Kamis, 28 Agustus 2014

SEPENGGAL LITTLE STORIES



Judul Buku : Little Stories
Penulis : Rinrin Indrianie, Vera Mensana, Adeste Adipriyanti, Faye Yolody, Rieke Saraswati
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014, cetakan pertama
Tebal :264 halaman
ISBN :978 602 03 0190 7

Kumpulan cerita pendek atau populer pula dengan sebutan kumcer semakin bergeliat di tahun-tahun belakangan ini. Beberapa cerpenis beramai-ramai menerbitkan buku yang berisi kumpulan cerpen. Baik karya yang dihasilkan oleh satu orang pengarang saja maupun kumpulan cerpen yang dihasilkan oleh banyak pengarang. Dari sekian banyak kumcer bertema metro pop, salah satu yang sangat menarik adalah kumcer bertitel Little Stories.

Little stories merupakan kumcer yang disusun sebagai buah atau hasil dari proyek menulis yang digagas oleh cerpenis Maggie Tiodjakin. Proyek menulis tersebut bertajuk Kursus Intensive Lotus Creative. Proyek itu sendiri merupakan bentuk apresiasi Maggie terhadap pembaca setia blog asuhannya yakni Fiksi lotus, blog khusus yang memuat cerpen-cerpen klasik dari penulis dunia yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dari proyek menulis tersebut, terpilihlah lima penulis wanita berbakat dari berbagai latar belakang. Maggie memutuskan untuk melaksanakan kursus selama empat minggu yang terbagi dalam delapan kali pertemuan. Semenjak itu, kelima penulis pemula ini memiliki kedekatan yang semakin erat, hingga proyek pelatihan menulis mereka sudah selesai, mereka tetap saling bertukar karya, meminta kritik dan saran melalui email. Hal inilah yang menjadi cikal bakal ide menyusun sebuah buku, tepatnya kumpulan cerpen Little Stories.

Meski terbilang pemula, namun kelima wanita muda ini sadar, harus ada sesuatu yang membedakan kumcer mereka dari kumcer-kumcer lainnya. Oleh sebab itu, setelah berdiskusi bersama Maggie Tiodjakin, mereka memutuskan untuk membuat sebuah kumpulan cerpen yang merefleksikan proses kreatif mereka selama menjadi peserta kursus, dari ide tersebut Maggie kemudian membagi “Little Stories” menjadi empat bagian, di mana setiap bagian mewakili kategori yang berbeda.

Walhasil, di dalam buku tersebut Maggie memberi tantangan kepada kelima peserta untuk membuat cerpen berdasarkan empat tema berbeda yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu: tema kuliner di mana peserta diharuskan membuat cerpen berbasis makanan, tema prompter di mana peserta bisa memilih satu dari dua pilihan kalimat awalan yang telah ditentukan, tema demonstrasi dan tema bebas di mana peserta bebas membuat cerpen sesuai dengan imaji dan passion masing-masing.

Sebagai pembaca awam, menikmati karya-karya yang disuguhkan oleh para peserta tidaklah sulit. Sejalan dengan pendapat H. Tanzil yang mengatakan bahwa kelima penulis ini memiliki bakat dan beberapa diantaranya sangat menjanjikan. Sebut saja pada tema kuliner, pada tema ini peserta diwajibkan menaruh makanan sebagai bagian yang signifikan dalam menyampaikan cerita. Dengan kesesuaian pembagian porsi antara makanan, tokoh, sudut pandang dan alur cerita yang kuat, ‘Gohu Buat Ina’ karya Vera Mensana (halaman 13-28), menjadi pembuka yang sangat menggugah.

Tema Prompter yang merupakan tema di bagian kedua, memberi lebih banyak warna-warni. Lagi-lagi karya Vera mensana yang berjudul ‘Lemparkan Saja Ke Sungai’ (Hal. 95-107) memberi warna berbeda pada indahnya dunia anak-anak, sedangkan ‘Serunya Membunuh orang Gila’ karya Faye Yolodi (Hal. 133-141), bercerita tentang keganjilan sebuah hubungan keluarga.

Tema demonstrasi merupakan tema yang sarat dengan pesan moral. Namun, ‘Teror di Kaki Bukit” karya Adeste Adipriyanti (Hal. 145-151) menjadi pembuka yang sangat unik dan menggelitik. Sedang pada tema terakhir yakni tema bebas, ‘Nama Untuk Raka’ karya Rinrin Andrianie menjadi pembuka yang menarik, kelima peserta semakin menunjukkan aliran sudut pandang dan genre cerpen yang mereka minati.

Dengan sampul cantik penuh makna filosofi, cetak redaksi dan ukuran huruf yang baik semakin mendukung pembaca menikmati cerita-cerita unik di dalamnya. Selain itu pembaca juga bisa mengasah kemampuan menulis cerpen dengan mengikuti instruksi Maggie Tiodjakin di dalamnya. Cobalah menulis cerpen sendiri seusai menghabiskan seluruh cerita ‘Little Stories’ sesuai dengan tema pada setiap bagiannya, lalu karya kelima penulis tersebut dapat dijadikan pembanding karya yang dihasilkan. Siapa tahu ternyata Anda juga berbakat menjadi seorang cerpenis.

Dalam testimoninya, Maggie terus menekankan bahwa dalam menghasilkan karya terutama cerpen, hendaklah menulis dengan menggali ke dalam diri sendiri lebih dalam. Hal tersebut ternyata memberikan pengaruh signifikan terhadap karya para anak asuhnya dalam Lotus Creative Project ini.

Dengan kata lain, kumcer ini memang ditulis oleh para pemula, namun karya-karya mereka mampu menunjukkan bahwa dengan konsistensi dan kemauan belajar, semua orang bisa membuat cerpen yang baik dan bermutu.

Oleh: Tika Dwi


Related Posts :