Selasa, 27 Januari 2015

Bob Sadino : CEO Farm Kem Chicks

“Orang pintar kebanyakan ide, dan akhirnya tidak satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblok punya satu ide dan itu jadi kenyataan.” (Bob Sadino 1939 -2015)

Bob Sadino telah berpulang pada Senin, 19 Januari 2015. Beliau adalah sosok entrepreneur yang memulai usahanya benar-benar dari bawah, ia bukan berasal dari keluarga pengusaha. Bob berwirausaha karena tidak ada jalan lain alias kepepet.

Bob masuk ke Fakultas Hukum UI selama beberapa bulan karena terbawa ajakan teman-temannya. Ayahnya meninggal ketika ia berusia 19 tahun Bob adalah bungsu dari lima bersaudara, ia mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara-saudara yang lain dianggap sudah mapan. Bob Sadino sejak tahun 1958 – 1966 (9 tahun) berkeliling dunia, ia pernah menetap dan bekerja di Djakarta Lloyd, Amsterdam, Belanda serta ia juga pernah menetap di Hamburg, Jerman.

Tahun 1967 setelah menikah Bob dan istrinya memutuskan untuk menetap di Indonesia, dengan membawa dua mobil Mercedez keluaran tahun 1960. Mobil pertama ia jual untuk dibelikan sebidang tanah di Kemang, Jakarta, dan satu mobil lainnya ia gunakan sebagai taksi.

Bob dan istrinya memulai tahap ketidaknyamanannya untuk hidup sebagai orang biasa. Ia berprinsip dalam keluarga laki-laki adalah pemimpin, dan ia pun bertekad untuk tidak jadi pegawai dan menjadi pesuruh orang lain melulu. Sejak saat itu ia bekerja serabutan. Ia pernah bekerja sebagai supir taksi hingga mobilnya (mercedesnya) tabrakan dan hancur, ia juga pernah menjadi kuli bangunan dengan upah Rp 100 per hari.


Gambar 1. Bob Sadino

Suatu hari seorang teman mengajaknya untuk memelihara ayam demi mengatasi depresi yang melandanya, ternyata ayam tersebut menginspirasi Bob. Ia menyimpulkan : “Ayam saja bisa memperjuangkan hidup, jika mau berusaha makan, untuk mencapai target berat badan tertentu, dan akhirnya ayam tersebut bisa menghasilkan telur”. Tentunya sebagai manusia Ia pun sanggup, sejak saat itulah ia memulai berwirausaha.

Karier bisnisnya dimulai sebagai peternak ayam negeri, Bob menjajakan telur ayam dari pintu ke pintu setiap hari bersama istrinya. Dalam satu setengah tahun, ia sudah mendapatkan banyak relasi karena kualitas telur ayamnya bisa diandalkan. Ditambah dengan kemampuannya berbahasa asing, ia berhasil mendapat pelanggan orang-orang asing yang tinggal di bilangan Kemang, tempat tinggal Bob Sadino saat itu. Selama menjadi pedagang telur ayam Bob dan istrinya sering dimaki-maki pelanggan, bahkan ia juga sering dimarahi oleh asisten rumah tangga yang menjadi pembeli telur ayamnya.

Bob Sadino tetap konsisten menjual telur ayam, ia sadar apa pun yang terjadi ia harus memberi servis terbaik kepada pelanggan. Usaha Bob pun berkembang pesat . Ia kini memiliki supermarket. Kemudian ia juga menjual garam, merica dan makanan jadi, ia pun akhirnya merambah ke agrobisnis khususnya holtikultura (tanaman sayur mayur).

Bob Sadino percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diimbangi kegagalan, kariernya sebagai pengusaha tidak semudah yang orang lain pikirkan. Ia jatuh bangun dalam membangun usahanya. Bagi Bob Sadino, uang adalah nomor kesekian, yang penting adalah kemauan, komitmen tinggi, dan berani mengambil peluang sekecil apa pun.

Bob Sadino bilang, “Orang pintar maunya cepat berhasil, padahal semua orang tahu itu impossible! Orang goblok cuma punya satu harapan, yaitu hari ini bisa makan.” Saya juga sepakat Om Bob. Selamat jalan Om Bob Sadino.

Oleh : Bobby Prabawa
Referensi :
Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, Valentino Dinsi, S.E, M.M, MBA, dkk, Lets Go Indonesia, Juni 2005, Cetakan keempat.
Gambar :
1. https://twitter.com/innocentshirt


Related Posts :