Rabu, 28 Mei 2014

Cinta Sejati Aristoteles

Jika dunia ini indah tentu semua itu dikarenakan perasaan cinta yang memberikannya arti. Karena dalam cinta tidak pernah ada kata “sempurna”, dan justru dari ketidaksempurnaan tersebut terdapat keharuman dari semerbak cinta yang sejati. Sebuah pergumulan rasa yang kompleks dan tidak bisa diurai satu persatu laiknya benang kusut. Ia saling kait mengait di antara satu perasaan dengan perasaan yang lain, kasih sayang, posesifitas, ketergantungan akan loyalitas, kesetiaan, kerelaan untuk memberi, dan banyak lagi perasaan yang lain.

Bahkan dari rahim cinta itulah manusia yang berasal dari tanah liat mendapatkan bentuknya secara utuh. Dan kecintaan Tuhan kepada makhluknya menjadikan manusia menjadi bagian dari ciptaannya yang paling sempurna. Tentu saja hal itu dilandasi oleh perasaan cinta yang demikian besar dari Kemahacintaan Tuhan akan kemakhlukan manusia.

Di sisi lain, cinta pun telah melahirkan banyak kisah yang dirangkum dalam berbagai latar belakang. Menyajikan sekuel-sekuel yang romantis dengan sudut pandangnya masing-masing dan pendalaman cerita yang juga menyentuh. Kisah Romeo dan Juliet, Laela-Majnun, Narsisus-Peri Eko, Adam-Hawa, dan kisah lain yang kerap dijadikan inspirasi untuk menelusupkan cinta dalam benak setiap manusia.

Karena cinta secara universal pun tidak hanya melibatkan perasaan personal diantara dua anak manusia yang berlawanan jenis kelamin. Karena cinta nyatanya membawa pesan moral yang tinggi, yakni cinta kasih kepada sesama dan perdamaian seluruh umat manusia. Sehingga banyak pula yang berspekulasi bahwa kisah cinta di setiap generasi harus tetap dibangun untuk melanggengkan perasaan cinta kepada sesama.

Tak ayal berbagai kisah dari satu generasi ke generasi berikutnya selalu menghadirkan angin perubahan dan memberikan penyejukan ruh ke dalam hati penikmatnya. Sebut saja, kisah yang belakangan hangat diblow up di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Yakni dirilisnya judul film terbaru Faozan Rizal yang mengisahkan tentang kisah cinta seorang mantan politisi Habibie sebagai perwujudan cintanya yang mendalam kepada almarhumah istrinya. Film berjudul Habibie Ainun yang ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop tanah air ini memang mengundang banyak decak kagum karena ceritanya yang mengharu biru.

Di lain hal, cinta pun digambarkan dengan wajahnya yang menakutkan dalam beberapa kasus pelecehan seksual yang terjadi di berbagai daerah, seperti; Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menghilangkan nyawa orang yang dicintai. Cinta pun dilukiskan dengan sangat mengerikan ketika mencuat kabar tentang tingginya angka aborsi pada remaja usia produktif yang melakukan hubungan seksual pra nikah di Indonesia.

Dan tentu saja hal itu menjadikan cinta sebagai bagian dari alat legitimasi untuk memperoleh hak-hak yang tidak seharusnya didapatkan. Karena cinta yang merusak bukanlah perasaan cinta yang sesungguhnya, melainkan nafsu seksual yang tidak sehat dan disalurkan dengan cara yang salah dan waktu yang tidak tepat. Oleh karena itu, cinta perlu mendapatkan porsi yang seimbang agar tidak selalu menjadi alasan bagi kekerasan yang berkembang di masyarakat. Apalagi tingkat kriminalitas yang terjadi dewasa ini sangat mengganggu.

Perlu Belajar Pada Aristoteles

Kisah tentang Aristoteles yang mencari cinta sejati tentu bukan lagi sekelumit kisah perjalanan anak manusia yang merindukan pengalaman batin untuk menjumpai perasaan cinta yang sesungguhnya. Ia bertanya kepada gurunya tentang bagaimana cara yang harus ia lakukan agar bisa memperoleh perasaan cinta sejati tersebut. Dan dari saran sang guru itulah ia memahami bahwa hidup ini serat dengan warna-warna cinta, sehingga perasaan yang endap dalam dada tidak harus didapatkan dari perjalanan ke ujung dunia hanya untuk meyakinkan hati bahwa itulah perasaan cinta yang sedang dicari.

Bahkan sang guru pun hanya meminta Aristoteles untuk melakukan hal sederhana. Ia diminta pergi ke taman di pusat kota, lalu memetik setangkai bunga yang tercantik yang ia jumpai tanpa harus kembali ke belakang. Dan setelah berada diantara deretan bunga-bunga indah tersebut Aristoteles justru tidak bisa menemukan bunga yang benar-benar ia inginkan. Sehingga ia kembali menghadap gurunya dengan tangan hampa.

Dan sebelum sang guru bertanya, ia telah mencoba memberikan penjelasan singkat tentang apa yang sedang terjadi sehingga aristoteles tidak membawa setangkai bunga pun di tangannya. Sebenarnya ia telah menemukan setangkai bunga yang ia anggap sebagai yang tercantik. Namun ia urung untuk memetiknya. Hal ini dikarenakan ia takut jika di hadapannya nanti ia akan bertemu dengan bunga yang jauh lebih indah. Sehingga bunga yang dipetiknya itu bukan merupakan bunga yang terindah yang diminta oleh sang guru. Namun sayangnya, ketika ia terus melaju ke depan ia tak jua menemukan bunga yang lebih indah dari bunga pertama yang ia kagumi. Akan tetapi, ia teringat kalau ia tidak boleh kembali ke belakang untuk mengambilnya, sehingga ia memilih untuk pulang tanpa membawa hasil apapun.

Dari sekelumit cerita di atas, ternyata kita bisa menarik sebuah benang merah bahwa cinta sejati itu bukan perasaan cinta yang menuntut kesempurnaan dari orang yang dicintai. Karena justru dari kecacatan itulah yang menjadikan kita menjadi bagian berarti darinya, kita melengkapi ketidaksempurnaannya dengan kelebihan yang dimiliki. Sayangnya, pesan moral ini tidak pernah sampai pada pasangan yang melabuhkan hati mereka secara utuh di dermaga cinta. sehingga cinta seolah mainan yang menarik dan mempunyai daya pikat yang hanya bersifat temporal. Jarak waktu yang mengikatnya hanya sekejap, lalu buyar dan lenyap bersama datangnya perasaan cinta yang baru, yang dianggap sejati namun justru sekedar ilusi.

Dan ketika pengalaman pencarian cinta sejati oleh Aristoteles ini dijadikan pijakan bagi seluruh umat manusia untuk mencintai pasangan, tentunya tidak akan ada tindakan-tindakan bodoh yang mencelakakan pasangan atas nama cinta. karena harus diakui bahwa justru orang yang terdekatlah yang paling berpotensi untuk menyakiti atau melukai. Sehingga hubungan dan pola cinta yang tidak sehat membawa implikasi yang besar bagi para korbannya, seperti stres, depresi, gila, bahkan kehilangan nyawa.

Dengan kata lain, tidak ada yang salah dalam cinta ketika seorang pemuda tampan menikahi gadis cacat yang tidak mungkin sembuh dari penyakitnya, tidak ada yang salah dengan gadis yang menikahi duda beranak tiga, atau tentang cinta beda status sosial. Karena cinta pada hakikatnya adalah rahmat bagi manusia. Ia anugerah dan kenikmatan yang diterima harus disyukuri sebagai bagian dari rasa terima kasih atas pemberian Tuhan. Oleh karena itu, mari belajar mencintai dengan ketulusan dan tanpa pamrih, sehingga cinta bisa kita cecap dengan kelegitan rasa yang jauh lebih menggairahkan ketimbang sebelumnya.

Oleh : Mayshiza widya


Related Posts :