Jumat, 18 Juli 2014

Menguak Mitos Dan Tragedi



Judul buku : Ain Jalut
Penulis : Indra Gunawan
Penerbit : Quanta (PT. Elex Media Komputindo)
Tahun Terbit : Pertama, 2014
Tebal : 398 halaman
ISBN : 978.602.02.3167.9

Novel ini adalah novel islami berlatar sejarah Islam di Timur Tengah pada pertengahan abad 13. Sesungguhnya novel ini merupakan seri kedua sejak novel bergenre sama, dengan judul The Downfall of Dynasty diterbitkan pada 2013 lalu. Tidak seperti novel pertama yang bersetting seluruhnya di Baghdad, novel ‘Ain Jalut; Against The Myth of Hulagu’ bermula dari kisah Negeri Khawarizmi yang dibabat habis oleh tentara Mongol di bawah komando Hulagu Khan. Setelahnya pembantaian terus meluas ke negeri-negeri sekitarnya, seperti Baghdad, Halab, Ismailiyah, Damaskus, juga tak ketinggalan kota-kota lain yang mereka lewati.

Semenjak meratakan peradaban Baghdad sama dengan tanah, nafsu menghancurkan Hulagu Khan semakin merajalela, ia ingin menjadi Khan segala Khan, raja segala raja (Hal. 25). Sedemikian dahsyat dan mengerikannya prajurit Hulagu, hingga muncul mitos bahwa Hulagu tak dapat dikalahkan. Maka, pada novel kedua ini penulis berkisah bagaimana kaum muslimin membuktikan bahwa mitos Hulagu hanyalah sekedar mitos (Hal. 319).

Seperti novel sebelumnya, penulis yakni Indra Gunawan secara apik memadukan tokoh fiksi dan nyata menyatu tanpa saling mengganggu. Namun novel kedua ini memiliki banyak setting tempat dan tokoh dalam rentang masa dekat bahkan bersamaan, belum lagi begitu banyak nama tokoh yang memiliki kemiripan sehingga sedikit menyulitkan pembaca, terutama yang masih awam dengan sejarah peradaban Islam.

Begitu banyak setting tempat dan tokoh yang terjadi pada satu masa berakibat pada alur cerita yang hampir-hampir tumpang tindih. Apalagi mengingat novel ini adalah novel sejarah, di mana sebagian besar tokohnya adalah nyata dengan segala kisah latar belakang dan sifat yang tidak dapat dirubah. Penulis harus ekstra hati-hati

Hal tersebut bisa saja menguntungkan penulis karena tidak perlu merangkai cerita baru, hanya tinggal menuliskan sesuai dengan catatan sejarah, lalu memberi sentuhan prosa sesuai dengan catatan sejarah tersebut.

Namun, di lain pihak hal ini juga dapat menjadi tantangan tersendiri. Penulis dapat mengalami kesulitan menentukan siapa tokoh utama, yaitu tokoh yang harus lebih ditonjolkan, sebab semua tokoh memiliki kisah luar biasa dengan latar belakang masing-masing sebagaimana dinukil dalam tarikh Islam.

Dalam menyisipkan tokoh fiksi juga harus berhati-hati. Dalam suatu peristiwa, sejarah telah mencatat siapa tokoh protagonis dan antagonisnya. Penulis harus benar-benar lihai menentukan posisi tokoh fiksinya. Jangan sampai peranan atau kehadiran tokoh rekaan tersebut malah mengaburkan sejarah, atau menghilangkan esensi dari kisah yang ingin disampaikan. Dan penulis berhasil mengatasi hal tersebut.

Selain itu, novel ini sukses mengajarkan ilmu sejarah peradaban Islam kepada masyarakat Indonesia secara detail. Banyak hikmah kehidupan yang dapat diserap dari setiap peristiwa yang terjadi. Sungguh kisah yang luar biasa untuk dijadikan sebuah novel dan pastinya dapat tersaji berkat usaha luar biasa pula. Sejalan dengan pendapat ini, Dalia Mamdouh Ahmad, seorang arkeolog Universitas Cairo, Mesir mengatakan bahwa jika seorang Indonesia dapat mendeskripsikan sejarah Timur Tengah abad 13 dengan demikian detail dan memikat tentu butuh riset dan penelusuran mendalam.

Usaha penulis dalam hal ini sangat layak diapresiasi. Ia berhasil mengurai segumpal kisah pada masa itu yang rumit laksana benang kusut, menjadi terurai secara sistematis seperti menyusun kepingan puzzle. Dari kepingan yang terburai itu penulis menyajikan sebuah cerita heroik sehingga pembaca dapat menarik sebuah benang merah, sungguh bukan usaha yang mudah. Oleh karena itu Ain Jalut tetaplah sebuah novel luar biasa. Membaca novel ini akan menggugah iman, semangat jihad sekaligus berintrospeksi diri, sudah sejauh mana kita berbuat bagi tegaknya agama Allah.

Oleh : Tika Dwi


Related Posts :