Kamis, 20 Maret 2014

Agama, Landasan Pendidikan

Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan IPTEK dunia internasional yang semakin maju menempatkan pendidikan sebagai titik penting pertumbuhan peradaban sebuah negara. Pendidikan dijadikan alat ukur untuk mengetahui seberapa “modern” kah suatu negara dalam menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih mudah dan lebih efisien. Selain itu pendidikan yang identik dengan sains dijadikan pedoman, terutama oleh negara maju sebagai penentu kebenaran yang hakiki. Hal ini memunculkan pemahaman rasionalis yang menilai suatu kebenaran akan dikatakan benar jika kebenaran tersebut dapat diterima akal dan dibuktikan dengan panca indera. Sebaliknya sesuatu yang tidak dapat dibuktikan keberadaannya secara lahiriah akan dianggap tidak ada meskipun sebenarnya ada.

Pemikiran rasionalis yang menggantungkan eksistensi segala hal hanya pada kemampuan panca indera ini telah menciptakan pemikiran-pemikiran lain yang menolak kekuatan gaib. Lebih tepatnya menolak keberadaan Tuhan. Pemikiran yang tidak percaya bahkan tidak mengenal ajaran agama Tuhan dan memisahkan agama tersebut dengan urusan yang lain. Pemikiran ini disebut dengan paham Ateis dan paham sekuler.

Secara tidak sadar, kedua paham ini telah berangsur-angsur masuk ke dalam relung utama pembangunan tanah air, yakni bidang pendidikan. Tengoklah sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Sistem pendidikan kini lebih menitik beratkan pada subjek pembelajaran non agamis, baik itu bidang sains maupun sosial. Agama dikesampingkan, dan dianggap tidak penting dalam proses pendidikan. Terbukti dengan pembagian jatah jam pelajaran untuk mata pelajaran agama yang maksimal 2 jam pelajaran saja, sedangkan subjek sains ataupun sosial memiliki lebih banyak jatah jam pelajaran. Sama halnya dengan ketetapan yang berlaku di Perguruan Tinggi, bahwa pembelajaran agama hanya memiliki kesempatan maksimal 2 sks, pembelajaran agama itupun hanya tersedia di semester awal. Hal ini mencerminkan kurangnya perhatian pemerintah penetap sistem pendidikan pada pembelajaran agama terkait pendidikan seseorang baik itu sekolah menengah maupun perguruan tinggi.

Perlu digaris bawahi, bahwa sebenarnya agama memiliki peran penting dalam pendidikan. Agama merupakan landasan terpenting pendidikan dan menjadi norma komprehensif yang melandasi tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan bertujuan sebagai media proses pembudayaan suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang bersifat pemeliharaan tetapi juga bermaksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran kemanusiaan (Ki Hajar Dewantara). Sudah seharusnya pendidikan memedomankan agama karena agama merupakan tuas pengontrol proses pendidikan.

Agama dan pendidikan memiliki keterikatan satu dengan yang lain. Pendidikan dapat disebut sebagai pendidikan ideal jika pendidikan tersebut sejalan dengan agama, dan keduanya saling melengkapi. Bukan semata-mata mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada pihak lain namun juga menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak yang baik sesuai dengan norma agama. Hal ini dilakukan agar output pendidikan yang dihasilkan nantinya akan menjadi pribadi-pribadi yang cerdas secara ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia serta bermoral . Akhlak dan moral yang didapat dari agama inilah yang menjadi penyeimbang dan penggerak seorang yang berpendidikan agar tidak out of control, dan tidak terlalu berbangga dengan apa yang telah dicapainya, karena semuanya dikembalikan kepada Tuhan pemilik agama.

Einstein menjabarkan hubungan antara pendidikan dan agama sebagai berikut, “Science without religion is lame and religion without science is blind.” Sains, dalam hal ini pendidikan yang tanpa didasari agama adalah pincang dan agama yang tidak didasari sains adalah buta. Oleh karena itu diharapkan dengan adanya kolaborasi menyeluruh antara agama dan pendidikan di Indonesia, akan menghadirkan output generasi penerus bangsa berupa cendekiawan-cendekiawan berpengetahuan internasional dengan hati yang condong kepada Tuhan dan akhlak serta moral yang sesuai dengan norma agama.

Oleh : Vierta Saraswati


Related Posts :