Jumat, 10 Oktober 2014

Kapitalisme = Pembangunan Kemiskinan

Perkembangan perekonomian kapitalis dimulai pada masa revolusi industri di Inggris pada tahun 1750-1850. Revolusi industry mengakibatkan perubahan yang cukup pesat terhadap kondisi ekonomi, sosial dan budaya dunia. Kemudian penyebaran revolusi industri berkembang ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang dan akhirnya ke seluruh dunia.

Revolusi industri merupakan kebangkitan teknologi yang diperoleh dari inovasi para ilmuwan. Kemudian para orang kaya menggunakan barang ciptaan para ilmuwan dan mulai membangun perusahaan. Robert Emerson Lucas peraih hadiah Nobel menyatakan: “untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya”.

Revolusi industri terbukti berhasil meningkatkan perekonomian rakyat biasa. Karena sebelumnya imperialis (kerajaan) dan kebangsawananlah yang mengatur perekonomian. Sehingga rakyat biasa kebanyakan berperan sebagai pekerja, buruh atau pelayan bagi bangsawan. Berkembangnya industri di Inggris menambah lapangan pekerjaan bagi rakyat, karena memang dalam perusahaan membutuhkan pekerja dalam jumlah besar dalam faktor produksi. Lambat laun para pemilik perusahaan memperoleh tempat sendiri dan sering dijadikan penguasa oleh pihak kerajaan dan memperoleh gelar kebangsawanannya (sir, earl, baron atau duke). Revolusi industri kemudian menyebabkan kapitalisme di mana para pemilik perusahaan memberikan pengaruh dan mengendalikan keadaan pasar.

Lahirnya kapitalisme ini membawa dampak negatif yang kita ketahui adalah eksploitasi tenaga kerja yang masih sampai saat ini masih dapat kita temukan. Penetapan jam kerja yang cukup tinggi biasanya tidak diimbangi dengan gaji atau upah yang diperoleh selain itu tidak adanya asuransi pekerja pada masa itu mengakibatkan angka kematian yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah industri. Distribusi kekayaan tidak merata dengan meningkatnya kekayaan para pemilik perusahaan namun tidak demikian bagi para buruh yang memperoleh upah tetap pada umumnya. Kemudian peraturan perusahaan yang semena-mena dikarenakan para pemilik memiliki kekuasaan penuh dan didukung oleh pihak kerajaan.

Lambat laun hal ini menyengsarakan rakyat biasa yang berprofesi sebagai buruh, dan kemudian hari para pekerja tersebut mencoba melawan pihak kapitalis dengan menciptakan koperasi untuk para buruh di Inggris.

Sistem ekonomi kapitalisme sebenarnya masih mengakar kuat di berbagai negara termasuk di Indonesia. Walaupun basis ekonomi Indonesia kerakyatan, namun praktik di lapang membuktikan bahwa para pengusaha memiliki pengaruh yang besar. Pengusaha lokal ataupun asing memiliki daya tawar yang kuat kepada pemerintah jika tidak mampu memberikan kondisi seperti yang diinginkannya. Sering sekali kita lihat dan baca baik di media cetak dan televisi bahwa pihak investor asing dan lokal menginginkan kemudahan pajak, bea cukai, harga lahan dan sebagainya untuk mempermudah usahanya. Jika hal ini tidak diindahkan maka kerja sama kontrak akan dibatalkan. Lebih parah lagi pihak pengusaha dapat memberikan suap kepada pejabat pemerintahan agar memperoleh izin dan lain sebagainya tanpa memperhatikan efek samping bisnisnya tersebut.

Kita lihat kembali fakta di lapang bagaimana distribusi ekonomi di Indonesia. Secara umum ekonomi di Indonesia bergerak di Pulau Jawa, kemudian diikuti dengan daerah lainnya. Hal ini dapat disebabkan pusat pemerintahan yang berada di Jawa barat sehingga dapat mempermudah usaha dan lainnya. Namun, bagaimana dengan daerah lain yang cukup tertinggal. Hal ini kurang diperhatikan oleh pemerintah pusat. Jika terjadi gejolak ekonomi dengan salah satu contoh kenaikan harga BBM, pemerintah dan rakyat di Jawa akan demo, protes besar-besaran. Namun, bagaimana dengan rakyat yang tinggal di daerah tertinggal?. Harga BBM dan bahan pokok yang tinggi merupakan hal biasa bagi mereka.

Dalam hal ini peran pemerintah mutlak harus tegas dan merumuskan kebijakan atau sistem ekonomi yang lebih baik bagi seluruh rakyat. Keberadaan para pengusaha tetaplah penting karena jumlah pengusaha merupakan salah satu faktor dalam meningkatkan perekonomian nasional. Namun, hal ini harus diimbangi dengan distribusi ekonomi yang lebih baik dan merata di seluruh wilayah agar setiap golongan masyarakat dapat menikmati perkembangan perekonomian nasional.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri


Related Posts :