Rabu, 05 Maret 2014

Mengenal Kreativitas sebagai Perjalanan Ide dalam Keterbatasan - 1

Pernah mendengar istilah saya kreatif karena saya luka? Sepenggal kalimat sederhana yang mungkin tidak akan bisa diinterpretasikan dengan sederhana. Sulit rasanya untuk mengakui bagaimana suatu situasi yang tidak bersahabat, terkadang justru dapat menjadi kawan terbaik bagi ide.

Situasi yang tidak bersahabat di sini, juga dapat diterjemahkan sebagai keterbatasan. Suatu kondisi di mana setiap insan harus memulai segala sesuatu dari titik nolnya masing-masing, tanpa mengesampingkan kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak mereka miliki.

Setiap pribadi memiliki pencapaian hidupnya masing-masing. Ada yang merasa puas saat sudah memiliki mobil dan rumah pribadi. Ada yang merasa kebahagiaannya terpenuhi saat mampu memenuhi target bekerja 7x24 jam dalam seminggu. Ada pula yang merasa cukup saat diberi kesempatan untuk bersekolah, walau hanya berbekal seragam pinjaman dan tas selempang butut yang sudah berpeniti di sana-sini.

Lalu bagaimana saat target pencapaian hidup berbenturan dengan keterbatasan? Di sinilah kreativitas memainkan peranannya. Tidak dapat dipungkiri, situasi yang sulit dapat memaksa otak berputar lebih cepat dari biasanya. Everybody wants to survive in a crisis, it is human nature. Orang dituntut untuk kreatif serta berani melakukan inovasi, agar tidak tertinggal peradaban yang semakin dinamis.

***

Desa Wae Kajong yang terletak di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu dari sekian desa yang terdata dalam Daftar Desa Tertinggal PNPN Infrastruktur Pedesaan pada tahun 2007. Terletak di dataran tinggi pegunungan, Desa Wae Kajong memiliki suhu dingin di atas rata-rata, yang memungkinkan penduduknya menanam kopi, coklat, dan cabai sebagai salah satu penghasilan utamanya. Ditinjau dari kondisi geografis setempat, desa ini tergolong masih ‘virgin’. Banyak lahan subur yang layak olah, namun dibiarkan menyatu dengan alam oleh para penduduknya.

Memiliki potensi SDA yang melimpah ruah, tidak lantas menjadikan desa ini berkembang sebagaimana mestinya. Penduduk Desa Wae Kajong memang sebagian besar tercatat sebagai petani. Namun akibat minimnya kepemilikan lahan rata-rata dan sektor pertanian yang kurang menjanjikan, masyarakat setempat lebih banyak mengisi waktunya dengan bekerja harian seperti mengupas biji kopi, memecah kemiri, maupun mengupas kelapa. Sebagian besar pemuda bekerja ke luar desa seperti di sektor pariwisata maupun industri. Penghasilan yang diperoleh pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

Selain keterbatasan sarana pengolahan SDA, rendahnya kualitas SDM juga merupakan faktor penghambat pengembangan desa. Bekal fisik yang tangguh, rupanya tidak diimbangi dengan pendidikan yang maksimal. Rata-rata penduduk Desa Wae Kajong adalah tamatan SMP-SMA. Selain karena minimnya biaya, jarak tempuh dari satu area ke area lainnya memang cukup jauh. Desa Wae Kajong sendiri, hanya memiliki satu gedung SD dan satu gedung SMP. Satu-satunya perguruan tinggi umum terletak di Kota Ruteng, yang kira-kira dapat dicapai dalam waktu 3 sampai 4 jam dari Desa Wae Kajong.

Kondisi demikian menuntut penduduknya untuk berpikir dan bertindak kreatif demi menyesuaikan diri dengan peradaban. Sebagai rural society, masyarakat desa memang termasuk dalam kategori masyarakat tradisional atau primitif. Mereka masih memiliki ketergantungan yang tinggi dengan alam, terutama dalam hal pemanfaatan hasil alam untuk bertahan hidup.

Bersambung ke Bagian 2

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :