Selasa, 25 Maret 2014

Musik Indonesia: Melebur atau Mengabur? - 2 (Habis)

Bila kita melihat Indonesia, salah satu negara konsumen terbesar di dunia ini memperlihatkan bahwa keragaman konsumen mencerminkan adanya ragam selera. Jurang yang terlalu besar dalam tingkat pendidikan menyebabkan para pelaku industri musik sulit mencari kesamaan antara ragam selera tersebut, sehingga mereka lalu memilih untuk menyesuaikan dengan yang “terlampau pintar” atau yang terbelakang. Faktanya, besarnya konsumen di level terbelakang mengisyaratkan adanya pemasukan yang lebih besar pula, bila para pelaku musik tanah air mau mengikuti level hidup mereka.

Semenjak fenomena RBT meledak pada tahun 2005, para produsen musik memang terkesan asal-asalan dalam melahirkan musisi-musisinya. Ibaratnya, yang penting laku dijual, ya jual saja. Sudah hampir tidak ada kepedulian lagi terhadap musik yang seharusnya mengedukasi, di luar posisi utamanya untuk menghibur. Telinga masyarakat Indonesia kini sudah mulai dibiasakan untuk mendengar musik-musik yang ala kadarnya. Menciptakan musik ‘yang penting laku’, melakukan peniruan, bahkan tidak adanya pola pikir mendalam saat menyusun lirik, kini sudah menjadi fenomena yang biasa saja di negara kita. Saat Kangen Band hadir mengusung konsep musik melayu, tiba-tiba beberapa bulan kemudian puluhan band newbie lainnya mengusung konsep serupa. Masyarakat Indonesia dibuat jengah untuk jangka waktu tertentu, sebelum akhirnya fenomena K-Pop menggantikan ragam musik melayu yang biasa memenuhi ruang dengar mereka.

Berkembangnya fenomena ini, tidak bisa dipungkiri berkaitan erat dengan pola pikir ekonomi para pembuatnya. Sejalan dengan prinsip ekonomi, yaitu meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya, para produsen musik berlomba-lomba menciptakan musisi-musisi baru yang tidak perlu dibayar mahal untuk produksi, baik dari segi produksi lagu, harga kontrak, dan lain sebagainya. Label-label besar seperti Nagaswara sekalipun, kini memilih untuk berada di jalur ‘aman’. Nama-nama musisi berkualitas seperti White Shoes and The Couples Company, Seringai, Mocca, dan Hollywood Nobody pun harus rela berproduksi di jalur indie karena sudah tidak kebagian tempat di jalur major. Slank sepertinya paham benar akan beratnya tuntutan profesi yang harus dijalani ketika sebuah band atau penyanyi telah memasrahkan dirinya di jalur major. Harus berproduksi sesuai selera pasar, kreativitas dibatasi oleh dinding bernama materi, dan juga kehilangan karakter. Risiko-risiko inilah yang dihindari oleh Slank ketika mereka memutuskan bermain indie semenjak 1997.

Bercermin pada fakta-fakta ini, tidak salah jika muncul pernyataan bahwa musik Indonesia lambat laun mulai mengabur, seiring dengan keinginan mereka untuk melebur. Karakter yang kurang kuat, serta kurangnya keinginan produsen musik untuk memproduksi musik-musik yang berkualitas bagi pendengarnya, seringkali menjadi batu sandungan terbesar untuk mengembalikan identitas musik Indonesia yang sesungguhnya. Identitas muncul lewat karakter. Karakter sendiri tidak bisa ditampilkan dalam waktu yang instan. Butuh proses yang tidak sebentar, dan selama pelaku musik tanah air enggan untuk berproses, maka selama itu pulalah musik Indonesia akan berada pada titik stagnannya.

Oleh: Maria Miracellia


Related Posts :