Rabu, 29 Oktober 2014

Filosofi Dibalik Permainan 'Panjat Pinang'

Panjat Pinang merupakan permainan yang selalu saya tunggu sepanjang tahun. Sayangnya, permainan yang sangat unik ini justru jarang dilakukan sekarang. Padahal dulu, ketika saya masih kecil, permainan ini menjadi permainan puncak di hari hari besar nasional semisal Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Hari Pancasila, Hari Sumpah Pemuda, dan hari-hari raya nasional lainnya. Penyelenggaraannya di lakukan di setiap desa. Tetapi kini, jarang sekali ditemukan.

Padahal, Panjat Pinang sangat menarik untuk dicermati lho... karena di dalamnya mengandung makna filosofi yang cukup dalam yang bisa dipahami secara mudah dan jelas. Panjat Pinang, yang secara literal berarti memanjat pohon Pinang - walaupun puluhan tahun terakhir kini, pohon yang dipakai bukan lagi Pinang tetapi bambu... seakan mengajarkan cara bagaimana kita bisa eksis dan hidup secara baik hingga berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan berdasarkan apa yang kita usahakan.

Ini adalah sebuah pelajaran hidup yang memang sangat realistis. Beberapa filosofi yang bisa kita jabarkan dari memaknai Panjat Pinang adalah sebagai berikut :

  • Fase pertama, ini merupakan fase umum yang melukiskan hal sikap manusia atau masyarakat dalam kehidupan sosialnya. Masih memakai baju, masih segar, penuh semangat dan yakin. Saat itu, pohon pinang pun masih kering dan belum terjamah. Pada etape ini, setiap orang masih mewakili egonya masing-masing.

  • Fase kedua, setiap orang mulai menyadari bahwa bekerja sendirian itu terlalu berat. Memanjat tinggi setidaknya butuh tumpuan kuat di bawah. Apalagi pohon sudah mulai licin.

  • Fase ketiga, pada fase ini para pemanjat sudah mulai lelah. Pohon makin licin. Tetapi fase ini justru merupakan fase yang sangat menghibur dan menggetarkan. Dan secara filosofi, para pemanjat sudah melihat dan menyadari tentang 'musuh bersama' yang harus ditaklukkan secara bersama dan bergotong-royong. Maka, mereka memutuskan untuk bersatu dan mengalahkan musuhnya, yakni si tiang licin. Mereka bahu membahu dan bertekad mengantarkan siapapun untuk sampai ke atas dan melucuti semua hadiah. Adapun yang di bawah, mereka mengumpulkan hadiahnya dan membaginya bersama secara adil.



Itulah... indahnya kehidupan yang bersama dan berbagi. Filosofi yang sangat realistis. Sayangnya, lomba Panjat Pinang sekarang menjadi agak langka. Konon, bahkan tersiar kabar bahwa lomba ini sengaja akan dihilangkan. What? Konon pula, ini erat kaitannya dengan sumber keberasalan permainan ini yang ternyata merupakan warisan Belanda. Di jaman Belanda dulu, orang-orang Belanda selalu membuat pesta hiburan. Dan salah satu hiburan yang mereka ciptakan adalah Panjat Pinang. Pesertanya dikhususkan hanya rakyat Indonesia. Mereka menonton para 'inlander' yang berlomba-lomba memanjat karena tertarik dengan hadiahnya.

Sementara para Belanda, mereka tertawa terbahak-bahak melihat 'kegagalan-kegagalan' yang dihadapi para pemanjat. Potret ini, dalam konteks kehidupan kini yang sudah merdeka, bagi para nasionalis dianggap penistaan terhadap bangsa Indonesia saat itu. Maka, jika itu merupakan sebuah penistaan, kenapa harus dilestarikan?

Konon, latar belakang pemikiran inilah yang membuat permainan Panjat Pinang mulai ditiadakan pelan pelan. Sayang sebenarnya, kalau hal ini harus ditiadakan hanya karena indikasi nasionalisme yang terluka. Karena bagaimanapun, sejarah tetaplah sejarah. Tak perlu diingkari.

Oleh : Faatima Seven
Sumber :
http://debudiblogku.blogspot.com/2013/08/panjat-pinang-analogi-dan-filosofinya.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Panjat_pinang
Gambar :
http://quoteko.com/panjat-pinang.html


Related Posts :