Senin, 02 Juni 2014

Trinity: “Worrying Gets You Nowhere” - 1

“Konon bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanan”
-Anonymus


Siapapun yang mencetuskan penggalan kalimat di atas, pasti memahami benar bahwa hidup dan segala kerumitannya, bisa dilihat lewat perspektif yang berbeda jika kita mau berhenti sejenak untuk melihat ke sekitar dan mencoba memaknainya, sebelum akhirnya kembali meneruskan perjalanan. Konon katanya, seorang traveler adalah mereka yang sanggup menembus sisi lain kehidupan lewat rencana-rencana yang tidak terbatas. Makna traveling memang tidak sesederhana itu. Lebih dari sekadar datang dan pergi, pada hakikatnya mendalami sebuah perjalanan adalah salah satu bentuk penghargaan masyarakat terhadap kearifan lokalnya sendiri.

Berbicara mengenai traveling, dewasa ini mulai muncul salah satu istilah baru bagi mereka yang menggeluti dunia traveling, dan kemudian menuangkannya di dalam sebuah abstraksi berupa tulisan perjalanan. Istilah yang digunakan untuk orang-orang semacam ini adalah travel writer. Salah satu yang namanya mencuat beberapa tahun belakangan, terutama setelah buku-bukunya berjudul The Naked Traveler meledak di pasaran, adalah Trinity. Seperti yang telah dijadikan topik bahasan di berbagai media, penggunaan nama ‘Trinity’ memang diketahui bukan merupakan nama sebenarnya. Para penulis mengenal istilah ‘nama pena’ sebagai terjemahan dari nama samaran penulis yang ia gunakan sebagai identitas di tengah masyarakat nantinya. ‘Trinity’ adalah salah satunya.

Tahun 2005 menjadi titik awal bagi Trinity, sekaligus awal mula lahirnya blog naked-traveler.com yang menuntunnya menuju kesuksesannya sekarang. Saat itu, ia masih bekerja kantoran, dan ingin mencari nama samaran untuk blog-nya.

“Kan dulu masih kerja kantoran, jadi malas aja kalau ketahuan sama bos, sama temen-temen. Nanti disangkanya ini orang nggak mau kerja, maunya jalan-jalan mulu,” ujarnya sembari tertawa.

Padahal lanjutnya, pengalaman yang ia tuangkan dalam blog-nya terjadi sebelum ia bekerja kantoran. Akhirnya, dipilihlah nama Trinity. Tidak ada filosofi rumit yang mengiringi pemilihan nama tersebut. Alasannya sederhana saja. Nama itu diambil dari salah satu tokoh perempuan di film The Matrix.

“Kayaknya itu ceweknya keren, jadi ya udah saya pakai aja,” ungkapnya kemudian.

Kurang dari dua tahun, tanpa disangka blog-nya terpilih sebagai nominasi finalis Indonesia’s Best Blog Award dalam acara Pesta Blogger. Tidak ada sedikitpun keraguan dalam melangkah. Trinity langsung memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai kantoran, dan memilih jalan hidup sebagai seorang full time traveler dan freelance travel writer. Berawal dari rutin menulis di blog, buku The Naked Traveler hadir sebagai perwujudan eksistensinya pada Juni 2007.

“Yah, traveling is my job. Jadi gimana ya. Ini justru menyenangkan sekali. Karena berawal dari hobi, justru kita dapat menghasilkan uang.”

Memilih jalan hidup sebagai seorang traveler, bagi Trinity ibarat memilih untuk menjalani hidup yang penuh spontanitas. Ia sendiri mengaku enggan untuk hidup sesuai dengan rutinitas. Membosankan, sederhananya. Perempuan kelahiran Sukabumi, 11 Februari ini memang menyukai kegiatan traveling sedari kecil. Orangtuanya lah yang memperkenalkan kegiatan tersebut lewat berbagai kegiatan yang rutin ia ikuti semasa bersekolah dulu.

“Iya, aku dulu sering diikutkan kegiatan pramuka, PMR (Palang Merah Remaja), juga pecinta alam. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, aku jadi bisa belajar banyak hal mengenai alam. Karena ikutan pramuka, pecinta alam, kan jadi sering camping sama teman. Terus lama-lama jadi suka jalan-jalan sendiri. Yang tadinya ke gunung, lama-lama ke kota lain, ke pulau-pulau lain, dan ke luar negeri,” jelasnya.

Negara tetangga, Singapura, dipilih menjadi tempat persinggahan luar negeri pertamanya. Tepatnya, saat ia masih duduk di bangku 1 SMA. Namun, perjalanannya ke luar negeri pertama kali ini bukanlah untuk berlibur, melainkan untuk melakukan pemeriksaan medis. Pada saat itu, karena tidak ada yang bisa menemaninya pergi, jadilah Trinity pergi ke negeri singa itu seorang diri.

Oleh: Maria Miracellia Bo


Related Posts :