Senin, 14 Juli 2014

Dampak Negatif Globalisasi dalam Bentuk Kejahatan Ekonomi

Globalisasi memungkinkan setiap negara dapat terhubung tanpa ada batasan. Hal ini merupakan akibat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menjembatani masyarakat untuk mengetahui keadaan di seluruh wilayah dunia. Globalisasi memiliki sisi baik dan buruk. Sisi baik dari globalisasi adalah memudahkan informasi, mempermudah transaksi bisnis dan mempercepat perbaikan sistem pendidikan melalui internet. Sisi negatif dari globalisasi adalah tidak siapnya masyarakat dalam menyaring budaya asing, kejahatan baru berupa cyber crime dan penipuan online, dll.

1. Kejahatan Ekonomi Lewat Money Laundering

Pencucian uang bukanlah hal baru lagi. Banyak pihak-pihak yang memanfaatkan ini untuk menutupi kejahatan yang telah dilakukan. Praktik pencucian uang dilakukan untuk menutupi asal uang tersebut yang kemungkinan berasal dari jual-beli narkoba, korupsi, perdagangan senjata dan perdagangan ilegal lainnya. Terdapat 3 tahap dalam melakukan pencucian uang, yaitu:

  • Placement
    Tahap ini merupakan yang paling rentan bagi pencuci uang. Karena pada tahap ini uang yang ada harus dipecah menjadi beberapa bagian yang kecil. Kemudian uang tersebut didepositokan ke berbagai bank berbeda. Bila perlu ke beberapa Negara asing. Karena sekali uang tersebut masuk ke dalam bank, maka uang itu telah masuk juga ke dalam sistem keuangan negara yang bersangkutan.

  • Layering
    Pada tahap ini pencuci uang akan memindah-mindahkan uang depositonya berkali-kali ke berbagai bank lainnya atau ke anak bank sebelumnya atau dengan dengan membeli instrumen investasi yang beredar di masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menjauhkan dana yang tersebar tadi dengan sumber asalnya, sehingga tidak mungkin dilacak oleh otoritas moneter ataupun penegak hukum.

  • Integration
    Pada tahap ini, uang yang telah dicuci dibawa kembali ke dalam sirkulasi sebagai uang bersih, bahkan sebagai objek yang dikenakan pajak. Ketika pencucian uang berhasil dilakukan maka uang tersebut dapat dipakai sebagai uang normal pada umumnya. Sehingga dapat dipergunakan sebagai alat tukar untuk memperoleh barang-barang yang dibutuhkan ataupun untuk investasi lanjut.

Rekening deposito milik para orang kaya ataupun pejabat yang korupsi biasanya ditempatkan pada bank luar negeri seperti Bank Swiss. Penegak hukum dari Negara asal tidak dapat melacak keberadaan uang tersebut. Walaupun rekening tersebut berhasil dilacak, namun penegak hukum dari negara asal tidak bisa dengan mudah memperoleh kembali uang tersebut karena terdapat aturan dari negara bersangkutan yang melindungi keamanan rekening nasabahnya.

2. Cyber Crime

Kejahatan pada dunia maya telah sering terjadi. Beberapa bulan lalu terjadi penyadapan telepon genggam milik Ibu Ani Yudhoyono oleh pihak pemerintah Australia. Hal ini tentu mengundang amarah publik Indonesia. Karena melanggar privasi dan keamanan nasional. Namun tanggapan dari pemerintah Indonesia tidak begitu kelihatan.

Lain halnya dengan para pelaku cracker dan hacker Indonesia melakukan pembalasan kepada pemerintah Australia dengan menyerang beberapa situs official pemerintah milik negara tersebut. Hasilnya dalam beberapa hari situs pemerintah Australia tidak dapat dipakai dan halaman websitenya terus mengalami gangguan.

Bentuk cyber crime tersebut masih banyak lagi termasuk juga dalam penipuan dari jual-beli online. Penipu dapat dengan mudah menipu pembelinya dengan barang foto fiktif karena penipu tidak memiliki barang aslinya. Oleh karena itu untuk mengatasi penipuan online upayakan COD (Cash On Delivery) untuk mengetahui keadaan barang yang sebenarnya. Selain itu jangan lupa membawa teman yang mengerti akan produk tersebut atau untuk jaga-jaga jika penipu hendak memeras atau merampok ketika ketemuan nantinya.

Oleh : Ahmad Azhari pohan


Related Posts :