Senin, 10 November 2014

Waspadai Penyakit Leptospirosis di Musim Penghujan

Penyakit leptospirosis dikenal juga dengan sebutan penyakit kencing tikus, penyakit ini merupakan salah satu bagian dari penyakit zoonosis atau penyakit yang ditularkan melalui hewan kepada manusia. Walaupun sebenarnya tidak hanya tikus saja yang menularkan penyakit ini, beberapa hewan lain seperti kucing, kambing, sapi, anjing, babi, kuda, kerbau juga dapat menjadi media penularannya.

Belakangan ini penyakit leptospirosis mulai populer dan banyak menyerang korban. Hal ini seiring keadaan lingkungan yang semakin memburuk, apalagi saat memasuki musim penghujan, tepatnya lagi ketika banjir tiba.

WHO (World Health Organization) memperkirakan tiap tahunnya ada sekitar 10 juta orang terserang Leptospirosis. Umumnya terjadi di daerah beriklim tropis (Indonesia) dan subtropis, karena pada daerah panas dan lembab seperti ini bakteri leptospira selaku penyebab penyakit leptospirosis dapat tumbuh subur dan berkembang biak dengan baik.

Bakteri penyebab infeksi ini keluar melalui urin pada hewan yang terinfeksi (paling banyak terjadi pada urin/kencing tikus), yang kemudian akan bercampur dengan tanah, benda-benda dan sumber air terdekat. Itulah kenapa penyakit ini paling banyak menyerang korban saat hujan atau banjir tiba. Sebab pada saat itu, air yang terkontaminasi bakteri leptospira dapat dengan mudah mengenai tubuh manusia, sehingga penularannya bisa terjadi.

Jika bakteri leptospira tersebut mengenai bagian tubuh yang terluka, maka proses penularannya akan semakin cepat dan berbahaya. Tentunya penyakit ini tidak dapat dianggap sepele, dalam status yang parah penyakit leptospirosis beresiko menyebabkan gagal ginjal, penyakit kuning dan bahkan sampai merenggut nyawa.

Kategori dan Gejala

Gejala terjangkit penyakit leptospirosis tidak langsung menunjukkan reaksi yang spontan dan cepat pada tubuh. Biasanya gejala akan muncul berangsur, 7 sampai 14 hari setelah orang tersebut terinfeksi. Masing-masing gejalanya sesuai dengan kategori bagian dan tingkatannya.

Terdapat dua kategori leptospirosis, pertama leptospirosis kategori ringan/rendah. Pada tingkatan ini orang yang terserang leptospirosis hanya mengalami gejala-gejala ringan pada tubuhnya seperti demam, menggigil, diare, mual, nyeri otot, sakit kepala dan reaksinya tidak sampai pada keadaan yang mengkhawatirkan.

Namun leptospirosis ringan ini sebenarnya lebih sulit untuk di diagnosa, karena gejalanya sendiri mirip dengan gejala flu dan gejala penyakit ringan pada umumnya. Tetapi bagaimanapun juga identifikasi gejala leptospirosis pada kategori ini menjadi sangat penting, jika dibiarkan dan tidak diobati dalam waktu lama, berpotensi menimbulkan komplikasi kesehatan yang parah dan bisa berlanjut pada kategori yang kedua, yaitu kategori berat.

Leptospirosis kategori berat, terjadi ketika bakteri leptospira sudah menginfeksi organ-organ utama dalam tubuh, seperti otak, ginjal, jantung, paru-paru dan hati. Jika sudah demikian maka pada situasi dan kondisi seperti inilah penyakit leptospirosis beresiko mengancam jiwa.

Gejala dari leptospirosis kategori berat tergantung dari bagian organ mana yang telah terinfeksi. Apabila pada bagian ginjal, jantung dan hati yang terjangkit, maka gejala yang ditimbulkannya seperti : sesak nafas, nyeri di dada, kelelahan, detak jantung tidak teratur, nafsu makan hilang sehingga berat badan pun menurun.

Jika yang terinfeksi pada organ otak maka gejalanya: terjadi masalah dengan gerakan fisik, leher kaku, kejang, muka pucat, bahkan ada yang penderita tidak bisa berbicara. Sedangkan apabila organ paru-paru bisa ditandai dengan gejala : demam tinggi, sesak nafas dan batuk darah.

Penanganan

Bila ada kemungkinan mengalami gejala penyakit leptospirosis sebaiknya konsultasi segera dengan dokter untuk memastikan kebenarannya. Penanganan leptospirosis kategori ringan dianjurkan untuk banyak istirahat, pemberian nutrisi yang seimbang, dan disuntikkan antibiotik untuk kuman Leptospira (Doxicilin).

Kemudian untuk menghilangkan rasa sakit akibat gejala yang timbul, disarankan untuk memberikan obat yang sesuai, misalnya jika sakit kepala, berikan obat penghilang sakit kepala, bila menderita diare, berikan obat diare, dan begitupun pada gejala lainnya. Sedangkan jika penyakit leptospirosis sudah masuk pada kategori yang berat, maka si penderita perlu untuk dirawat lebih intensif dengan bantuan lebih lanjut dari dokter. Pemberian beberapa jenis antibiotik seperti penisilin G, ampisillin, amoksillin, eritromisin biasanya dilakukan untuk kasus seperti ini, dengan tidak lupa menyesuaikan kondisi dan beberapa faktor lainnya.

Pencegahan

Penyakit leptospirosis menular kepada manusia melalui air, makanan, benda atau bahkan hewan itu sendiri yang telah terkontaminasi bakteri leptospira. Pencegahan yang bisa dilakukan untuk menghindari penyakit ini adalah dengan menerapkan pola perilaku hidup sehat dan bersih.

Bagi yang sering melakukan aktivitas di air tawar harus memastikan setiap luka yang ada tertutupi dengan baik. Begitupun bagi yang sering kontak dengan hewan atau tempat-tempat yang rentan terkontaminasi, jangan lupa untuk melindungi dirinya, misalnya memakai sarung tangan, masker, sepatu boot dan sebagainya.

Tak lupa juga mewaspadai hewan-hewan yang dapat menularkan penyakit ini, terutama tikus. Tikus merupakan hewan yang paling sering menularkan penyakit leptospirosis melalui urinnya, kebiasaan tikus berada di tempat-tempat yang kotor menambah perlu diwaspadai akan bakteri yang dibawa oleh hewan yang satu ini.

Apalagi di lingkungan kota Medan ini, populasi tikus kian hari semakin tinggi dan merajalela. Ditambah dengan kondisi kota Medan yang juga kerap menjadi langganan banjir tiap kali turun hujan. Tentunya hal ini sangat rentan bagi masyarakatnya untuk terjangkit penyakit leptospirosis (kencing tikus). Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mewaspadai penyakit ini.***

Oleh : Roma Doni dan Mas Arif


Related Posts :