Selasa, 17 Juni 2014

Cara Sederhana Terbebas dari Rokok

Kalau bicara tentang bahaya rokok, anda pasti sudah hafal karena iklan tentang bahaya-bahaya rokok ini sudah banyak beredar di masyarakat. Perokok pasif berpeluang menerima dampak buruk lebih tinggi daripada perokok aktif. Tapi, apakah anda punya solusi bagi mereka yang ingin keluar dari jeratan rokok? Jawabannya, belum semua tahu, bahkan ada sebagian orang yang mengaku kepayahan karena tak kunjung berhasil membujuk sahabatnya berhenti merokok.

Ketika anda mengingatkan dampak kesehatan pada perokok tapi mereka menilai dirinya sehat, tentu hal ini menjadi bumerang. Kenapa kita tidak menyinggung tentang dampak kepulan asap rokok bagi istri dan anak-anak? Atau dampak membeli rokok terhadap perekonomian rumah tangganya? Jumlah total perokok aktif makin bertambah dari tahun ke tahun sejalan dengan banyaknya lagi peringatan tentang bahaya merokok. Bahkan saat sekarang slogan peringatan pemerintah begitu tajam dengan mengatakan slogan “rokok membunuhmu”. Saat sekarang banyak cara yang diharapkan bisa mengurangi jumlah perokok, mulai dari ikut konseling, klinik sampai kepada obat atau ramuan, sayangnya sosialisasi tersebut masih belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat perokok karena begitu kuatnya unsure candu atau rasa ketagihan dari rokok tersebut.

Kita perlu tahu alasan yang bersangkutan merokok, selanjutnya akan mudah bagi kita mencari jalan keluar untuk meringankan beban ketagihan tersebut. Ada banyak hal yang yang memengaruhi psikologis seseorang menjadi perokok aktif. Di antaranya, dirayu teman, sekedar ikut-ikutan, iseng supaya terlihat dewasa, mengurangi perasaan negatif, mengurangi perasaan sedih, dan membuat rileks atau banyak hal lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu sesuai perkembangan dan lingkungan mereka tinggal.

Ada dua catatan yang harus diperhatikan bagi mereka yang benar-benar ingin terbebas dari jeratan rokok yakni:

1. Motivasi.

Dukungan keluarga terhadap perokok tak kalah penting. Bentuknya bisa dengan menunjukkan rasa empati dan saling menghargai. Jangan memaksakan argumentasi apalagi menghakimi, sebaliknya hargai pendapat dan usaha mereka. Selain itu keluarga juga perlu membangkitkan kewaspadaan terhadap dampak negatif rokok. Tidak cukup sekali, perlu repetisi yang berkesinambungan dan bertahap. Kita harus sabar dalam menghadapi quitter atau perokok, khususnya dalam penyampaiannya. Karena tidak ada proses yang instan dalam perubahan. Beri dia penghargaan jika berhasil melewati hari-harinya tanpa rokok, bantu para quitter untuk menemukan pengganti dari aksinya terhadap rokok, misalnya dengan permen atau buah-buahan.

2. Terapi.

Ada beragam cara untuk membantu para quitter untuk mencapai tujuannya agar terbebas dari jeratan rokok. Seperti mengintervensi melalui terapi maupun konseling. Jika belum berhasil, baru kemudian para dokter menawarkan beberapa obat yang sekiranya dapat membantu, dan tentunya obat tersebut adalah obat yang bersifat aman sesuai dosis dan tidak menimbulkan reaksi efek samping yang negatif bagi perkembangan kesehatan para quitter.

Oleh : Dodi Budiana


Related Posts :