Jumat, 12 September 2014

New Rules of The World (Globalization)

“Keuntungan dunia baru ini Pemimpin industri besar Katanya memiliki visi dan misi mulia Tapi kejam kepadaku Mereka menjanjikan dunia di mana setiap orang Menjadi kaya, pintar dan muda Namun, seandainya aku pun hidup untuk merasakannya Bagiku itu sudah sangat terlambat..”

Sebuah video dokumenter berjudul New Rules of The World oleh John Pilger, berkisah mengenai fenomena globalisasi yang banyak menuai protes dari berbagai negara sejak 1960an. Globalisasi digambarkan sebagai sebuah tatanan ekonomi baru jelmaan proyek raja terdahulu dalam usaha penguasaan dunia yang sekarang diteruskan oleh perusahaan-perusahaan multi nasional dengan berbagai lembaga keuangan dan pemerintah sebagai penyokongnya. Awalnya, globalisasi dipercaya sebagai aturan yang ditetapkan sebagai solusi perbaikan masalah kesejahteraan masyarakat dunia tanpa memandang letak negara, ras, suku maupun agama. Namun itu semua hanyalah kedok para penguasa negara adidaya, globalisasi sesungguhnya sebuah alat guna memperkaya si kaya dan memiskinkan si miskin, alat guna meraup keuntungan dari negara berkembang untuk negara penguasa.

Indonesia
Bisa dikatakan, salah satu korban keserakahan global.

Indonesia merupakan negara dunia ketiga, dengan kekayaan alam berlimpah dan potensi tenaga kerja yang besar, menjadikan negara kepulauan tersebut sebagai sasaran empuk ladang investasi dan “jajahan” para pebisnis besar dunia. Ditambah dengan standar upah buruh yang begitu minim, membuat Indonesia bagaikan upeti asia di mata negara lain, terutama negara barat yang berarti kapan pun dan sebanyak apapun kekayaan di Indonesia dapat diambil dan dirampas secara sewenang-wenang tanpa adanya perlawanan dari pihak Indonesia sendiri. Ironis sekali.

Indonesia.
Negara yang begitu kaya, namun sebagian besar masyarakatnya miskin teramat miskin. Negara dengan kemakmuran alamnya yang luar biasa, namun kesejahteraan rakyatnya jauh dari kata sejahtera. Negara yang pada awal mula kemerdekaannya mampu lepas tangan dan menolak bantuan pihak asing, sekarang berubah menjadi negara yang terus mengais dan bergantung pada kemurahan hati negara lain. Banyak pihak berpendapat bahwa titik awal kebobrokan ini dimulai dari rezim Soeharto yang secara sukarela memberikan jalan kepada negara adidaya dunia untuk menancapkan cakarnya ke dalam Indonesia. Akibatnya Indonesia terjebak dalam permainan negara-negara besar itu dan masuk dalam lingkaran setan kemiskinan dan ketidaksejahteraan.

Namun apa gunanya menyalahkan rezim Soeharto yang sudah usai berpuluh-puluh tahun lalu? Kalau pun benar Soeharto yang bersalah, dan publik menyalahkannya, toh kondisi yang ada tidak akan berubah. Semua sudah terjadi. Lebih baik memfokuskan diri untuk secara bersama-sama turun tangan mengubah keterpurukan ibu pertiwi menjadi kesejahteraan untuk negeri. Dimulai dari diri sendiri. Mendidik diri menjadi pribadi yang berintegritas, pribadi yang menghargai karya negeri, pribadi yang cinta negeri sendiri. Dengan begitu, sedikit demi sedikit Indonesia akan bergerak ke arah yang lebih baik, sejalan dengan masyarakatnya yang juga membaik, terutama membaik dari segi moralitasnya.

Oleh : Vierta Saraswati
Sumber :
Pilger, John. Video Dokumenter : “New Rules of The World (Globalization)”.


Related Posts :