Senin, 30 Juni 2014

Beberapa Generalisasi Stimulus Pemasar Kepada Konsumen

Produsen membutuhkan pemasaran agar produknya dapat dikenal oleh konsumen. Berbagai iklan yang disebar di media cetak dan media digital diupayakan agar masyarakat kenal, paham dan mengingat produk maupun produsennya. Konsumen yang membeli dan menggunakan produk tersebut setelah melihat iklan tadi secara berulang-ulang dan meyakini produk tersebut, maka konsumen tersebut telah melakukan proses belajar. Proses belajar ini terjadi bukan saja karena pengulangan stimulus yang berkali-kali, namun juga karena kemampuan konsumen dalam melakukan generalisasi stimulus yang diterimanya. Beberapa jenis generalisasi stimulus ini adalah sebagai berikut:

  • Perluasan Lini produk (Product Line Extension)

    Prinsip ini diterapkan oleh perusahaan dengan menambahkan produk baru yang sejenis dengan merek yang sudah terkenal. Produsen mengharapkan konsumen membuat asosiasi terhadap produk barunya dengan produk lama yang sudah terkenal. Produk baru ini akan mudah diterima jika konsumen tahu bahwa produk tersebut menggunakan merek yang sama dan dari perusahaan yang sama pula.

    Prinsip ini mencakup ke dalam perluasan bentuk produk dan perluasan produk kategori. Sebagai contoh PT Unilever mengeluarkan produk sabun LUX batangan. Kemudian perusahaan tersebut mengeluarkan produk sabun LUX cair. Begitu juga dengan Nutrisari yang kita ketahui produknya merupakan serbuk yang harus dicampurkan air agar dapat diminum. Namun, perusahaan tersebut kemudian memproduksi Nutrisari yang siap minum.

    Kemudian perluasan kategori produk, sebagai contoh produk Lifebuoy yang awalnya diproduksi PT Unilever dalam bentuk batangan. Kemudian diproduksi sampo, pencuci tangan dan sabun cair dalam merek yang sama.

  • Merek Keluarga (Family branding)

    Perusahaan memakai stimulus ini dengan memproduksi berbagai jenis produk dalam satu merek. Harapannya konsumen dapat membuat asosiasi akan produk berdasarkan merek perusahaan. Contoh dari generalisasi stimulus ini adalah merek SAMSUNG. Samsung dari dahulu sampai saat ini dikenal akan family branding-nya untuk kulkas, AC dan mesin cuci. Kemudian berkembang ke pasar android dan menjadi salah satu merek yang paling banyak dipakai oleh konsumen saat ini.

  • Retail Private Branding

    Prinsip ini dipakai oleh pengecer dengan memberikan merek toko kepada produk yang dijualnya. Contohnya adalah Swalayan Hero, Hero memberikan label tokonya kepada produk yang dijualnya. Hal ini akan menguntungkan para supplier, dan memberikan kepercayaan kepada konsumen. Hal ini juga ditiru oleh Alfamidi atau Alfamart. Karena ditemukan berbagai produk yang dijual dengan merek swalayan tersebut pada produk yang mereka jual.

  • Me-too Product (Look-Alike Packaging)

    Penerapan prinsip ini dengan meniru produk yang sedang terkenal atau sedang booming. Produsen follower akan meniru produk dari segi kemasan (warna, bentuk, symbol, dan logo) dari produk yang terkenal agar menarik konsumen untuk membeli produk tersebut. Contoh untuk prinsip ini adalah banyaknya produk handphone yang bentuknya mirip dengan produk SAMSUNG ataupun BlackBerry di pasar.

  • Similar Name

    Memberikan kemiripan nama pada suatu produk yang sedang populer. Hal ini dilakukan produsen untuk membuat citra produknya sama dengan produk pemimpin pasar dunia. Contoh produk ini adalah, OREO dengan RODEO, NYAM-NYAM dengan YAN-YAN.

  • Licensing

    Prinsip ini bertujuan untuk menimbulkan citra positif terhadap produknya. Pemakaian prinsip ini dengan memberikan merek dengan memakai nama para artis, desainer, perusahaan, tokoh kartun yang terkenal.

  • Generalisasi Situasi Pemakaian (Generalizing Usage Situation)

    Pemasar perusahaan membuat citra positif dari mereknya yang sudah terkenal dapat diasosiasikan dengan produk-produknya yang baru melalui perluasan lini produk. Selain perluasan lini produk, perusahaan memakai perluasan lini pemakaian pada produknya yang sudah terkenal. Contohnya adalah iklan Fatigon yang merupakan tablet suplemen yang awalnya diperuntukkan untuk pria kini dapat dipakai untuk wanita. Produsen Fatigon membuat generalisasi bahwa Fatigon sama baiknya untuk pria dan wanita.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan
Sumber: Sumarwan, Ujang. 2011. Perilaku Konsumen. Bogor: Ghalia Indonesia


Related Posts :