Senin, 10 Maret 2014

Melestarikan Kebudayaan Dalam Negeri

“Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun, ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun…”, sepenggal lagu yang dulu sering didendangkan oleh anak-anak itu seperti ditelan bumi, hampir tak pernah didengar lagi. Cerita rekaan yang diciptakan untuk mengisahkan tentang kenakalan dan kecerdikan kancil, tokoh utama dalam dongeng “Kancil nyolong timun” yang tergambar secara apik, sederhana, namun memiliki makna filosofi yang tinggi tak lagi berlalu lalang dalam perbincangan anak-anak sehari-hari. Bahkan tak ayal anak-anak era sekarang tak lagi mengenal istilah dongeng atau cerita rakyat. Mereka telah asyik dengan dunia baru yang diperkenalkan oleh orangtuanya, seperti: play station, game online, lagu-lagu k-pop yang hits, dan film TV yang menayangkan kisah pacaran para remaja yang sebenarnya tak patut untuk menjadi teladan bagi anak-anak.

Yang lebih ironis, serial kartun favorit anak-anak pun tidak mengajarkan pendidikan sama sekali, tengok saja; sponge bob yang identik dengan bodoh dan senang bermain; tom and jerry yang gemar berkelahi; shaun the sheep dan angry bird yang hanya menampilkan tontonan dan tidak memberikan pesan moral berarti pada anak-anak. Mendadak permainan anak seperti; congklak, gubak sodor, cublak suwung, digantikan secara periodic dengan permainan halma, ular tangga, ludo, catur, dan segala macam bentuk permainan modern. Dan yang mengherankan lagi, anak-anak sekarang ini lebih senang dengan permainan orang dewasa, seperti facebook, twitter, dan beragam kesenangan yang mengajak untuk berselancar dengan internet dan menggunakan kecanggihan teknologi.

Sebenarnya hal itu bukanlah hal yang selalu mendatangkan sisi negatif, pasalnya ada banyak hal yang juga turut menyertai perkembangan teknologi dan informasi dewasa ini. Seperti kemajuan iptek, perkembangan kreativitas anak, dan juga melesatnya berbagai pengetahuan. Barangkali dunia baca tulis masyarakat memang harus berkembang, kakek moyang kita dulu bersekolah di zaman penjajahan kolonial dengan menggunakan sabak, alat tulis serupa buku untuk mencatat perihal materi pelajaran yang dianggap penting. Namun dengan melesatnya teknologi, jangankan menulis secara manual di secarik kertas dalam lembaran buku, kita bahkan tak perlu repot mencatat pelajaran sekolah, karena ada fasilitas internet yang siap kapan saja memberi informasi apapun tentang semua hal yang ingin dipelajari. Dan akhirnya kita menjadi akrab dengan google, youtube, yahoo mail, bahkan situs jejaring sosial yang membuat kita mudah berkomunikasi dengan siapapun dan di manapun, seperti; facebook, twitter, frenster, yahoo messenger, chatting, dan seterusnya.

Akan tetapi, terlepas dari semakin mudahnya akses informasi manusia terhadap berbagai konten yang ditawarkan oleh dunia maya. Kita juga harus waspada terhadap terkikisnya khasanah budaya kita sebagai bangsa yang memiliki nilai kebudayaan yang kaya. Mulai dari bahasa, adat istiadat, sampai dengan hasil karya setiap daerah yang tentunya jauh lebih berharga daripada kelatahan kita terhadap kemajuan bangsa barat. Sehingga perlu kiranya kita mengembalikan ruh kebudayaan bangsa ini dan menumbuhkan sikap bangga dan mencintai hasil dari produk budaya bangsa sendiri. Karena kalau bukan kita yang berjuang untuk mempertahankannya, lalu siapa lagi?

Oleh : Mayshiza Widya


Related Posts :