Kamis, 06 Maret 2014

Mengenal Kreativitas sebagai Perjalanan Ide dalam Keterbatasan - 2 (Habis)

Salah satu hasil bumi Desa Wae Kajong yang rutin dipasarkan ke kabupaten maupun kota terdekat adalah kopi. Berbicara mengenai kopi, tentunya para penggemar kopi sudah tidak asing lagi dengan brand seperti Starbucks, Coffee Bean & Tea Leaf, maupun usaha waralaba lokal seperti Bengawan Solo Coffee. Bagi kaum masyarakat urban, tradisi ngopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Puluhan kedai kopi pun kini telah menambah fungsinya, bukan hanya sebagai tempat menjual kopi, melainkan juga tempat yang menjual tradisi sosial dan gaya hidup.

Pernahkah Anda mengamati, bagaimana para barista kedai kopi tersebut mengolah setiap biji kopi sampai ready to serve? Seiring dengan berkembangnya teknologi, para pekerja kini lebih banyak memanfaatkan mesin daripada tenaga tangan. Alasannya jelas, lebih efektif dan efisien.

Bagaimana dengan penduduk Desa Wae Kajong? Sama halnya dengan ratusan kaum urban di ibu kota, kopi – bagi mereka – bukan hanya sekedar minuman di kala senggang, melainkan salah satu bentuk pengejawantahan eksistensi diri. Sekelumit gaya hidup yang kemudian menjelma menjadi tradisi sosial di tengah masyarakat. Terbatasnya teknologi memaksa mereka untuk menciptakan alat tradisional pengupas biji kopi sendiri, dengan cara kerja yang cukup sederhana. Biji kopi basah dimasukkan ke dalam alat pengupas yang terbuat dari kayu, kemudian digiling secara manual. Proses ini dilakukan secara berulang sampai biji kopi benar-benar terpisah dari kulit. Proses selanjutnya, biji kopi yang sudah bersih dijemur dan siap untuk dijual maupun diolah sendiri. Bagi para penikmat kopi, tingkat ketajaman asam yang terkandung dalam Kopi Flores mengandung suatu tantangan dan kenikmatan tersendiri. Sayangnya, akibat keterbatasan transportasi dan sarana pemasaran, masih belum banyak orang yang bisa mencicipi nikmatnya kopi yang diproses secara tradisional ini.

Bukan hanya dalam hal mengolah biji kopi, kreativitas penduduk Desa Wae Kajong juga dieksplorasi lewat alat pemecah biji kemiri yang dibuat secara manual dari kulit kayu. Selain kopi, kemiri juga merupakan salah satu hasil bumi utama di Desa Wae Kajong. Prospeknya cukup baik karena harga jualnya bagus, walaupun terkadang kurang menguntungkan karena adanya permainan rentenir.

Jika ditelusuri lebih jauh, proses kreatif di Desa Wae Kajong tidak hanya berlangsung pada para orang tua, melainkan juga pada mereka yang masih berusia dini. Sedari kecil, anak-anak telah dididik untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri, termasuk untuk mencari hal-hal yang bisa memuaskan keseharian mereka. Di Desa Wae Kajong, listrik baru masuk desa sekitar pukul 6 sore, dan akan kembali padam sekitar pukul 9 pagi keesokan harinya, begitu seterusnya. Jangankan hiburan berupa internet, pengadaan televisi pun menjadi hal yang sangat mewah bagi penduduk desa. Alhasil, mereka harus mampu berpikir kreatif dalam menciptakan hiburannya sendiri. Gasing dan mobil-mobilan yang diukir dari kayu, adalah beberapa contoh permainan tradisional yang mewarnai keseharian anak-anak Desa Wae Kajong.

Selain itu, permainan “bola kelapa” juga rutin dimainkan setiap sorenya. Pada sore hari, beberapa anak-anak Desa Wae Kajong memanjat pohon kelapa untuk mengambil beberapa buah yang masih muda. Daging buah dan sarinya diambil untuk dikonsumsi oleh keluarga, sementara kulit buah yang masih utuh digunakan untuk bermain sepak bola.

Unik, bagaimana benturan-benturan dengan dinding keterbatasan terkadang justru dapat memperkuat suatu peradaban lewat proses kreatif yang kemudian menyembul keluar. Well, keterbatasan memang tidak selayaknya membatasi, bukan?

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :