Kamis, 27 Maret 2014

Komunitas Salihara: Ketika Ruang Mengembalikan Ritmenya

Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar istilah ‘ruang'? Seiring dengan berkembangnya olah karya dan kreativitas masyarakat, konsep ruang pun turut dianalogikan bak wadah dari segala bentuk kebebasan dalam berkreasi. Dewasa ini, masyarakat menangkap adanya fakta ruang publik yang semakin banyak bermunculan di kalangan masyarakat urban, entah dalam bentuk swadaya maupun sesuatu yang terlembaga.

Mengusung makna serupa dengan expanding, Komunitas Salihara muncul sebagai antitesis teori masyarakat modern yang memandang bahwa lingkup gerak akan menyempit, saat semakin banyak ruang bermunculan. Konsep ruang dipandang dari sudut yang berbeda. Semakin banyak ruang yang bermunculan sebagai wadah, maka kreativitas dan gerak seni justru akan merenggang dan meluas.

Komunitas Salihara, pada awalnya bernama Komunitas Utan Kayu, sebuah ruang bagi masyarakat budaya yang dibentuk oleh sebagian pengasuh majalah Tempo sekitar setahun setelah majalah itu dibredel pemerintah pada 1994, dan juga oleh sejumlah sastrawan, intelektual, seniman, wartawan. Komunitas Utan Kayu sendiri memrakarsai terbentuknya berbagai ruang bagi publik seni, seperti masyarakat teater, seni rupa, sastra, dan intelektual seni lainnya. Berbagai aktivitas seni diwadahi secara ‘apik’ dalam komunitas yang acap kali berpartisipasi dalam berbagai festival seni internasional ini.

Bermula dari tekad untuk memperluas sayap dan mengembangkan apa yang telah dicapai, para pendiri dan pengelola Komunitas Utan Kayu menjadi prakarsa berdirinya Komunitas Salihara di lahan yang berbeda. Serupa dengan komunitas induknya, Komunitas Salihara pun tak kalah unik dalam mengusung nuansa seni di setiap penataannya, baik dari segi arsitektur maupun setiap kegiatan yang rutin diadakan di sana.

Tidak hanya terpatok pada seni secara harfiah, konsep “merentang ruang” yang dipilih juga merupakan cerminan sosial dan budaya masyarakat urban yang direfleksikan lewat karya seni rupa dan teatrikal. Hal ini menunjukkan bahwa seniman bukan hanya penghasil gambar, gerak, tari, dan lagu, melainkan sosok yang peduli kepada situasi sosial di tengah masyarakat.

Saat ini, Komunitas Salihara terdiri dari dua bangunan utama, yakni Teater Salihara dan Galeri Salihara. Teater Salihara merupakan gedung teater model black box pertama di Indonesia. Dengan dinding kedap suara, teater ini dilengkapi ruang rias serta segala peralatan tata panggung, tata suara, dan tata cahaya modern. Bagian atap Teater Salihara juga dirancang sebagai teater terbuka. Sedangkan Galeri Salihara, direpresentasikan dengan arsitektur yang unik. Mengambil bentuk silinder dengan sedikit lingkar oval, Galeri Salihara tak urung selalu dipadati dengan karya seni rupa, grafis, maupun desain para khalayak seninya. Selain dua bangunan utama ini, Komunitas Salihara memiliki lahan khusus bagi gedung kantor, café, serta perpustakaan dan toko buku.

Secara non fisik, Komunitas Salihara terdiri dari para pengamat, penggiat, dan pelaku kesenian. Puluhan pertunjukan rutin diselenggarakan dengan mengusung tema yang berbeda-beda, namun tetap satu tujuan, yakni untuk memperkenalkan bentuk kreatif dari setiap ide pikir serta hasrat seni setiap penggiatnya.

Kreativitas adalah ide, belajar, dan perjalanan. Komunitas Salihara ada untuk menyatukan ketiganya dalam upaya-upaya yang relevan dengan keadaan masyarakat dewasa ini. Ia adalah rumah baru bagi kesenian dan pemikiran. Para pengelolanya percaya bahwa kepiawaian di bidang seni adalah investasi yang tak ternilai bagi pertumbuhan anak-anak bangsa sejak hari ini. Karena itu, tidak ada salahnya jika rutinitas harian Anda disisipi dengan wisata edukatif yang kreatif, dengan mampir ke Komunitas Salihara yang terletak di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mari bersama menggalakkan seni dan budaya bangsa lewat cara yang kreatif!

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :