Senin, 24 Maret 2014

Musik Indonesia: Melebur atau Mengabur? - 1

Layaknya perkembangan industri lain yang sedang berkejaran, salah satu industri di Indonesia yang masih terlihat memimpin adalah industri musik. Seiring berjalannya waktu, terlihat jelas bahwa industri musik tanah air mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Ragam genre dan karakter yang mengikuti alur notasi seakan terus menerus berlomba menunjukkan kekuatannya di setiap masa yang berbeda. Indonesia punya Titik Puspa di era 1960’an, yang tidak bisa dipungkiri menjembatani titik awal berkembangnya kancah musik tanah air.

Koes Plus pernah begitu mendunia di masanya. Sebagai salah satu band yang pertama kali berdiri di Indonesia, mereka berhasil menunjukkan salah satu kekuatan yang memperkokoh keberadaan mereka sebagai musisi, yaitu karakter yang kuat. Para pecinta musik Indonesia pernah menjadi begitu kreatif, ketika pada tahun 1970’an, bermunculan ajang-ajang cipta lagu populer yang memang diadakan untuk menjadi wadah kreasi tanpa batas tersebut. Perkembangan demi perkembangan pun terus mengikuti. Berbagai inovasi baru tercipta. Puluhan bahkan ratusan penyanyi baru bermunculan. Namun, yang kemudian dipertanyakan adalah, “apakah ledakan kuantitas ini berbanding lurus dengan kualitas yang ditawarkan?”

“Musik Indonesia dulu dan sekarang itu sama sekali berbeda. Letak perbedaan terbesar adalah pada karakter yang ditampilkan. Dulu, saya tidak bisa memungkiri masing-masing pelaku industri musik berlomba-lomba untuk menampilkan karakter yang kuat satu dengan yang lainnya. Hal itu tidak saya lihat sekarang,” tutur Bens Leo, salah satu pengamat musik Indonesia beserta sejarah yang mengikutinya.

Ya, karakter.

Satu kata ini memang tampaknya sederhana, tetapi mampu merepresentasikan sesuatu yang kita sebut ‘identitas’. Dewasa ini, industri musik Indonesia sedang mengalami ledakan kuantitas yang luar biasa. Hari ini kita menemukan sepuluh musisi lahir. Keesokan paginya, saat kita terbangun, sepuluh band lain turut lahir, dan ini terjadi hampir setiap hari. Perkembangan kuantitas yang terbilang pesat dan cepat ini memang bukan merupakan sesuatu yang buruk. Jika berbicara mengenai kreativitas, maka pada dasarnya tidak ada batasan tertentu yang bisa menghalangi, bukan? Hanya saja, ledakan kuantitas ini tidak jarang disisipi dengan plagiarisme, meniru. Baik itu dari segi konsep, notasi, melodi, maupun pengemasan secara keseluruhan. Akibatnya? Identitas musik Indonesia mendadak menjadi sangat rentan dan rawan tergoyahkan oleh kelemahan karakter yang diciptakan sendiri oleh para pelakunya.

“Karakter itu salah satu hal yang paling penting bagi seorang musisi. Saat belum menemukan karakternya, maka ia rawan meniru,” tambah Bens.

Ditinjau dari perkembangannya, Indonesia pernah memiliki musisi-musisi yang sangat kental akan karakter. Sebut saja Iwan Fals, yang berjaya semenjak ia mengikuti kontes lagu humor di Universitas Trisakti. Saat semua peserta menciptakan lagu-lagu dengan nuansa humor, Iwan malahan hadir dengan mengusung lagu-lagu bertemakan kritik sosial bagi pemerintah. Keberaniannya bersuara lewat lirik dan nada memang mengejutkan. Walaupun pada ajang tersebut ia tidak berhasil menjadi pemenang, tetapi inovasi bermusiknya dalam sekejap meluas dan menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Setelah kemudian Iwan Fals berhasil masuk label rekaman, lagu-lagu ciptaannya pun tak ayal rutin memenuhi dinding dengar para penikmat musik di masanya. Penyanyi dengan karakter kuat seperti ini memang rawan ditiru. Semenjak Iwan Fals booming dengan berbagai lagu bertemakan kritik sosialnya, pada tahun 1990’an, band Slank turut mengikuti jejak Iwan Fals. Mengusung lagu-lagu bertemakan serupa, Slank hadir membawa kesegaran yang berbeda bagi para penikmat musik.

“Band besar seperti Slank pun pernah meniru. Istilahnya, copy the master. Bedanya, pada saat membawakan lagu-lagu bertemakan serupa, Slank mengusung karakternya sendiri yang kemudian ketika didengar kita tidak akan bilang, ‘wah dia niru Iwan Fals’. Kenapa? Karena mereka juga punya karakter bermusiknya sendiri yang sama kuatnya,” ungkap Bens kemudian.

Sejalan dengan pernyataan Bens ini, muncul satu pertanyaan besar lainnya. Lalu sesungguhnya, apakah yang terjadi dengan musik Indonesia saat ini? Apakah mereka melebur, atau justru mengabur?

Bersambung ke Bagian 2

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :