Kamis, 05 Juni 2014

Death By Chocolate & Spaghetti: Sengatan Manis Yang Mematikan - 1

Sepintas, konsep restoran yang menawarkan cokelat dengan berbagai ragam olahannya memang terdengar biasa. Namun, masihkah konsep seperti ini terdengar biasa di telinga Anda, jika manisnya cokelat kemudian dipadukan dengan nuansa kelam pun menyeramkan, yang sengaja ditawarkan kepada para pengunjungnya?

Jangan kaget jika konsep seperti ini Anda temukan di Death by Chocolate & Spaghetti. Kehadiran surga nongkrong bagi para pecinta cokelat yang terletak di Jl. Ciremai 22, Bogor, ini sekilas seperti mencoba mematahkan pandangan mainstream yang meyakini bahwa cokelat harus selalu disajikan dalam perwujudan simbol yang manis dan romantis. Nama Death by Chocolate yang dapat diartikan sebagai ‘mati karena cokelat’ pun dipilih bukan tanpa alasan.

“Death by Chocolate ini bukan nama restoran, melainkan nama kue andalan yang kami tawarkan kepada para pengunjung. Bukan sekadar supaya kedengeran seram, karena wacana death by chocolate itu sebenarnya ada sejarahnya. Pada zaman Perang Dunia II, Hitler pernah menggunakan teknik memasukkan bom ke dalam batang-batang coklat untuk menggempur Inggris, yang waktu itu menjadi lawannya. Jika dimakan, maka dalam 7 menit bomnya bakal meledak,” jelas Diah, Supervisor Death by Chocolate & Spaghetti, sembari tertawa ringan.

Sejarah kuliner sendiri kemudian turut mengambil bagian dalam memperluas wacana awal yang ada. Menurut Diah, seorang koki dari Inggris membuat kue cokelat pertamanya dengan nama yang sama. Hanya saja, nama ini kemudian mengalami pergeseran makna, dengan asumsi para penikmat cokelat dapat mati karena diserang kelezatan yang luar biasa dari kue cokelat yang ia olah.

Potongan-potongan konsep ini kemudian dikembangkan oleh pemilik Death by Chocolate & Spaghetti, lewat pengenalan konsep restoran dan interior ruangan yang tidak biasa. Kawasan Ciremai, Bogor, memang dikenal sarat akan bangunan-bangunan tua peninggalan zaman kolonial. Tak urung, Death by Chocolate & Spaghetti pun menempati lahan dengan konsep bangunan serupa. Nuansa menyeramkan semakin kental terasa saat Anda mulai memasuki bangunan dengan dominasi batu berwarna hitam tersebut. Di pintu masuknya, Anda akan disambut oleh jaring laba-laba, lengkap dengan binatang penghuninya. Belasan pelayan yang berjaga juga kompak mengenakan baju berwarna hitam dengan tulisan Rest in Peace di bagian depan, dan gambar kerangka manusia di bagian belakangnya. Belum cukup menyeramkan, di setiap sudut restoran, Anda akan menemukan poster-poster berukuran cukup besar yang berisi gambar hantu-hantu dari berbagai penjuru negara lengkap dengan ragam kisahnya. Interior lain, seperti lampu, meja, dan kursi, juga didesain sedemikian rupa untuk menambah kesan kuno dan mistis, begitu pula pencahayaan yang sengaja dibuat minimalis hanya dengan mengandalkan cahaya obor, lampu seadanya, dan ratusan lilin yang disusun di berbagai penjuru ruangan. Jika berjalan-jalan ke bagian belakang restoran, pemandangan lain seperti sumur tua yang sudah tidak digunakan dan cerobong asap lengkap dengan sapu nenek sihirnya, juga menguatkan kesan mistis yang ingin dihadirkan.

Oleh : Oleh: Maria Miracellia Bo


Related Posts :