Jumat, 02 Januari 2015

Sukarno vs Hatta

Sebagai masyarakat Indonesia, tentulah kita mengenal Sukarno dan Hatta. Sama seperti rakyat kebanyakan kita hanya mengenal Sukarno dan Hatta sebagai Dwi Tunggal, duetnya Indonesia, 2 proklamator yang berhasil mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Namun, tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Sukarno dan Hatta merupakan 2 pribadi yang sangat berbeda, yang sering berseberangan dan bergesekan dalam hal pikiran dan pendapat.

Perkenalan awal Sukarno dan Hatta berawal dari dunia pergerakan. Saat itu Sukarno yang memimpin PNI (Partai Nasional Indonesia) sering menjalin hubungan dengan aktivis kemerdekaan di Belanda, salah satunya Hatta. Ketika Hatta ditangkap pemerintahan Belanda, PNI juga membantu menggalang dana untuk membebaskannya.

Pribadi Sukarno dan Hatta sangatlah berbeda. Sukarno yang sering tampil di depan umum, dengan kharismanya yang luar biasa sangat dikenal sebagai seorang orator ulung, pidato-pidatonya cukup kuat untuk membakar dan menggerakkan massa, ia pun dikenal sebagai Singa Podium. Sebaliknya Hatta bukanlah pribadi yang cukup menonjol dalam hal menggerakkan massa dan berpidato. Perbedaan keduanya tergambar jelas dalam Autobiografi Bung Karno : “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ”. Di sini ia menceritakan pada Cindy Adams mengenai Hatta.


Gambar 1. Sukarno berpidato

“Hatta dan aku tidak pernah berada dalam riak gelombang yang sama. Cara paling baik untuk melukiskan pribadi Hatta ialah menghubungkan dengan peristiwa pada suatu sore, ketika dia dalam perjalanan ke suatu tempat dan satu-satunya penumpang lain dalam mobil itu adalah seorang gadis cantik. Di sebuah tempat yang sepi dan terpencil,ban mobil meletus. Hatta yang masih lajang itu adalah seorang lelaki yang mukanya menjadi merah bila berhadapan dengan seorang gadis. Ia tak pernah menari,tertawa atau menikmati kehidupan. Ketika sang supir kembali dengan bantuan 2 jam kemudian, dia menemukan gadis itu berbaring meringkuk di sudut terjauh mobil itu dan Hatta mendengkur di sudut yang lain. Ah, orangnya memang sulit. Kami tak pernah sependapat dalam suatu masalah.”


Gambar 2. Hatta berpidato

Dari awal masa pergerakan perbedaan-perbedaan itu menjadi jelas. Sukarno yang memiliki pendapat untuk membakar massa, menggembleng massa hingga ke pelosok-pelosok desa agar siap dengan Revolusi suatu saat nanti. Sedangkan hatta memiliki pendapat bahwa kaderisasi adalah hal paling penting, Rakyat harus dididik agar suatu saat nanti sudah siap menjalankan pemerintahan, agar bila pemimpin pergerakan ditangkap atau dibunuh, dunia pergerakan tetap hidup karena adanya kaderisasi. Argumen Sukarno dan Hatta seperti yang dijelaskan Sukarno dalam Autobiografinya:

“Hatta: Konsepsiku didasarkan pada pendidikan praktis untuk rakyat bukan didasarkan pada daya tarik pribadi seorang pemimpin….Kenyataannya sekarang, tanpa pribadi Sukarno, tidak ada partai. Ini akan membuat partai bubar, karena rakyat tidak memiliki kepercayaan kepada partai itu sendiri. Yang ada hanyalah kepercayaan pada Sukarno.

Sukarno: Mendidik rakyat agar cerdas membutuhkan waktu bertahun-tahun, Bung Hatta. Cara yang Bung lakukan baru akan tercapai puluhan tahun.

Hatta: Kemerdekaan memang tidak akan tercapai selagi kita masih hidup. Tapi setidak-tidaknya cara ini pasti. Pergerakan kita akan terus berjalan selama bertahun-tahun.

Sukarno: Dan siapa yang memimpin bung?buku teks? Lalu siapa yang menggerakkan jutaan rakyat untuk berkumpul? Untaian kata-kata?Ini tak akan mengumpulkan siapapun. Bung tidak akan memperoleh kekuatan melalui untaian kata-kata. Belanda tidak takut pada untaian kata-kata. Mereka hanya takut pada kekuatan nyata, yang digalang dari kerumunan massa…. Memang upaya pencerdasan itu akan membuat kita terhindar dari penjara, tetapi juga membuat kita terhindar dari kemerdekaan.

Hatta: Rakyat akan menertawakan Bung Karno bila sekali lagi masuk penjara. Mereka akan mengatakan itu salahnya sendiri. Kenapa Sukarno selalu membuat propaganda Indonesia Merdeka sementara ia tahu bahwa Belanda akan menyetopnya. Dia itu bodoh…

Sukarno: politik adalah machtsvorming dan machtsaanwending yaitu pembentukan kekuatan dan penggunaan kekuatan. Dengan tenaga yang terhimpun kita dapat mendesak musuh ke pojok dan, bila perlu, menyerangnya.Mempersiapkan teori dan memutuskan kebijakan penting dari buku-buku tidaklah praktis. Saya kuatir, Bung, Anda berada dalam khayalan revolusioner.” (disadur dari: Adams,Cindy.2014.Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia(Edisi Revisi).Jakarta:Yayasan Bung Karno)

Hatta berujar “tidaklah cukup jika rakyat hanya bertepuk tangan saja mendengar Sukarno berpidato”. Hal ini menyebabkan Hatta kemudian bersama Syahrir mendirikan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) sedangkan Sukarno membangun Partindo (Partai Indonesia).


(bersambung)

Oleh : Vincent Theonardo
Gambar:
1. http://media-2.web.britannica.com/eb-media/72/111772-004-8A115251.jpg
2. http://www.entoen.nu/media/ANP-2050250.jpg


Related Posts :