Kamis, 13 Maret 2014

Pedoman Bertransaksi Secara Islami



Buku : Hukum Kontrak Bernuansa Islam
Penulis : Prof. Dr. Ahmadi Miru, S.H., M. H
Penerbit : PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta
Tahun Terbit : 2012
Halaman : Xvi + 173 halaman
Peresensi : Rahmat Hidayat Nasution

Dewasa ini, sudah banyak orang yang melakukan transaksi secara online. Namun apakah kita sudah mengetahui bahwa transaksi yang dilakukan telah memenuhi hukum kontrak dalam Islam atau tidak? Bila sudah masuk, seperti apakah prosesnya dan buktinya memenuhi kriteria hukum kontrak dalam Islam?

Adalah buku Hukum Kontrak Bernuansa Islam yang ditulis oleh Prof. Dr. Ahmadi Miru, SH., MH menjelaskan dengan detail proses kontrak dalam Islam. Adapun jawaban dari pertanyaan di atas ternyata telah memenuhi kriteria kontrak dalam Islam. Sehingga proses jual-beli online adalah proses jual beli yang halal, meski tidak dilakukan dengan proses akad yang dilakukan dengan proses jabat tangan.

Proses sahnya kontrak diklaim demikian, karena memenuhi kriteria lahirnya kontrak. Yaitu dari sisi syaratnya sahnya kontrak dan unsur-unsur kontrak. Penulis buku ini menjelaskan bahwa syarat sahnya kontrak yang diatur dalam pasal 1320 BW ada empat. Yaitu, kesepakatan, kecakapan, objek Kontrak dan sebab kehalalan produk. (hal. 25)

Selain syarat sahnya kontrak, praktek kontrak di atas juga memenuhi unsur-unsur kontrak. Pertama, unsur esensialia. Yaitu, adanya kesepakatan dalam hal harga dan barang yang dijual belikan. Kedua, unsur naturalia. Yaitu, apabila terjadi kecacatan selama barang sampai di tangan pembeli maka yang menanggungnya adalah penjual. Ketiga, unsur aksidentalia. Yaitu, adanya ikatan janji antara pembeli dan penjual terhadap tunggakan pembayaran. (hal. 50-51)

Buku ini dibagi oleh penulis ke dalam tujuh bab. Yaitu, istilah dan asas hukum kontrak, para pihak dalam kontrak, lahirnya kontrak, pelaksanaan kontrak, berakhir atau hapusnya kontrak, kontrak jual beli dan penyelesaian sengketa di luar pengadilan.

Sungguh, buku ini juga membahas hukum kontrak yang terjadi secara umum di tengah-tengah masyarakat. Misalnya saja jual beli angsuran atau kredit yang banyak dijumpai prakteknya. Penulis di dalam buku ini menjelaskan perbedaan antara sewa beli dan jual beli angsuran. Meski kelihatan sama, namun pada dasarnya antara kedua kontrak tersebut terdapat perbedaan yang sangat berarti.

Di antaranya, kalau jual beli angsuran pada dasarnya hak milik sudah beralih pada saat barang yang menjadi obyek jual beli diserahkan kepada pembeli. Sedangkan pada perjanjian sewa beli, hak milik baru beralih pada saat pembayaran angsuran telah lunas. (hal. 150)

Meski ada perbedaan, dalam praktiknya keduanya hampir sama karena para pelaku usaha membuat klausul yang menyebabkan pembeli tidak diberi kebebasan untuk mengalihkan barang yang dibeli secara angsuran atau disewa sebelum barang tersebut belum dibayar lunas.

Sungguh, buku ini dengan buku hukum kontrak yang sudah beredar terlihat hampir sama, hanya saja yang membedakannya terletak pada buku ini dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan syariah. Sehingga, bertransaksi dengan berpedoman yang dipaparkan buku ini akan membawa sahnya transaksi pada hukum kontrak yang diatur undang-undang yang berlaku di negeri ini dan sahnya transaksi menurut syariah. Artinya, transaksi yang dilakukan benar-benar halalan thayyiban.

Buku ini layak dimiliki oleh siapa saja. Tidak hanya mahasiswa, tetapi juga praktisi hukum bahkan masyarakat umum, baik muslim maupun non muslim. Karena transaksi syariah bukanlah transaksi yang dilakukan oleh kalangan muslim saja, tetapi juga terbuka bagi masyarakat yang beragama lain. Selamat Membaca!

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution


Related Posts :