Selasa, 10 Juni 2014

Kenyataan dari Utang Luar Negeri

Sebagian besar orang memiliki utang. Baik itu dalam bentuk benda dan jasa. Akan tetapi dari kebanyakan orang memiliki utang uang karena terdesak kebutuhan dan juga dikarenakan uang lebih liquid (mudah untuk ditukarkan dengan barang lain). Begitu halnya dengan suatu negara. Indonesia memiliki utang yang sangat besar ke negara asing, IMF dan World bank. Padahal semasa kemerdekaan Indonesia terdahulu Presiden Soekarno menginginkan Indonesia menjadi negara yang mandiri, walaupun harus menahan diri dengan mengonsumsi singkong asalkan tidak memiliki utang ke pihak asing. Negara swadaya merupakan negara yang mampu menghindari utang dan melakukan pembangunan dalam negerinya secara swadaya. Negara ini dapat dikatakan negara kuat dan mandiri. Karena tidak memerlukan bantuan pihak asing untuk pembangunan dan pemenuhan kebutuhan penduduknya. Negara non-barat yang berhasil menjadi negara industri dan industri baru, menjadi berhasil bukan karena utang negara melainkan dari manajemen negara yang baik. Setelah berakhirnya masa penjajahan dahulu Presiden Soekarno telah memiliki pandangan untuk menghindari Indonesia dari penjajahan dalam bentuk baru dan serangan negara lain menjajah kembali. Namun, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto terjadi penandatanganan perjanjian antara Presiden Soeharto dengan pihak IMF. Untuk pertama kalinya Indonesia memiliki utang kepada pihak asing dalam jumlah yang sangat besar. Kalau kita telisik kembali, pada masa pemerintahan Soeharto pembangunan infrastruktur dalam negeri berkembang dengan pesat, harga BBM dan sembako murah, Indonesia menjadi negara swasembada beras dan lain sebagainya. Namun, pada tahun 2000-an terungkap kepada publik kegiatan korupsi yang dilakukan pihak keluarga Soeharto. Namun, sampai saat ini tidak terkena hukum pidana apapun. Ironis sekali.

Penduduk Indonesia dan pemerintahan masa orde baru tentu beranggapan hidup pada masa itu lebih menyenangkan dibandingkan saat ini. Namun, tidakkah kita sadar dampak perjanjian utang dahulu terasa sampai sekarang. Indonesia harus membayar utang setiap tahunnya dengan bunga yang sangat tinggi baik itu kepada IMF maupun kepada World bank. Utang luar negeri ini dapat diartikan sebagai bentuk baru dalam kolonialisme dan imperialisme. Salah satu dampaknya adalah penguasaan kekayaan bumi kita oleh pihak asing. Indonesia tidak bisa berbuat banyak karena memiliki utang kepada pihak asing tersebut dan pihak asing pun berlaku semena-mena dengan memanipulasi banyak hal untuk mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan alam Indonesia.

Padahal untuk menghindari utang luar negeri Indonesia dapat memanfaatkan FDI (foreign direct investment). Investasi ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan, penyerapan teknologi, manajemen, pengetahuan, dan pengalaman tanpa terlalu banyak campur tangan asing. Pihak asing hanya berperan sebagai investor dan Indonesia memperoleh dana untuk pembangunan tanpa terikat utang sama sekali.

Contoh negara yang berhasil memanfaatkan FDI ini adalah negara Iran pasca Syah Iran. Keberhasilan pembangunan Negara Iran juga didorong dengan tidak adanya utang luar negeri negara tersebut. Begitu juga dengan Negara Malaysia, negara ini tidak pernah memperoleh bantuan pinjaman pembiayaan dari IMF. Bagaimana dengan Indonesia sendiri?. Negara Indonesia membutuhkan waktu yang lama, sumber daya dan teknologi yang baik, kebijakan yang mendukung dan perencanaan yang baik agar negara kita dapat terbebas dari lilitan utang luar negeri ini. Begitu terbebasnya Indonesia dari utang luar negeri ini, kita dapat dengan bebas mengelola dan menguasai kekayaan alam negeri kita secara mandiri dan istilah the good boy untuk Indonesia akan lenyap dari benak pihak asing.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan


Related Posts :