Rabu, 12 Maret 2014

KATNIS EVERDEEN, THE NEW FEMINIST ICON

Membaca feminitas dalam film The Hunger Games

Tahun 2012 lalu, The Hunger Games disebut-sebut sebagai salah satu film yang paling fenomenal di sepanjang tahun tersebut. Bahkan sequel-nya yang akan rilis tahun ini, serta installment ketiganya yang kabarnya akan dibagi menjadi dua bagian telah dinanti-nanti oleh para penggemarnya. Film yang di adaptasi dari novel remaja best seller karya Suzanne Collins ini, bukan hanya populer sebagai film hiburan semata namun dari kualitasnya pun di apresiasi dengan baik oleh banyak kalangan. Selain setting yang mewah dan jajaran bintang-bintang muda yang tampil cemerlang di dalamnya film ini juga mampu menggugah minat penonton melalui alur cerita yang catchy. Film ini secara apik membuat penonton terhanyut dalam emosi yang berubah-ubah dengan menyuguhkan ketegangan yang mengalir menjadi adegan dramatis yang menyentuh. Bahkan, sedikit romantisme menjadi bumbu yang membuat film ini semakin menarik.

Bukan hanya alur ceritanya saja yang membuat film ini banyak dipuji. Film yang disutradarai oleh Gary Ross ini diperkuat oleh pewatakan karakter-karakter di dalamnya yang dikemas dan ditampilkan sebaik-baiknya sesuai dengan karakter tokoh dalam novelnya. Patut diperhatikan di sini bahwa yang menjadi sentral penokohan di sini adalah figur perempuan muda bernama Katniss Everdeen di mana kisah mengenai dirinya serta perjuangan hidupnya menjadi fokus utama dalam film ini.

Karakter sang tokoh utama dalam The Hunger Games dapat dikatakan unik dan berbeda dengan tokoh utama wanita dalam film seperti film remaja yang sudah-sudah. Jika menonton film remaja dengan tokoh utama wanita, maka yang terbayang biasanya remaja dengan karakter yang polos dan cute dalam alur cerita romansa ala teenager. Hal semacam ini tak akan didapatkan dalam The Hunger Games, sebaliknya tokoh utama wanita dalam film ini digambarkan sebagai gadis remaja yang kuat secara mental dan fisik, mandiri, tomboy, dan jago memanah.

Karakter seperti ini berbanding terbalik jika menilik tokoh utama wanita dalam film lain. Twilight misalnya, karakter Bella Swan yang sama-sama tokoh utama wanita dalam film remaja dan juga sama-sama diadaptasi dari sebuah novel. Jika Katniss digambarkan kuat dan mandiri sebaliknya Bella digambarkan lemah dan bergantung pada tokoh utama laki-laki dan tentu saja Bella digambarkan lebih feminin jika dibandingkan dengan Katniss. Meski terdapat adegan action di masing-masing film, tokoh Katniss mampu bertarung dengan kekuatan sendiri yang bahkan dapat mengalahkan karakter-karakter laki-laki di dalam film sedangkan tokoh Bella harus dilindungi oleh para pria berkekuatan super dalam arena pertarungan. Bella dalam hal ini mencerminkan unsur feminitas yang biasanya dilekatkan pada perempuan dalam media seperti pada film. Di mana wanita biasanya digambarkan lemah lembut, cantik, dan emosional.

Sesungguhnya jika dicermati, tidak sedikit film yang memasang karakter wanita petarung yang kuat di dalam film seperti karakter Katniss. Namun, yang membedakan adalah jarangnya karakter-karakter tersebut dijadikan pusat dari cerita. Biasanya tokoh-tokoh wanita tersebut akan menjadi partner untuk melengkapi tokoh utama lelaki petarung yang menjadi fokus dalam film, dan pada akhirnya para wanita ini akan berada di bawah perlindungan tokoh lelaki. Lara Croft dalam film Tomb Raider adalah salah satu dari sedikit ikon wanita dalam film yang menempatkan dirinya sepenuhnya dominan seperti halnya Katniss. Namun, ada satu perbedaan mendasar antara keduanya,di mana Lara masih menjual unsur seksualitas dalam penampilannya yang seksi dan tetap tampak gemulai serta cantik meski memakai celana pendek dan mencangking pistol. Sementara Katniss, sikapnya selalu nampak canggung dalam pakaian laki-laki yang sporty and little look army.

Meski dalam beberapa kesempatan dalam film Katniss memakai gaun namun pakaian “ke lelaki-lelakian” –lah yang mencerminkan kepribadiannya. Mungkin hal ini disebabkan karakter Lara sebagai wanita dewasa yang mampu memikat lelaki melalui eksistensinya. Sehingga Lara dibuat menonjolkan seksualitas di samping kekuatannya yang menyamai karakter laki-laki. Berbeda dengan Katniss sosok remaja yang harus melakukan perjuangan bahkan dengan kekuatan fisik bersaing dengan para lelaki. Oleh karena itu, unsur-unsur pemanis yang biasanya tampak dalam peran wanita tidak perlu ditonjolkan dalam dirinya. Katniss juga tidak seperti Wonderwoman ataupun Catwoman yang memiliki kekuatan super dan berpakaian ketat-terbuka serta masih sempat berlenggak-lenggok genit saat menyerang musuhnya. Salah satu dari sedikit simbol “wanita” yang dibawa Katniss hanyalah rambutnya yang panjang meskipun hampir selalu diikat.

Tokoh Katniss dapat dikatakan telah menerobos konstruksi budaya patriarki yang mendominasi film selama ini. Penokohan karakter Katniss dalam The Hunger Games telah menggantikan posisi-posisi yang semestinya diisi oleh pemeran pria seperti yang biasanya terjadi. Salah satunya, peran Katniss dalam film yang diceritakan sebagai pengganti kepala keluarga dan pencari nafkah sepeninggal ayahnya. Peran seperti ini jelas selalu dilekatkan pada pria, kontras dengan stereotip perempuan dalam masyarakat selama ini yang ditempatkan sebagai pengurus rumah tangga dan hal ini tidak berlaku bagi Katniss. Bukan hanya itu, kemampuannya mengungguli laki-laki di sekitarnya. Bahkan jika perempuan selama ini dianggap harus dilindungi pria, maka sebaliknya tokoh Katniss di sini malah melindungi pasangan prianya yang ternyata lebih lemah dari dirinya.

Meski memiliki sifat-sifat yang biasanya melekat dalam diri lelaki, katniss tetap tidak dapat dilepaskan dari unsur keperempuanannya, seperti pada saat mencintai dan saat sifat penyayangnya muncul. Akan tetapi, tidak salah jika Katniss Everdeen layak dinobatkan sebagai ikon feminitas baru dalam media film. Namun demikian, Terakhir yang menjadi pertanyaan adalah apakah dalam film selanjutnya dari trilogi The Hunger Games ini, Katniss akan tetap dibuat menjadi karakter yang kuat dan dominan seperti film pertamanya?.

Oleh : Nindasari Wijaya


Related Posts :