Jumat, 28 November 2014

Benyamin Suaeb, Seniman Betawi Serba Bisa

Benyamin Suaeb adalah asli putra Betawi. Beliau dilahirkan pada tanggal 5 Maret 1939, di Kemayoran Jakarta. Bungsu dari delapan bersaudara ini memiliki ayah bernama Suaeb dan ibu bernama Aisyah. Ketujuh saudara kandungnya adalah Rohani, Moh. Noer, Otto Suprapto, Siti Rohaya, Moenadji, Ruslan, dan Saidi. Seniman serba bisa ini, sudah merasakan getirnya kehidupan sejak masih kecil. Ketika berusia dua tahun, ayahnya berpulang menghadap ilahi.

Meninggalnya sang ayah , praktis membuat kondisi ekonomi keluarganya tidak menentu. Untuk membantu mengatasi keuangan keluarga, Benyamin yang saat itu berusia tiga tahun diajak ngamen keliling kampung oleh ibunya. Gayanya yang lucu ketika menyanyikan lagu Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang-goyang cukup menghibur para penonton yang menyaksikan aksi lucunya. Para penonton sering memberinya uang lima sen, atau terkadang mereka memberi Ben kecil sepotong kue untuk aksi lucunya. Uang yang didapat dari hasil mengamen ini digunakan sang ibu untuk membiayai kakak-kakak Benyamin saat itu.

Saiti, kakek dari ayahnya adalah seorang peniup klarinet. Sementara kakek dari ibu, Dulmuluk adalah seorang pemain teater rakyat di jaman Belanda. Ketika berusia enam tahun, bersama ketujuh kakaknya , Benyamin membentuk grup musik dengan alat-alat dari barang bekas. Mereka membuat rebab dari kotak obat, stem bas dari kaleng drum minyak. Dengan barang-barang bekas mereka menyanyikan lagu untuk menghibur orang lain. Waktu itu Benyamin, sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu. Kelompok musik kaleng rombeng inilah yang menjadi cikal bakal kiprahnya di dunia seni, terutama seni musik.


Gambar 1. Benyamin Suaeb

Riwayat pendidikan Benyamin diawali di Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago. Ketika duduk di kelas 5, ia pindah ke SD Santo Yusuf di Bandung hingga lulus. Benyamin kembali ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di SMP Taman Madya Cikini. Waktu itu, ia satu angkatan dengan pelawak legendaris , Ateng. Kemudian Benyamin melanjutkan pendidikannya di SMA Taman Siswa Kemayoran. Lulus dari SMA ia mengambil kuliah di Akademi Bank Jakarta (ABJ). Sayangnya Benyamin tidak sampai menyelesaikan kuliahnya. Setahun kuliah, Benyamin harus melupakan mimpinya karena tidak ada biaya.

Benyamin tidak putus asa, ia mengikuti berbagai kursus di berbagai lembaga pendidikan. Sebelum menjadi seniman Benyamin pernah bekerja di lembaga pemerintahan, bahkan ia pernah bekerja sebagai kondektur PPD jurusan Lapangan Banteng – Pasar Rumput. Profesi kasar ini ia jalani demi menghidupi keluarga kecilnya. Ketika keluar dari pekerjaannya Benyamin membentuk kelompok musik yang diberi nama Melodyan atau Melodi Ria. Grup ini dibentuk Benyamin bersama teman-teman sekampungnya di Kemayoran, seperti Bill Saragih dan Rahmat Kartolo. Salah satu lagunya yang terkenal sampai sekarang adalah Nonton Bioskop dan Si Jampang.

Ketenaran Benyamin sebenarnya dimulai ketika ia bergabung dengan Gambang Keromong Naga Mustika pimpinan Suryahanda yang bermarkas di Cengkareng, Jakarta Barat. Suara khas Benyamin yang merdu semakin populer di telinga masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta. Benyamin juga tercatat sukses sebagai bintang film. Filmografinya adalah Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri (1972), dan Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradrai Syumanjaya disukai para penikmat film.

Benyamin telah merengkuh semua kesuksesan di dunianya. Lelaki yang telah berhaji 14 kali ini telah mendapatkan semua manisnya kesuksesan sebagai imbalan getirnya kehidupan yang bertahun-tahun telah dirintisnya. Pada usia 56 tahun Benyamin meninggal dunia. Benyamin telah membuktikan dirinya adalah seorang seniman Betawi yang sukses meraih hidup dengan perjuangan yang panjang.

Oleh : Bobby Prabawa
Referensi :
1. Drop Out, Sukses, Kaya, Jayusman Lacanda, Bestari, Jakarta 2014
Sumber gambar :
2. http://muhammadharir.deviantart.com/art/Benyamin-S-208894238


Related Posts :