga pada awal tahun 2000-an, sineas-sineas muda Indonesia mulai kembali berperan dalam mengembalikan kejayaan perfilman Indonesia. Di era ini kita mengenal nama-nama orang muda kreatif, seperti Mira Lesmana dan Riri Riza dengan Petualangan Sherina yang tidak henti menjadi bahan perbincangan pada masa itu. Rudi Soedjarwo juga dinilai sukses mengorbitkan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, lewat film Ada Apa dengan Cinta?, serta jangan lupakan Tusuk Jelangkung yang dianggap mampu mewujudkan adegan-adegan horor yang mencekam namun tetap berkelas.

Tentu akan panjang jika kita membahas masing-masing era ini satu per satu. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, para sineas atau pembuat film memiliki tanggung jawab yang besar untuk membuat karya yang dapat dijadikan cerminan identitas bangsa di setiap masanya. Karakter yang kuat, adalah salah satu faktor yang harus dimiliki film-film berkualitas. Selain itu, akan menjadi sia-sia jika kita berbicara mengenai karakter, tanpa memikirkan refleksi seperti apa yang bisa dikembalikan kepada masyarakat setelah menonton film tersebut. Kita memahami film sebagai salah satu media yang mudah untuk dikonsumsi dan diapresiasi khalayak. Oleh karena itu, sebuah film yang baik harus mampu berperan ganda sebagai alat pencerdasan bangsa, sekaligus penyebar nilai-nilai budaya etis, dan akhlak baik yang harus diketahui masyarakat.

Bersambung ke Bagian 2
Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :